Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Jenguklah dirinya


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🎀...


Setelah mereka bertukar cerita dan pikiran malam itu, mereka kembali beristirahat dalam sel pada tempatnya masing-masing.


Tapi tidak dengan Dika, dia terus terjaga sepanjang malam karena tengah kepikiran sang istri dirumah.


Apa diriku tak lagi berguna untukmu, sehingga kamu tak menjenguk diriku sebentar saja disini. rintih Dika sambil menatap langit kamar sel.


*


*


*


"Nak jenguklah dia dipenjara, dia masih suamimu. Jangan perlakukan dia seperti ini." tutur Hartono.


"Bapak tidak perlu mengaturku seperti itu!" elak Gendhis.


"Bapakmu ini sudah bau tanah, bahkan bapak tidak memastikan sisa umur ini sampai kapan akan terus menemani mu nak!. Jadi sekali saja, tolong dengarkan bapakmu yang sudah tua ini nak" pinta Hartono memelas sambil memegang lutut Gendhis.


Gadis itu tak merasa iba sedikitpun dengan permohonan bapaknya kali itu, ia malah menendang badan bapaknya dengan keras.


Orang tua mana yang tak menginginkan anaknya bisa berubah lebih baik lagi, apapun pasti akan ditempuhnya. Tetapi, jalan yang dipilih Hartono kali ini adalah sebuah jalan keputusasaan. Di yang tak tau lagi harus berbuat apa demi merubah anak semata wayangnya itu, hanya bisa mengiba dihadapannya.


Dia benar-benar membuatku jijik!, kenapa Tuhan tidak adil denganku. Disaat anak-anak lain diluar sana dapat kehidupan yang jauh lebih layak untuk menikmati hidup. Tidak denganku, harus terus terkungkung disini dengan semua keadaan buruk ini. Bukanya malah membaik, keadaan tambah kacau disini !!" gerutu Gendhis sambil mengusap seluruh kakinya yang telah disentuh oleh Hartono bapaknya.


Bertepatan dengan ucapanya itupun, langit secara tiba-tiba terlihat gelap mendung tanpa hujan. Sebuah petir dan kilat begitu panjang diatas langit, suaranya sangat menggelegar diatas sana. Tapi suara itu rupanya tak membuat langkah kaki Gendhis gentar sedikitpun meninggalkan rumah dan tanpa kata maaf untuk bapaknya.


Sepanjang jalan ia menggerutu tak jelas dan tak karuan sambil sesekali melempar sebuah batu kerikil kecil ke tepi jalan. Kali ini, ia yang tak sadar sedang berjalan sedikit menengah ke arah tengah jalan tiba-tiba dari arah belakang terdapat sebuah mobil box yang telah melaju kencang sambil membunyikan suara klakson berulang kali kepada dirinya.


"Woy minggir ..."


"Woy ...!!" Suara teriakan beberapa orang yang tengah berada di pangkalan ojek.


Rupanya mobil box tersebut telah kehilangan kendali disana, karena mengalami rem blong. Gendhis yang keras kepala dan tak ingin menoleh sedikitpun ke arah sopir mobil box tersebut dengan cepat tubuhnya tertabrak disana.

__ADS_1


Tubuhnya dengan cepat terpantul ke sebrang jalan lainnya. Akibat sebuah serudukan kencang dari mobil tersebut, ia mengalami luka yang cukup parah dikepala beserta wajahnya.


Darah segar mengalir deras dari ujung kepalanya, dan mulutnya sedikit terbuka dan mengeluarkan darah juga dari sela bibirnya.


Beberapa orang pangkalan ojek yang mengenali Gendhis disana, segera memberikan pertolongan pada putri Hartono tersebut. Sambil tergopoh-gopoh, semua orang menggotong tubuh Gendhis yang tak lagi sadarkan diri itu.


"Assalamu'alaikum!"


"Pak,"


"Pak Har!"


"Pak" seru seorang warga yang terlihat telah berlarian menghampiri rumahnya.


"Iya pak," ucap Hartono sambil membukakan pintu.


"Gendhis pak"


"Gendhis" lelaki tersebut sambil menunjuk jalan raya dan mengatakan nama Gendhis dengan terbata-bata.


Sambil mengatur nafas dengan baik, lelaki itu mencoba menyampaikan kembali perkataanya yang tadi lebih baik lagi.


"Tidak mungkin itu anakku pak!" rintih Hartono sambil berpegangan kuat diambang pintu karena tak kuat menahan tubuhnya yang secara mendadak lemas.


"Sabar pak Har, sabar. Yang kuat, Gendhis lagi bawa ke rumah sakit saat ini." tuturnya.


Belum sampai kakinya menginjak dirumah sakit untuk melihat putrinya, langkahnya kali ini harus terhenti kembali saat tengah di tuntun perlahan oleh seorang warga tadi. Kali ini datang lagi seorang warga menghampiri mereka berdua dengan wajah datar sambil menggelengkan kepala dengan lemas.


"Ada apa ini," tanya Hartono bingung sambil terus memperhatikan mimik muka keduanya.


Lelaki yang tengah memapah tubuhnya tadi dengan sabar menuntun lelaki tua itu itu kembali duduk dikursi kayu miliknya depan teras.


"Apa kita tidak jadi ke rumah sakit?" seru Hartono yang cemas, tapi tak sedikitpun jawaban ia temui.


Bertepatan dengan rasa cemas dirinya, sebuah mobil ambulance tanpa membunyikan sirine mobilnya tengah terparkir didepan rumahnya. Masih dalam keadaan yang sama, wajahnya terlihat bingun menatap mobil tersebut.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, mobil itu dibuka bagasinya dan mengeluarkan sebuah kerenda bertutupkan kain hijau.


Hartono mulai tersadar disana, kenapa dua orang lelaki yang berdiri disampingnya tadi sama sekali tak bereaksi sedikitpun ketika ia bertanya kepadanya.


"Gendhis, apa itu Gendhis anakku." tubuh rentanya, meraba halus kain bewarna hijau itu sambil gemetar.


"Kami telah serahkan jenazah atas nama saudari Gendhis kepada bapak, kami pamit undur diri pak" tutur seorang supir pengantar jenazah.


Flashback Prasetyo.


Prasetyo yang tengah bekerja dikantor kelurahan pun sangat terkejut dengan musibah yang di alami oleh menantunya itu, karena merasa iba pada Hartono dirinya lantas mewakili ke rumah sakit dan mengurus segalanya untuk sang menantu tersebut.


Dirinya memberikan perlakuan terbaik selama jenazah Gendhis tiba dirumah sakit, bahkan Prasetyo juga tidak segan mengurus segala biaya administrasi milik Gendhis disana. Bagi ia dan Sumitra, Gendhis sudah menjadi putrinya sendiri selama ini. Meskipun tak sekalipun keduanya mendapatkan hormat dari gadis tersebut dengan baik.


"Pak Pras," sahut Hartono yang tengah menangis.


Dirinya terkejut melihat Prasetyo telah turun dari mobil ambulance tersebut.


"Iya pak, tadi saya yang mewakili bapak dirumah sakit untuk Gendhis" timpal Prasetyo hangat.


Meskipun ke duanya sempat terlibat permasalahan, tapi disaat seperti ini rasanya tak pantas jika Prasetyo tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Dengan segala kerendahan hatinya, ia pun mencoba mengalah dan merangkul kembali besannya tersebut.


Prasetyo pun memposisikan dirinya jika tengah berada diposisi Hartono saat ini. Pasti akan hancur sekali hatinya jika ditinggalkan anak semata wayangnya dan tanpa seorang teman untuk menemani dirinya.


"Terimakasih pak Pras, saya sangat berterimakasih" ucap Hartono sambil mengusap air matanya.


Tak lama dari situ, jenazah Gendhis lalu dimakamkan di pemakaman umum milik desa setempat. Makan putrinya kali ini pun berdampingan dengan sang makam ibu.


Hartono kali ini benar-benar tak memiliki siapapun dirumah, ia hanya seorang diri dan sebatang kara. Setelah sepeninggal anak dan istrinya itu.


"Yang sabar pak Har, saya beserta istri saya akan selalu ada buat bapak. Bagaimana pun kami sudah menganggap anda menjadi bagian keluarga kami selama ini. Meskipun Gendhis telah tiada, bapak tetaplah keluarga kami" tutur Prasetyo dengan ramah menghibur lelaki tua itu yang tengah bersedih.


...----------------...


Bersambung ❤️

__ADS_1


__ADS_2