Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Berubahlah nak!


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🌒...


"Ibuk ... buk, tolong dengerin Dika Bu. Dika mohon bu..." teriak Dika histeris ketika polisi dengan cepat mengeluarkan sebuah borgol dan mengikatkannya ditangan Dika.


"Buk ..."


"Buk ..."


"Ibuk ..."


Berulang kali dirinya merintih dan merengek disana dengan menyebut nama ibunya, tapi Sumitra yang sudah bulat dengan pendiriannya terus melangkahkan kakinya dari ruangan itu. Dan suara Dika pun semakin lama, tak terdengar olehnya.


Hati Sumitra begitu remuk tak tersisa, entah menjadi berapa keping bagian. Dia hanya berjalan seperti boneka tanpa nyawa. Bibirnya terdiam tanpa senyum, dan tatap matanya kosong tak berarti.


"Buk,mana Dika!" tanya Prasetyo menegaskan keberadaan putranya.


"Buk, mana anakmu?!"


"Buk!!" teriak Prasetyo.


Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar miliknya, dan segera naik ke atas ranjang. Sambil menatap ke arah jendela, dirinya pun terus memandangi langit yang mulai menghitam gelap meninggalkan sang mentari.


"Aku dari tadi sudah memanggilmu berulang kali buk, tapi kenapa dengan kamu ini. Mana Dirga!" nada tinggi Prasetyo mengiringi pertanyaannya.


"Dia sudah dipenjara!!" teriaknya dengan di iringi derasnya air mata membasahi pipinya.


Mendengar perkataan Sumitra, Prasetyo pun dengan lemas terduduk diujung ranjang.


"Pilihanmu sudah benar buk, bapak dukung sepenuhnya" ujar Prasetyo.


"Bukan pilihanku, tapi ini perintahmu pak. Dengan berat hati aku serahkan anakku ke kantor polisi. Ibu mana yang tega menyerahkan buah hatinya kedalam sel penjara, bagaimana mungkin itu bisa dilakukan oleh seorang ibu. Tapi, aku tak punya pilihan lain selain itu. Lebih baik aku relakan dia mendekam didalam sana, tapi masih dengan nyawa yang utuh. Dari pada aku membantah perintahmu, aku harus kehilangan anakku itu untuk selamanya ditanganmu pak!!"


Wanita itu kini terlihat runtuh dengan segala ketegaran yang sudah ia bangun sedari tadi, didalam kamar keduanya terlihat menangis satu sama lain.


*


*

__ADS_1


*


"Lailahaillallah ..." seru beberapa warga yang menandu jasad nenek Sofia.


Beberapa orang lainnya sibuk menaburkan bunga disepanjang jalan, sampai tiba ke tempat pemakaman desa setempat.


Proses pemakamannya pun terlihat berjalan dengan lancar, langit yang bewarna hitam pekat tak juga kunjung membasahi bumi. Tetapi setelah jasad si mbah sudah dikebumikan dan tertutup sempurna dengan tanah, hujan pun turun begitu deras seketika.


Dan beberapa orang diantaranya terlihat mencari tempat untuk berteduh.


"Ya Allah, langit seakan tahu harus berbuat apa yah. Dari tadi mendung gelap, tapi tak kunjung juga hujan turun. begitu selesai disemayamkan, baru hujan deras seperti ini!" tutur seorang warga ke warga yang lain.


"Kuasa illahi, siapapun tidak akan pernah tau!" sahut warga lainnya.


Hendra yang ikut menyemayamkan jasad si mbah, turut lega karena dia juga menjadi saksi bahwa lagitpun turut merestui dengan baik kepulangan nenek dari Sofia tersebut.


Sementara dirumah, Sofia masih tak berhenti menangis. Matanya terlihat seperti orang linglung dalam rumah. Dan bibirnya terkunci rapat disana.


"Nak, istirahat dulu. Dadi kemarin kamu sama sekali belum tidur." bujuk kakeknya yang tengah duduk disebuah kursi kayu diatasnya.


Sofia menggelengkan kepalanya.


"Assalamu'alaikum!" ucap Hartono didepan pintu sambil membawa tongkat kayu miliknya.


Dia sepanjang jalan terus memegang tangan Gendhis supaya kali ini ia mau untuk datang ke rumah Sofia. Hartono yang selalu teringat akan kebaikan gadis itu, turut merasakan duka yang mendalam bagi Sofia dan kakeknya.


