Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Maafkan saya mas


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 💐...


"Masss aku mohon yang kuat, bertahan mas" jerit Sofia yang tengah memangku Mahendra.


Tanganya memegang darah segar milik Hendra disana, darah itu tak berhenti keluar mengucur dari sela rambut hitamnya.


Sofia begitu pucat dan bergetar saat menjumpai darah itu, ia tak berhenti menangis sejadi-jadinya disana sambil meminta tolong. Demi keselamatan Hendra yang sudah melemah.


"Sof, kenapa iki?" tanya seorang lelaki paruh baya kepada dirinya.


"Pak, tolong angkat mas e ini. Darahnya begitu banyak" jawab Sofia singkat sambil menunjukkan darah yang begitu banyak ditanganya.


Salah seorang dari mereka berlari untuk mencari bantuan sebuah mobil. Dan sebuah mobil pickup milik seorang penduduk sekitar pun dipinjamkan secara sukarela. Akses desa mereka menuju rumah sakit memnglah sangat jauh, sekitar 30 menit untuk sampai dirumah sakit tersebut.


Beberapa orang terlihat mengangkat tubuh Hendra dan menaikkan segera ke dalam mobil, Sofia pun turut mengantarkan Mahendra ke rumah sakit saat itu. Sofia yang berada di mobil itu, terus menekan aliran darah yang mencoba mengucur tiada henti. Ia berharap Hendra tetap kuat selama perjalanan menuju rumah sakit.


Mereka pun telah tiba di sebuah rumah sakit, dengan cepat beberapa perawat membawa Hendra untuk masuk ke dalam ruangan. Disana Hendra pun mendapatkan tindakan medis dengan secepat mungkin, beberapa menit kemudian salah seorang suster terlihat berjalan keluar menghampiri Sofia disana.


"Mbak anggota keluarga pasien?" tanyanya.


"Iya" Sofia menjawabnya segera, ia ingin mewakilkan orang tua Hendra disana.


"Maaf mbak, kebetulan stock darah yang sama dengan pak Hendra AB+ dirumah sakit ini kosong. Jadi kami masih mencari pendonor untuk dia, karena kondisinya kritis saat ini" jelas suster segera.


"Ambil saja darah saya sus, saya O" ucapnya sambil menyodorkan tanganya ke arah suster.


"Baiklah mari ikut dengan saya mbak" ajak suster.


Ia pun terlihat masuk ke dalam ruangan untuk di ambil daranya. Dengan sedih ia pun mengikuti segala prosedur untuk seorang pendonor, sebuah jarum terlihat masuk ke dalam permukaan kulit tanganya dan darah pun mengalir ke sebuah kantong putih disampingnya.


Mas, aku mohon kamu sanggup melewati semua ini dengan baik. Maafkan aku yang selalu membuat mu susah atas kelakuannya, maafkan aku. pekiknya lirih dalam diam.


Tak terasa air matanya pun jatuh begitu saja.


Sementara beberapa warga desa terlihat menyambangi rumah ke dua guru desa tersebut, mereka adalah orang tua Mahendra.


"Assalamu'alaikum pak Tri, Assalamu'alaikum bu Puput. Teriak beberapa warga desa didepan rumah mereka.


"Wa'alaikumsalam, ini ada apa ya pak. Kok kelihatannya ramai sekali," tanyanya kebingungan.

__ADS_1


Puput pun bergegas mengikuti suaminya sambil mengenakan mukenah karena baru saja selesai sholat, sebagai seorang ibu tak dapat dipungkiri oleh dirinya. Ia sudah memiliki firasat yang tak enak sepanjang hari, dirinya pun ikut mendengarkan beberapa penuturan warga saat itu.


"Begini pak Tri, anak bapak Hendra. Dia tadi dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil pickup milik warga karena keadaannya kritis" salah seorang warga menjelaskan.


Puput yang mendengar hal itu tubuhnya lemas dan terjatuh tepat disamping suaminya. Apa yang menjadi firasatnya sepanjang hari telah terjawab sudah.


"Buk, yaAllah..." Tri dengan sigap meraih tubuh istrinya itu dengan segera.


Sambil dibantu seorang warga, ia membawa istrinya masuk ke dalam rumah dan ditidurkan disofa. Ia dengan segera membuka sebuah minyak untuk diarahkan ke Puput, agar ia tersadar secepatnya.


"Alhamdulillah" ujar seorang warga menjumpai Puput sadar.


