
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🥀...
Hingga keesokan harinya, Dika yang masih diselimuti keraguan dihatinya memutuskan untuk menemui Sofia dirumahnya untuk menanyakan apa yang tengah ada didalam pikirnya.
"Sof, apa kamu seang mengandung anakku?" tanya Dika tanpa rasa malu.
Tapi feeling Dika kali ini begitu kuat, jika Sofia tengah berbadan dua.
Tatapan mata mereka saling bertabrakan di sana, tapi Sofia lebih sinis menatap mata Dika.
"Beraninya kamu kesini mas!" ucap Sofia kesal.
"Jawab pertanyaan ku Sof!"
"Tidak ..." kelit Sofia.
"Kamu berbohong kan?," paksa Dika sambil menarik tangan Sofia.
"Lepasin kataku! mas!" teriak Sofia.
Entah kapan Dika bisa berubah, dirinya masih tetap saja mengusik kehidupan Sofia setelah keluar dari penjara. Dengan sekuat tenaga, ia masih berupaya untuk membujuk rayu gadis tersebut agar mau mengakui semuanya.
"Jika memang benar adanya!, tinggalkan Hendra . Kembalilah bersamaku, akan aku nikahi dirimu. karena itu adalah anakku." jelas Dika .
Sofia terus berusaha untuk melepaskan dirinya dari dekapan Dika. Dia sungguh tidak ingin jika identitas anak yang telah ia kandung sampai terbongkar dihadapan Dika.
"HENTIKAN!"
Dari arah belakang Dika, Hendra sudah berteriak sekencang mungkin dengan wajah merah padam karena tak terima melihat Sofia diperlukan seperti itu.
Dika yang terkaget dengan kehadiran Hendra di sana, lalu menghentakkan tangan Sofia dengan keras. Kali ini, Dika lebih memilih untuk pergi dari sana dari pada harus terlibat baku hantam dengan Hendra lagi.
"Kemarikan tanganmu," ujar Hendra meraih tangan Sofia untuk membantunya bangun dengan perlahan.
"Sudah mas ingatkan berapa kali ke kamu, untuk tidak keluar dulu dari rumah sampai hari pernikahan kita besuk" jelas Hendra mengulangi perkataan dirinya kemarin lusa.
"Maafkan Sofia mas," gadis itu tertunduk lemas.
"Sementara ini, mas akan yang berkirim makanan untuk kamu dan kakek dirumah" serunya sambil menenteng 2 kantong makanan.
__ADS_1
Setelah membantu Sofia berdiri, Hendra lantas mengantarkan calon istrinya tersebut hingga sampai depan rumah. Ia seolah ingin memastikan bahwa Sofia telah aman sampai didalam rumahnya.
Kemudian ia pun pergi dari sana untuk kembali membantu kedua orang tuanya yang tengah bersiap untuk menyambut acara esok hari.
*
*
*
Berbeda dengan Dika, ia sangat terlihat kesal pada dirinya sendiri karena gagal untuk memastikan kepada Sofia. Sepanjang jalan ia hanya sibuk menendang beberapa batu yang ada di jalanan dan terus menggerutu.
"Pak ... pak ... tolong pasang itu lebih naik sedikit" suara Tri terdengar jelas olehnya.
Dika yang terhenti tepat didepan rumah Hendra tengah melihat beberapa dekorasi pernikahan untuk Hendra dan Sofia esok hari. Semua orang tampak sibuk disana,dengan persiapan mereka masing-masing.
Sampai suara seseorang mampu memecahkan lamunannya disana.
"Nak Dika, mari masuk. Apa sedang cari Hendra ? " ujar Puput yang baru saja pulang dari pasar dengan tetangganya.
"Duh buk , besuk mau punya hajatan jagan deket-deket sama anak itu. Nanti ketiban sial acaranya." tutur bu Badriah gamblang.
Dika menatap licik wanita paruh baya itu.
"Perduli setan dengan kalian semua, beraninya menyebutku sebagai pembawa sial. Apa aku harus kirimkan sebuah kesialan yang begitu nyata untuk kalian tonton hari esok!" sumpah serapah Dika.
Karena kesal Dika kali ini kembali menendangi kerikil-kerikil kecil sekencang mungkin ke arah pematang sawah.