"Mari pak Har, masuk" sambut Puput dipintu.


"Ayo masuk!" ajak Hartono yang kali ini sedikit meremas tangan Gendhis.


"Iiih, pak!!. Apaan si, Gendhis disini aja" gadis itu dengan kesal sambil menghentakkan ke dua kakinya ke tanah.


Kelakuan Gendhis yang sangat tidak menghargai suasana berkabung disana, akhirnya mendapatkan hujatan dari beberapa tetangga dekat Sofia.


"Kamu tuh ya, didalam lagi suasana berkabung. Ini malah kayak orang kegatelan diluar!, kalau dari awal nggak mau ikut jangan ikut kenapa" ujar bu Hartini.


Wanita yang memiliki tubuh padat dan berisi itupun, melayangkan sebuah pandangan yang begitu tajam ke arah Gendhis.

__ADS_1


Bagi dia, ibu mana yang akan sudi jika memiliki putri seperti Gendhis.


"Bapak sudah minta tolong sejak dirumah, ayo kita masuk" ajaknya lembut.


Gubrak!!!


Akibat tolakan dari Gendhis, secara tidak sengaja Hartono sedikit terpelanting jatuh tepat dihadapan pintu rumah Sofia.


Sofia yang menyaksikan kejadian pilu itu, segera berdiri tegak dan membantu tubuh Hartono bangun kembali disana. Ia yang teringat akan si mbah, yang mendapatkan perlakuan yang tak jauh berbeda dari Hartono dengan segera memaki gadis tersebut.


"Memang yah, Tuhan itu sangat adil. Bahkan melebihi keadilan manusia, lihat tingkahmu ini sungguh tak jauh berbeda dengan kelakuan suamimu!. Aku yakin orang tua kalian berdua telah mendidik kalian dengan baik, hanya saja Tuhan lebih mengirimkan iblis terbenam dihati kalian kan?!. Suamimu telah berani merenggut paksa nyawa si mbah, lantas kamu?. Lihat dirimu baik-baik, dia adalah bapakmu orang tuamu. Tidak sepatutnya kamu perlakukan dia di sisa usianya seperti ini. Anak macam apa kau ini hah?, apa dirimu terlahir dari batu!. Sampai sedikit hati dan kebaikan saja tak kau miliki" umpat Sofia kali ini lebih menyakitkan kepada Gendhis.


Seorang gadis yang selalu disepelekan oleh Gendhis, yang selalu mendapatkan ketidak Adilan dari suami Gendhis. Kini kian hari beranjak lebih berani dalam menyuarakan keadilan bagi dirinya dan untuk orang disekitarnya.


Gendhis pun melenggang pergi begitu saja dari rumah Sofia. Tanpa harus mengajak bapaknya pulang.


"Masuk pak, biar nanti Sofia saja yang akan antarkan bapak pulang!" tegas Sofia sambil menuntun tubuh tua Hartono.


"Maafkan dia ya nak, bapak sangat malu kepadamu" ujarnya sedih.


"Tidak pak!, bapak tidak perlu meminta maaf. Justru Sofia yang harusnya meminta maaf pada bapak, karena tengah lancang mencaci maki Gendhis dihadapan bapak. Niat Sofia tidak buruk, niat Sofia baik. Sofia ingin dia segera berubah dan dapat merenungi setiap kesalahannya. Maafkan Sofia!" setiap kata yang terlontar sedikit gemetar.


Hartono dengan tulus mengusap kepala Sofia, dan menggelengkan kepalanya untuk menimpali permintaan maafnya.


"Mari pak, di minum dulu" Puput terlihat memberikan segelas air putih untuk disuguhkan kepada tamu Sofia.


Dari kejauhan, Hendra beserta sang ayah telah tiba dirumah Sofia kali ini. Dengan membasuh ke dua kakinya, mereka pun sekarang tengah berkumpul diruangan utama rumah itu.


"Lancar pak?" tanya Puput.


"Alhamdulillah," serunya.


"Pak, Hartono. Bagaimana kabarnya pak?" sapa Hendra dengan santun pada lelaki paruh baya itu.


"Baik, nak baik."


Ketika semuanya asyik berbincang, Sofia malah masih asyik dengan ekspresi datarnya. Entahlah, semenjak kepergian neneknya seringkali ia berubah-ubah sikap secepat kilat.

__ADS_1


...----------------...


bersambung ❤️


__ADS_2