
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya💮...
"Mas, cepat bangun ...!. Pergi sana cari uang." suara Gendhis terdengar menggelegar diseliruh ruangan.
Tapi mata Dika masih saja terpejam dan tak terbuka sedikitpun. Sementara Gendhis sibuk menyeret selimut yang tengah menggulung di tubuh Dika.
"Aaaaaaah, berisik!" umpat Dika yang masih meneruskan tidurnya.
Byurrrr
Tanpa segan satu ember air penuh Gendhis siramkan seketika ke muka Dika.
Nah, bangun kan!. Lihat nih jam berapa masih aja enak-enakan tidur kamu mas!. Cari duit, duiiiiit. Emang aku mau kau kasih makan rumput hah?. Enak aja" Gendhis melanjutkan semua omelanya tanpa henti.
Dika masih duduk sambil mengusap wajahnya dengan cepat, nafasnya terdengar tak beratur karena sebagian air itu tertelan dan masuk secara paksa kedalam lubang hidungnya.
"Dasar wanita tak tau diuntung kamu!, minggir!" serang Dika.
"Dengar ya, jangan berani pulang kesini kalau kamu tak dapat uang sepeserpun hari ini !!!" teriak Gendhis.
Dika yang sudah sangat kesal mendapati sikap istrinya yang tak pernah menghargai dirinya sedikitpun lalu bergegas mandi dan bersiap.
Sementara Hartono yang masih sakit didalam kamar, tengah berjuang sendiri untuk memulihkan keadaanya. Dengan sisa beberapa obat-obatan yang waktu itu dibelikan oleh Hendra, dia mencoba meminumnya 3 hari sekali demi menghemat obat tersebut. Tak jarang juga ia harus berpuasa karena dirumah tak ada sedikitpun makanan. Hanya ada air putih saja untuk mengganjal semua kelaparan yang melandanya.
"Ini lagi, udah tua masih aja nyusahin!. Kapan si bisa nyenengin anaknya. Dari dulu bakar banget hidup susah!!" maki anaknya Gendhis.
Bukanya merawat ayahnya sepenuh hati, ia malah memaki tanpa ampun lelaki tua tersebut.
🖤
Tin tin ...
Suara klakson motor Dirga membuat langkah Dika terhenti ditepi jalan sawah.
"Mas," sapa Dirga sopan.
__ADS_1
Sofia yang berada dibelakang Dirga pun juga menyapa dirinya dengan senyuman.
"Sialan!, berani-beraninya dia sentuh Sofia" tangan Dika mengepal penuh emosi.
Kali ini, dia sudah tak fokus lagi untuk mencari pekerjaan dan uang. Semua wacana itu terpaksa tersingkir dengan mudahnya ketika dirinya tengah dibakar api cemburu.
☎️"Aku tunggu ditempat biasa, cepetan kesini kalian!" suara Dika.
Ia pun mengumpulkan semua temanya disebuah gubuk yang biasa mereka gunakan untuk mabuk-mabukan.
Beberapa temanya sudah berkumpul disana, dan Dika pun dengan cepat menyusun siasat jahat untuk Dirga dan Sofia hari ini. Ia yang tak pernah jerah karena semua ulahnya, terus mengulanginya lagi dan lagi.
Obsesinya yang begitu besar kepada Sofia membuat ia tak bisa melepaskan gadis itu dengan mudahnya. Dirinya yang sudah beristri pun masih saja disibukkan untuk menghabiskan waktunya memikirkan Sofia.
Tiba-tiba terdengar suara Rara menyapanya yang tengah berkumpul disebuah gubuk. "Mas Dik," ucapnya sambil tersenyum.
Gadis cantik yang mengenakan hijab ini adalah adik dari Rino, yang tak lain juga teman Dika. Memang keduanya jarang sekali terlihat bersama, tapi hubungan keduanya sejauh ini cukup baik.
"Weeh, mangsa tuh mangsa," ujar teman-teman Dika.
"Nggak usah ngaco!. Fokus sama rencana kita tadi" tetap saja ucapan beberapa temannya itu tak bisa menggeser posisi Sofia dihatinya.
Kedua temannya itu akhirnya menuju pasar dan mencari-cari keberadaan Dirga disana. Mereka kali ini bertugas untuk merusak kabel rem motor milik Dirga tanpa sepengetahuannya. Dika yang sudah hafal betul bagaimana cara Dirga mengendarai motornya, ia pun mengambil langkah sedemikian rupa untuk mencelakainya.