"Akhirnya kamu sadar buk, yang kuat. Ayo kita ke Hendra sekarang juga" ajaknya penuh kecemasan sambil mengusap lembut wajah istrinya.


Mereka pun memutuskan untuk berangkat secepatnya menuju rumah sakit tersebut, sambil mengenakan motor miliknya Tri dan Puput menyusuri sepanjang jalan yang gelap dan sedikit berkelok.


Orang tua mana yang tak akan berjuang jika mendapati anaknya tengah kritis berjuang mempertaruhkan nyawanya.


Sementara di kediaman Sumitra, Mahardika yang terlihat sangat tergesa-gesa memasuki rumah tidak sengaja menabraknya dengan keras. Dika sengaja ingin menutupi sebuah darah yang menempel ditangannya beserta baju yang ia pakai.


"Duh, Dika ...jalan yang bener nak" seru Sumitra mendapati Dika yang terburu-buru.


"Eh, tunggu dulu. Ini apa Dika?, darah siapa ini nak" Sumitra memperhatikan beberapa darah dibaju dan tangan Dika saat itu.


"Anu bu, tadi Dika nabrak kucing" serunya sambil berwajah pucat pasih.


Sumitra hanya diam tak menyauti perkataan putranya tersebut, ia membiarkan Dika berlalu dari hadapannya untuk membersihkan dirinya. Dia pun berjalan ke kamar dan menceritakan hal itu kepada suaminya disana, dan menyuruhnya untuk bertanya pada Dika. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan dirinya.


Meski ke dua orang tua mereka adalah orang yang cukup dipandang didesa itu, ayahnya mendidik Dika cukup keras dalam hal kejujuran dan sebuah tanggung jawab. Mereka tak ingin jika putranya hanya menjadi seorang yang pemalas kelak.


"Dik, duduk sini," panggil Prasetyo dengan memasang muka datar.


Dika yang menyadari sikap bapaknya mulai dingin, semua bulu kuduknya tiba-tiba terbangun. Wajahnya seketika pucat, keringat dingin turun membasahi keningnya.


"Enggeh pak," jawab Dika yang sudah duduk tepat dihadapannya.


"Coba ceritakan sejujurnya pada bapak, apa yang sudah terjadi hari ini" cecar ayahnya.


"A-a anu pak" terbata-bata tapi tak satu katapun terucap dari mulutnya.

__ADS_1


Braaaakkk


Tangan Prasetyo menggebrak meja kayu didepanya begitu keras.


Ia sangat paham betul dengan gelagat Dika jika mulai berbohong.


"Ngomong yang bener kamu, anu anu apa!" sahut ayahnya.


"Dika tadi nabrak kucing pak" ia mulai berkelit.


Plaaak Plaaak


Tamparan di kedua pipinya melesat dengan cepat tanpa henti.


"Pak ..." ucap Sumitra ingin membela Dika.


Tangan Prasetyo nampak diangkat depan Sumitra, ia berharap istrinya kali ini tidak ikut campur dalam masalah ini. Pasalnya ia sudah mengetahui semua kabar burung mengenaik Dika hari ini, tak khayal kabar itu begitu cepat sampai ke telinganya karena Prasetyo adalah kades didesa ini.


Flashback Prasetyo.


💌 pesan singkat : Assalamu'alaikum pak, hari ini mas Dika terlibat adu pukul dengan anak pendatang didesa ini, lukanya cukup serius dan sekarang dibawah menuju rumah sakit.


Pesan tersebut disampaikan Dirga, seorang lelaki kepercayaan Prasetyo. Namanya adalah Dirga Santoso, berusia sekitar 25 tahun dan memiliki tubuh yang sedikit berotot. Dirinya juga salah satu pemuda desa pilihan bapak Dika karena memiliki prestasi yang cukup baik. Dirinya didapuk untuk mengemban tugas mengawasi tindak tanduk Dika selama di luaran. Dan Dirga mengemban tugas itu dengan baik, meski seperti itu Dirga juga menutupi beberapa sikap buruk Dika selama ini kepada keluarganya.


Ia selalu menimbang dengan baik, setiap ulah Dika yang ingin ia sampaikan kepada bapaknya. Prasetyo yang mengetahui kabar itu, darahnya mendidih seketika. Bagaimana mungkin didikannya yang begitu keras selama ini masih kurang diterima dengan baik oleh Dika.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2