
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya🍃...
Kilat-kilat langit mulai bersambut diatas langit, dan suara gemuruh guntur pun bersambutan.
"Lebih baik aku segera pulang saja" ucapnya sambil membawa sepotong daun pisang untuk menutupi kepalanya dari derasnya air hujan.
Kali ini, kedatangan Sofia memang sudah ditunggu Dika disebuah gubuk tua dimana Sofia dulu mendapatkan perlakuan bejatnya.
Dika pun mengikutinya dari belakang dan mengendap-endap. Tak banyak orang lalu lalang dijalanan desa waktu itu, karena hujan begitu deras mengguyur desa.
"Aakh, emb, emb. emmmb" pekik Sofia di tengah derasnya hujan.
Srrkkkkkk
Tubuhnya pun diseret dengan begitu cepat oleh Dika yang saat itu memakai jas hujan dan menutupi wajahnya.
"Lepasin, lepasin aku ...Tolon ..." jerit Sofia meminta tolong tapi harus terhenti akibat bekapan tangan Dika.
Sementara Sofia terus memukuli dada bidang milik Dika untuk melakukan pembrontakan.
Dika akhirnya memutuskan untuk menyumpal mulut Sofia dengan sapu tangan, dan kedua tangannya terikat sempurna dengan sutas tali.
"Teriak yang kenceng, biar orang pada nolongin kamu!" tegas Dika menatap Sofia kesetanan.
Ke dua mata Sofia membulat sempurna ketika mendapati wajah Dika dihadapannya, kakinya terus berontak mencoba menendang tubuh gempal Dika saat itu. Tapi apa daya, pemberontakan dirinya kali ini hanya sia-sia belaka.
"Sudah rindu sekali dengan aroma tubuhmu" mata Dika sudah mulai mengincar tubuh gadis malang tersebut.
Dugggh
Sebuah tendangan keras kaki Sofia mengenai sisi wajah Dika yang sudah hampir dekat dengan wajahnya.
"Sialan!. Plaakkk" maki Dika dengan melayangkan sebuah tamparan telak.
Sofia hanya bisa menangis kali ini, betapa remuk hatinya harus memperoleh kejadian keji seperti ini lagi didalam hidupnya.
Dengan tubuhnya yang setengah basah, ia dengan cepat membenamkan pusaka tersebut. Ia pun menikmati sekali disana, dengan sesekali terlihat ke dua matanya membelalak karena keenakan.
Dia yang tak pernah melakukan ini dengan istrinya Gendhis semenjak menikah, lebih memilih untuk menyalurkan hasrat itu bersama Sofia. Baginya, wajah cantik Sofia dan lekuk tubuh Sofia jauh lebih menggoda untuk disentuh dibandingkan istrinya.
"Gimana, kamu juga pasti keenakan kan Sof, tenang kali ini mas Dika akan memainkan lebih halus lagi" ucap Dika ditengah aktifitasnya.
__ADS_1
Sofia lebih memilih untuk membuang mukanya pada lelaki bejat tersebut. Dia sudah sangat jijik melihatnya saat ini, bagaimana tidak. Seorang lelaki yang sudah memutuskan untuk memilih wanita lain, masih saja sibuk menikmati tubuh orang lain diluar sana.
Setengah jam kemudian, kepuasan itu terpancar betul diwajah Dika. Kali ini, Dika yang tanpa pikir panjang lagi memberikan serangan fajar bertubi-tubi pada tubuh kecil Sofia.
Entah berapa kali ia menamakan benih disana, yang pasti benih itu belum pernah tertanam pada wanita lain selain Sofia.
Dengan sedikit mengangkat kepalanya, Sofia mencoba memperhatikan sekujur tubuhnya disana dan tengah mencari-cari keberadaan benda cair itu disekitarnya. Betapa lemasnya ia, tak menjumpai benda tersebut. Otaknya seketika mati dan wajahnya mematung seperti boneka manekin.
"Sinikan tanganmu!" perintah Dika.
Tapi Sofia tetap diam.
"Akhh lama ..." tarik Dika sambil sedikit kesal.
Sikapnya yang sangat tak manusiawi sama sekali pada Sofia membuat hati gadis itu sangat terluka.
Lelaki yang menyebut dirinya cinta bahkan sayang sekalipun, sama sekali tak pernah belaku manis sedikitpun bahkan sesudah menyentuh tubuhnya.
"Sudah, sekarang kamu boleh pergi!" ucap Dika mengusir Sofia setelah membuka lilitan tali dan kain yang membungkam mulutnya tadi.