Setelah Fino dan Bagas telah selesai menjalankan aksinya. Mereka berdua pun memberi kabar pada Dika jika tugasnya telah berjalan dengan baik. Ke dua temanya ini adalah teman satu desa Dika, memang banyak pemuda desa yang sering menemani dirinya untuk minum dan bermabuk-mabukan.
Tapi mereka semua mendekati Dika hanya karena tergiur dengan uang Dika saja.
"Biar tau rasa!, kali ini kamu nggak bakal bisa lepas dari maut!" ucap Dika penuh kebahagiaan dan tawa licik.
Saat Dirga sudah mengantar Sofia ke atas ruko, ia pun dengan santainya menaiki motor tersebut tanpa firasat buruk apapun. Dengan khas Dirga, ia pun membawa laju motor itu secepat mungkin dijalanan beraspal.
Ketika dirinya melaju kencang, sayang tiba-tiba sebuah truk datang dari arah berlawanan menikung dengan tajam dihadapannya. Maksud hati Dirga ingin menghindar dan menginjak rem motornya dengan cepat pun tak bisa ia kuasai dengan sempurna.
Ciitttt Brakkkk
__ADS_1
Sebuah decitan rem terdengar begitu menyakitkan ditelinga, dan terlihat sebuah percikan api di ban truk besar tersebut.
Tubuh Dirga terpelanting keras ke bahu jalan, dan helm yang ia kenakan pun harus terlepas dengan mudah. Karena memang waktu ia mengendarai motor itu, helmnya belum sempurna terkunci rapat.
Tampak darah mengalir segar membasahi rambut Dirga saat itu, dirinya pun dalam sekejap kehilangan kesadaran. Beberapa warga sekitar yang juga melintas dijalanan tersebut dengan cepat mengupayakan untuk membawa Dirga secepatnya ke rumah sakit.
Karena saat mendapati kondisinya, Dirga sudah tak dapat bertahan lebih lama lagi.
Dengan kendaraan seadanya, Dirga akhirnya dibawa menggunakan motor oleh 2 orang pengendara lainnya. Tubuhnya di pangku oleh salah seorang pengendara motor itu.
Saat dirinya sampai dirumah sakit, beberapa perawat disana dengan sigap menyambut tubuh Dirga dan memberikan penanganan terbaik.
Didalam ruangan yang dingin dan tak bersuara itu, Dirga kali ini harus berjuang bertahan hidup dengan bantuan sebuah alat disana. Terlihat sesekali dokter memberikan alat pacu jantung ke dada Dirga, atau yang biasa disebut pacemaker dalam dunia kedokteran.
"1,2,3." seru seorang dokter yang bertindak untuk memegang alat pemacu jantung tersebut.
Berulang kali jantung Dirga harus dipacu dengan alat tersebut, sampai tiba saatnya dimana sebuah alat kecil berbunyi dengan cepat dan menunjukkan sebuah garis lurus disebuah layar monitor.
Tapi dokter tersebut masih terlihat berjuang untuk yang terakhir kalinya, tetapi semua usaha itu harus berujung sia-sia. Karena tubuh Dirga menolak alat tersebut dan ia tetap memilih untuk menutup matanya rapat-rapat disana.
Sementara masih terlihat darah segar mengucur deras dari kepalanya, Dirga yang sedari tadi sudah berjuang sekeras mungkin untuk bertahan. Kali ini harus menyerah dengan sebuah takdir yang sudah dituliskan untuknya.
Awan terlihat gelap gulita dan langit pun menyambut kepergiannya dengan pilu, hujan terlihat turun dengan begitu deras mengiringi kepargianya kali ini. Dirga adalah seorang anak yatim piatu yang memang sedari kecil hingga dewasa harus tumbuh besar disebuah panti asuhan yang terletak tak begitu jauh dari desa.
Sosoknya yang begitu baik, dan penuh prestasi saat itu mempu membuat hati Prasetyo terpikat akan hadirnya. Dia tak pernah terlibat permusuhan dengan satu orangpun didesa, dirinya yang selalu rendah hati selalu disenangi oleh beberapa warga desa yang mengenal baik dirinya.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
__ADS_1
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih