Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Maaf


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 💐...


Malam sudah terlihat begitu larut, dan Sumitra masih saja terlihat cemas menunggu kedatangan Dika putranya.


"Sofia aku sayang kamu, Sofia oh Sofia" celoteh Dika dalam pengaruh minuman alkohol yang berada ditangannya.


Beberapa warga yang saat itu berjaga malam di pos ronda yang mengetahui Dika tengah mabuk, mencoba menghampiri dan menolongnya untuk mengantarkan ia pulang ke rumahnya.


Masih dalam keadaan tak sadar, ia terus menyebut nama Sofia sampai tiba dihalaman rumahnya. Sumitra yang masih terlihat membuka pintu rumahnya dengan segera menuju Dika yang dari kejauhan sudah diantar oleh seorang warga.


"Ya Allah Dika, kenapa lagi kamu le" ucapnya sambil mengusap rambut Dika dan mencoba menyadarkan putranya itu.


"Saya pamit nggeh bu" jelas seorang warga yang mengantarkan Dika pulang, Sumitra pun hanya mengangguk dan membopong tubuh Dika memasuki rumah.


Ia yang berusaha menidurkan putranya itu disofa, dipergoki oleh Prasetyo yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Le bangun le" dengan lembut ia menunggui Dika dalam keadaan mabuk.


Byuurrrr


Seember air sudah diguyurkan Prasetyo ke muka Dika dengan begitu cepat. Dika yang mendapati itu, ia pun terbangun dengan cepat sambil menahan nafas dan sedikit tersedak akibat banyaknya air yang ia minum.


"Pak, ada apa ini" tanyanya yang sudah tersadar.


"Lihat ibumu itu, susah payah nungguin kamu semalaman. Ternyata pulang dengan keadaan mabuk seperti ini, otak mu itu dimana?. Mending kalau sudah nggak punya otak, jual aja itu tubuhmu yang nggak berguna" maki Prasetyo kepada putra semata wayangnya itu.


Dirinya yang sudah tersadar dari pengaruh alkohol pun melirik ke meja dan mendapati sebotol minuman miliknya disana. Kali ini ia bernasib buruk, bukanya menyembunyikan botol tersebut malah botol itu terbawa pulang.


"Maafkan Dika nggeh bu" tatapnya penuh iba.


Entah sudah ke berapa puluh ribu kali Sumitra selalu memberikan maaf kepada dirinya. Tetapi maaf itu tak berlaku panjang dan tulus, kesalahan itu selalu di ulang terus menerus olehnya. Dan tidak pernah membuatnya jera sedikitpun, Sumitra pun memaafkan Dika dan menyuruhnya untuk segera mandi dan tidur. Karena hari sudah petang dan larut.


"Sampai kapan kamu itu memperlakukan Dika kayak gini toh buk buk" protes keras Prasetyo didalam kamar sambil melipat ke dua tangannya.


Sumitra yang sudah paham betul akan suaminya itu, ia lebih meilih untuk memberikan jawaban yang ringan agar tidak sampai terjadi perdebatan panjang malam ini.

__ADS_1


"Dia masih butuh kita arahkan pak" tutup Sumitra mengakhiri percakapan mereka berdua.


Ke duanya lalu menutup pintu kamar serta jendela dan tidur malam itu. Belum sampai pulas tidur mereka berdua dikamar, Dika dengan Gendhis pun kembali bertengkar didalam kamar. Kali ini terdengar Gendhis melempar beberapa kosmetik miliknya ke lantai.


Sumitra yang mendengar itu, ingin beranjak dari tidurnya tapi dihentikan langkahnya oleh Prasetyo disisinya.


"Sudah tidur, jangan ikut campur" ujarnya.


Ia pun mengurungkan niat itu untuk melihat Dika disana, dirinya hanya takut jika keduanya tak dapat menahan ego dengan baik. Dan berakibat hal buruk akan terjadi pada salah satunya.


"Kita sebagai orang tua, hanya cukup melihat saja kalau masalah seperti ini. Lain jika memang itu ulah Dika sendiri, kita masih boleh turun tangan untuk memperingatinnya" tutur Prasetyo mengingatkan Sumitra.