"Sudah katamu mas?!" kali ini ia berani menyuarakan suaranya meski terlihat sedikit gemetar.
Sofia yang sudah tak nafsu untuk melanjutkan omongannya disana, ia memilih untuk segera berdiri. Terlihat sebuah bekas yang mencolok dipergelangan tangannya disana, sebuah bekas kejahatan Dika yang sudah melilit dengan kencang tangan Sofia.
Bekas itu terlihat merah kebiruan, tapi sedikitpun Sofia tak mengeluh kesakitan akan hal itu.
Dia berjalan tanpa penutup kepala apapun kali ini, hanya terus berjalan dibawah guyuran air hujan yang begitu deras menerpa kepalanya.
Tuhan!!!, kenapa kau siksa aku seperti ini. Jika memang aku terlahir hanya untuk disiksa seperti ini, ambil sajalah nyawaku yang sudah penuh dengan kotoran ini. jerit tangis Sofia dibawah guyuran air hujan.
Ditengah keputusasaan dirinya, ia pun melihat sebuah mobil ambulance yang melintas didesa. Matanya terus mengikuti mobil putih itu sampai terhenti didepan rumah Dika.
Sofia berlarian setengah mati, ketika melihat mobil tersebut. Ia sudah tak menghiraukan lagi segala kesakitan dirinya saat ini.
"Ya Allah !!!" seru beberapa warga didepan rumah Prasetyo menyambut jenazah itu.
Ketika kakinya berhenti berlari dan berada tepat di ujung teras rumah Prasetyo, ia berhenti dan kebingungan. Dirinya menatap Prasetyo dan Sumitra tengah berdiri dan menangis dihadapan jenazah itu.
Lalu itu siapa yang berada didalam keranda?. tanya Sofia lirih.
"Sof, kenapa kamu hujan-hujanan nak. ayo sini mari kita do'akan Dirga!" ajak Sumitra pada gadis yang sudah basah kuyup itu.
__ADS_1
Secara bersamaan, ucapan Sumitra barusan pun disambut sebuah petir yang cukup kencang dari langit.
Sofia tak percaya jika Dirga akan secepat ini meninggalkan dirinya. Baru tadi pagi, keduanya bercanda begitu riang diatas motor.
"Mas Dirga," sentuhnya ke arah keranda tersebut dengan air mata yang mengucur deras diwajahnya.
"Ayo sini, ibu akan ambilkan baju untuk kamu" ajak Puput untuk menggantikan pakaian Sofia yang hampir basah seluruhnya.
Ketika ia sudah siap dengan pakaian yang sudah kering, dirinya pun hanya duduk dan menatap keranda itu penuh kesedihan mendalam.
Begitu miris kali ini, ia tak akan lagi bisa bertemu dengan Dirga. Bahkan suara dan tawa riangnya tak akan terdengar untuk selamanya.
"Sof, kamu tadi belum pulang?!" tanya Sumitra.
Sofia menatap lesu wajah Sumitra disana, dan hanya menutup mulutnya dengan rapat.
"Buk, tolong hubungi pihak panti asuhan tempat Dirga ya. Kabari mereka dengan segera" perintah Prasetyo.
Sofia yang masih lemas menatap keranda itu hanya dapat membayangkan senyum terakhir Dirga tadi pagi.
Maafkan Sofia ya mas, karena mas Dirga mengantar Sofia tadi pagi kecelakaan ini merenggut nyawamu. Dan maafkan Sofia juga untuk yang terakhir kalinya, didepan tubuhmu yang sudah terbujur kaku ini aku tak dapat melantunkan sebuah do'a untuk mengiringi kepergianmu ketempat peristirahatan terakhir. Tubuhku kotor mas, bahkan penuh dengan dosa!, jika aku boleh menukar takdir baiknya nyawaku saja yang harus diambil Tuhan dengan cepat! gumam Sofia.
"Mas dirgaaaa, jangan tinggalin Sofia mas!" teriak Sofia pada jenazah Dirga yang sudah ditandu oleh warga sekitar untuk dikebumikan.
"Sabar Sof sabar, ikhlaskan nak!" seru Sumitra menarik tubuh Sofia yang sudah lemas dan terus meratapi kesedihannya.
Sumitra tau betul jika keduanya memiliki hubungan cukup dekat. Baik Sumitra maupun Prasetyo juga menyaksikan bagaimana gigihny Dirga yang selalu menjaga Sofia dimanapun.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1