"Sedang apa disitu kamu, ayo pulang!" teriak Prasetyo.
"Bapak!" ucapnya terkejut.
"Ayo naik!, jangan menatapku seperti itu" perintah Prasetyo.
Dika yang masih kesal, lalu menghampiri dirinya dan segera naik ke atas motor. Sementara Prasetyo dengan naluri kebapakannya tidak ingin jika sang anak harus merasa terluka atau bertindak di luar batas lagi karena menyaksikan persiapan pernikahan Sofia dan Hendra esok hari.
Ia yang begitu paham betul bagaimana sikap anaknya itu, membawa jauh-jauh Dika dari sana. Semenjak kepergian menantunya Gendhis, dan kematian nenek Sofia keluarga Prasetyo memang terlihat sedikit menutup diri dari warga.
Semua aktifitas mereka sedikit tertutup dari publik, bukan mereka menjauh dari para warga. Hanya saja mereka ingin memberikan para warga sedikit jeda dalam berpikir agar tidak selamanya memandang keluarga mereka dengan sudut pandang negatif.
__ADS_1
"Eh, sudah pulang semua. Ayo makan" sambut Sumitra dengan senyuman hangat yang tengah sibuk menata makanan diatas meja.
Prasetyo yang baru saja kembali dari dalam dapur untuk membasuh kedua tangannya sedikit terkejut dengan menu yang dihidangkan istrinya kali ini. Tidak terlihat ikan ataupun lauk pauk melimpah diatas meja itu , hanya sebuah sayur bayam bening dan sebuah sambal terasi.
"Kamu nggak belanja buk?, apa uang yang aku berikan sudah habis?" tanya Prasetyo kebingungan menatap meja. Perempuan itu hanya menggeleng dengan terus menghidangkan nasi hangat.
"Lalu?" tanya Prasetyo yang kesekian kali.
"Aku memang tidak belanja pak, aku cuma petik bayam saja dipekarangan belakang." sahutnya kali ini, dengan wajah masam dan dilipat-lipat.
"Ada apa denganmu?" ujar Prasetyo.
"Ibu kesal !!" nadanya terlihat meninggi sambil terus memainkan nasi dalam piringnya.
"Tadinya ibu juga pergi ke pasar untuk berbelanja, tapi sesampainya disana ..."
Flashback Sumitra.
"Untunglah buk, Hendra gerak cepat buat nenangin hati Sofia" ucap bu Badriah tetangga dekat rumah Hendra.
Puput hanya tersenyum tanpa memberikan balasan perkataan sedikitpun.
"Kalau sampai jatuh ke anak pakades, saya sedih membayangkan nasib gadis pilu itu buk. Dika kan kasar, lihat saja dirinya kali ini baru keluar dari penjara dan ditinggal mati dengan istrinya."
Setelah Sumitra mengungkapkan semua isi hatinya, Prasetyo mencoba menenangkan ia disana.
"Sudahlah bu, mungkin hanya ini yang akan kita tuai hingga beberapa lama kedepan. Tapi bapak selalu yakin, jika setelah badai pasti akan ada pelangi nantinya. Kita berdo'a saja yang terbaik untuk keluarga kita" ujar Prasetyo.
"Kalau kamu sudah makan, tolong antarkan ini ke bapak mertuamu Dika" suruh Sumitra, Dika hanya mengiyakan permintaan ibunya itu tanpa mencela sedikitpun.
Setelah ia menyelesaikan makanannya, ia pun segera bergegas ke rumah Hartono saat itu. Sepanjang jalan, ia hanya terus melamun sambil memainkan rantang makanan yang sudah disiapkan oleh Sumitra.
Memang semenjak kepergian Gendhis, Hartono diperhatikan betul oleh keluarga Prasetyo. Semua ini mereka lakukan demi menjaga tali silahturahmi yang nantinya akan tetap terjaga meski anak-anaknya tak lagi bersama.
"Sampaikan salam bapak untuk ibu bapakmu dirumah ya" ujar Hartono pada Dika.
Mantan menantunya itu hanya menatapnya dengan diam tanpa kata dari ujung pintu kayu milik Hartono tanpa berucap sedikitpun.
Dalam benak Dika kali ini, tak ada sedikitpun terbesit orang lain disana. Sepanjang hari ia hanya terus memikirkan Sofia.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung ♥️