Suara keributan itupun sudah tak terdengar kembali disebelah ruangan mereka, ke duanya berpikir mungkin mereka sudah menyelesaikan dengan baik malam ini. Tapi tidak dengan Gendhis dan Dika, mereka terlibat pertengkaran hebat malam itu dan msmbuat Dika merasa enggan untuk berada satu kamar dengan dirinya malam ini.


Dika pun memutuskan untuk keluar dan mencari tempat untuk tidur, ia pun memutuskan untuk bergabung di pos ronda malam itu. Dan meminta ijin kepada beberapa warga untuk dirinya tidur digubuk itu. Warga pun menyambut baik permintaan Dika saat itu tanpa melarangnya sedikitpun.


"Kasihan anak pakades ini, dinikahkan paksa. Malam pertama seperti dineraka begini" ke dua orang warga tengah berbisik menggunjing dirinya.


"Iyah ya, kasihan betul" seorang warga menimpali ucapan tersebut.


"Ayo bu," ajak Prasetyo kepada istrinya, ia sudah siap untuk pergi sholat pagi ini.


Sumitra pun terlihat mengenakan mukenanya dengan baik,dan berjalan ke arah suaminya. Dengan cepat ia menutup pintu rumah dan berjalan menuju masjid. Saat ia berjalan ke arah masjid, matanya belum sadar dengan keberadaan Dika di pos ronda yang tengah tertidur sendirian disana.


Sampai akhirnya keduanya menyadari saat perjalan pulang, menemukan Dika dipos ronda itu.


"Pak pak, itu Dika" ucap Sumitra memberitahukan kepada Prasetyo.


Prasetyo pun mencoba menamatkan pandangan matanya dengan sempurna, saat matanya terlihat menyipit ia baru dengan jelas melihat keberadaan Dika disana. Ia pun menghampiri anak itu, dan mengajaknya pulang.


Belum sampai mereka berdua membawa Dika pulang, ke duanya tiba-tiba disapa oleh Sofia beserta mbahnya yang baru saja turun dari masjid.


"Pak buk," sapa Sofia sambil menggandeng tangen orang tua renta itu.


"Eh, kamu" Sumitra kaget menjumpai Sofia disana.

__ADS_1


Sofia pun segera mencium tangan Sumitra dan Prasetyo saat itu, dirinya juga meilhat Dika disana. Dalam benaknya pun bertanya, seharusnya Dika menghabiskan malam pertamanya dengan Gendhis, kenapa dia malah tertidur pulas disini.


Sumitra pun mencoba mengajak ngobrol singkat ke duanya disana, sementara Prasetyo masih nerusaha membangukan Dika yang tertidur pulas.


"Saya minta maaf nggeh mbah," tangan Sumitra menggenggam erat tangan si mbah.


"Nggak papa, nggak perlu minta maaf. Mbah sudah tahu semua hal ini dari para warga, bagi si mbah Dika sudah seperti anak sendiri dan sampai kapanpun akan terus seperti itu tanpa berubah" ujar si mbah yang melegakan hari Sumitra.


"Saya yang nggak enak sama si mbah, karena kejadian ini niat saya untuk meminang cucu mbah gagal" tangisnya pecah sekstika.


"Sudah, memang belum jodohnya" pungkas mbah dengan baik.


Sementara Sofia yang berdiri disana, baru mengetahui hal baik ini. Ia yang menjalani kisah bertahun-tahun dengan Dika, tak pernah mengetahui bahwa orang tua Dika akan berpikir jauh tentang hubungan keduanya.


Tapi saat ini nasi sudah menjadi bubur, mau diapakan pun tak akan menjadi nasi kembali. Suratan tangan manusia memang tidak akan mudah ditebak sesuai nalar.


"Pak, kok disini" ucap Dika yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Harusnya bapak yang tanya, kenapa disini" ujar Prasetyo.


Dika yang masih dalam keadaan setengah bingung, mencoba mengurutkan kembali memori ingatannya dengan betul. Dan sembari berdiri dari tidurnya saat itu, ia pun terlihat sangat bahagia kala bertemu dengan Sofia. Matanya berbinar dan menyunggingkan sebuah senyuman ke arah gadis itu.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2