
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🪐...
Semenjak kepergian neneknya, Sofia sudah bertekad untuk tidak lagi bekerja di keluarga Prasetyo lagi. Dia lebih memilih menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan kakeknya dirumah dan memilih pekerjaan paruh waktu diladang.
"Duuh, terik banget mataharinya. Panas sekali" ucap Sofia sambil mengusap peluh didahinya.
"Aku denger ada yang mengeluh hari ini," ucap Hendra dari balik punggung Sofia yang sudah datang membawa makanan dalam rantang beserta air minum.
"Mas!," sambutnya bahagia.
"Ayo naik kesini, ulurkan tanganya biar aku bantu"
Keduanya pun memilih untuk memutuskan beristirahat disebuah pohon pisang yang menjulang lebih tinggi dari pohon lainnya disana. Hendra dengan telaten menemani Sofia untuk menghabiskan seluruh makanan yang dikirimkan oleh ibunya untuk calon menantunya tersebut.
"Hmm, wangi sekali. Ibu jago kalau masak ya mas!"
"Tentu, nggak lama lagi kamu pun bisa belajar masak dengan ibu nanti" ujarnya penuh senyuman.
Sofia yang terlihat sudah letih, memutuskan untuk memakan makanan tersebut dengan lahap. Tetapi tangannya terhenti pada suapan yang ke tiga kalinya disana, kali ini perutnya seperti menolak dengan keras makanan yang telah dibawa oleh Hendra saat itu.
Rasa mual yang hebat, mendadak menyerang tubuhnya disana.
"Emb ...emb ..." Sofia berlari ke ujung sawah.
"Ada apa dengan kamu Sof ?" tanya Hendra gelisah.
Gadis itu terlihat sibuk mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
"Mas!, Sofia nggak bisa lanjutin makan lagi" ucapnya sambil mengusap bersih bibirnya.
"Iya nggak papa ko, kamu kenapa?. Sakit?" tanya Hendra begitu cemas.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala, dan tak mengerti apa yang tengah terjadi pada dirinya. Baru Lima detik ia terlihat baikan, kali ini Sofia memuntahkan kembali semua isi perutnya.
"Sudah-sudah, ayo ikut denganku." ajak Hendra.
Lelaki yang akan menjadi calon imam bagi dirinya itu mengajak Sofia ke sebuah puskesmas desa yang tak begitu jauh dari desanya.
"Mari berbaring disini mbak, saya periksa dulu" seorang bidan tengah memeriksa Sofia sesuai dengan semua keluhan dirinya.
__ADS_1
Wajah bidan tersebut terlihat sangat serius hingga pemeriksaan selesai dilakukan.
"Kapan terakhir kali datang bulan mbak?"
"Datang bulan?" Sofia tersentak ketika mendapati pertanyaan itu.
Dirinya yang tidak mengingat betul kapan terakhir kali datang bulan, hanya menjawab.
"Kalau bulan ini saya belum datang bulan bu bidan".
"Sudah saya duga, mari kita lanjut periksa urine yah" tuturnya sambil membuka sebuah alat testpack dan menyiapkan sebuah gelas plastik putih bening disana.
Sofia yang tidak familiar dengan benda tersebut, ia pun mendapatkan pengarahan dari bidan tersebut hingga selesai. Setelah menunggu 5 menit lamanya, Sofia akhirnya mendapatkan jawaban dari semua kegelisahannya.
Seminggu terakhir, ia selalu merasakan badanya terlalu capek dan mudah sekali berkeringat dan kelelahan. Sangat berbeda dengan tubuh Sofia biasanya.
"Sebelumnya saya minta maaf ya mbak, tapi hasilnya ini menunjukkan positif. Berarti mbak memang tengah hamil" tegas bidan tersebut, ia yang mengerti jika Sofia belum menikah sangat perihatin dengan keadaan yang dialami gadis malang tersebut.
"Enggak,"
"Nggak mungkin kan bu bidan!"
Dengan pandangan sendu, bidan tersebut menyodorkan alat testpack yang telah ia jalani hari ini tai. Disana menunjukkan dengan jelas, bahwa terdapat garis pink 2 baris dengan sangat terang. Dan melalui alat tersebut, sudah bisa dipastikan bahwa hasilnya akan lebih akurat.
Tangisnya pun pecah didalam ruangan tersebut, kali ini memang Sofia terlihat duduk sendirian disana. Sementara Hendra dengan cemas menunggu hasilnya diluar. Ia pun keluar dengan membawa beberapa obat serta vitamin untuk dirinya dan sang jabang bayi.
"Sof, gimana hasilnya!"
Tanpa memalingkan wajahnya kepada Hendra ia terus berjalan meninggalkan lelaki tersebut.
"Hey Sof, kamu kenapa!" Hendra meraih tangan gadis tersebut secepat mungkin.
"Lepasin aku mas!"
"Lepasin!!" bantah Sofia.
"Tolong jelasin, kamu kenapa!" Hendra mengguncang tubuh sofia.
Takk!!
__ADS_1
Alat tes kehamilan yang tengah ia simpan dalam saku jaketnya pun terjatuh ke lantai, dengan spontan Hendra pun memandang alat tes kehamilan tersebut penuh dengan tanya.
"Kamu hamil?!" Sofia mengangguk sambil terus menangis dan tertunduk disana.
"Jadi, tolong lepaskan tanganmu dari tubuhku mas!"
Hendra pun mengiyakan permintaan Sofia disana.
"Tapi kenapa Sof?" kali ini Hendra lebih terlihat khawatir dengan ucapan Sofia.
"Aku sudah kotor, lebih baik kamu pergi saja mencari gadis lain!" ujarnya sambil melepaskan sebuah cincin yang sudah mengikat keduanya.
Belum sempat cincin itu ditarik keluar dari jari manisnya, Hendra menghentikan aksi Sofia. Dirinya pun dengan cepat merengkuh tubuh Sofia disana dengan mengucapkan janjinya.
"Hey, heh!!. Tolong jangan pernah lepaskan itu dari jarimu, benda itu sudah mengikat kita kan. Jadi tolong dengarkan aku sekali ini saja. Bagaimana pun keadaan kamu sekarang, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu sejengkal kuku ku. Mas janji akan segera menikahimu dalam waktu dekat ini Sof. Anak itu nantinya akan menjadi anakku juga!" jelas Hendra penuh ketulusan.
"Tidak mas!, ini anak Dikk ..." pekik Sofia dalam rengkuhan Hendra, tapi perkataannya itupun dihentikan dengan cepat oleh jari Hendra yang sudah menempel dibibirnya.
"Aku mohon, jangan pernah ucapkan itu. Sebut saja itu anakku, atau anak kita. Oke!" perintah Hendra.
Gadis malang itupun hanya dapat menatap kedua mata Hendra begitu dalam, setiap ketulusan yang ia ucapkan membuat hatinya begitu luluh disana. Entah cinta sebesar apa yang telah ia berikan pada Sofia, tapi cinta itu benar-benar sempurna bagi Sofia kali ini.
Dengan langkah penuh keyakinan, Hendra pun mengajak Sofia untuk segera pulang agar dapat beristirahat dengan baik. Diatas motor milik Hendra, Sofia yang masih diliputi rasa takut dan keraguan akhirnya memberanikan untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
"Jika orang tua mas menentang anak ini, bagaimana?" ucapnya sedih.
Hendra pun memberhentikan laju motornya untuk menjawab pertanyaan serius itu dengan tegas.
"Selama aku masih hidup, tidak akan pernah aku biarkan aib ini terbongkar oleh siapapun. Dia tidak pernah bersalah untuk hadir didunia ini, jika masalah bapak dan ibuk akan aku pastikan beliau menyetujui pernikahan kita dalam waktu dekat ini" janjinya.
Tetap saja semua jawaban yang diberikan oleh Hendra tak membuat dirinya berhenti dihantui rasa ketakutan. Bayang-bayang buruk dan suram sudah memenuhi pikirannya semenjak pulang dari rumah sakit.
"Aku pulang dulu yah," seru Hendra sambil mengusap lembut pundak Sofia, dan Sofia tersenyum manis walaupun mata sembabnya tak dapat berbohong.
***Entah terbuat dari apa hatimu mas, tapi aku sangat beruntung memiliki dirimu. Kamu selalu memastikan pada diriku bahwa semua awan gelap yang mencoba mendekat untuk merundung ku akan segera berlalu. Dirimu seperti sebuah tiupan angin yang berhembus begitu lirih dengan pasti. gumam Sofia dalam kediamannya melihat kepergian Hendra.
...----------------...
Bersambung ❤️***
__ADS_1