
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya🌵...
Sofia yang mendapati cacian bertubi-tubi dari Gendhis hanya memilih diam dan tak menghiraukan dirinya. Meskipun tak dipungkiri, hatinya sangat terluka saat mendengar semua ucapan Gendhis disana.
Dengan beraninya Gendhis mendorong tubuh Sofia hingga jatuh dan tersungkur disana, ia lalu menuju ke arah laci yang berisi uang penjualan toko disana. Tanpa ragu, dirinya pun mengambil semua uang didalam laci tersebut untuk memenuhi semua kebutuhannya yang tak dihiraukan oleh Dika.
"Jangan!, aku mohon. Aku akan berkata apa jika bapak dan ibuk menanyakannya nanti" wajah Sofia memelas pada Gendhis.
Gendhis yang tak menghiraukan ucapan Sofia hanya tersenyum penuh kelicikan saat itu. Ia yang sudah memperoleh semua uang itu lalu pergi begitu saja dari toko tersebut.
"1,2,3,4,5. Yes, 500 ribu. Lumayan deh buat pergi jalan-jalan." seru Gendhis yang tengah menghitung uang tersebut.
Dirinya yang tak merasa berdosa pada Sofia, pergi untuk menghamburkan semua uang itu dalam sekejap.
"Hai Gendhis" sapa seorang teman Gendhis yang selalu jalan bareng dengan dirinya.
"Hei, mau kemana kalian berdua?" sapa Gendhis.
"Mau keluar nih, jalan-jalan aja" timpal Bela teman sekelas Gendhis waktu SMA.
"Aku ikut yah, gampang deh nanti aku yang bayar makanan kalian" ujar Gendhis dengan nada sombong.
Setibanya mereka disebuah minimarket yang terletak tak begitu jauh dari desa, mereka bertiga pun belanja semua keperluan skincare dan yang lainnya. Tampak kalap Gendhis saat berada disana, semua ia ambil tanpa memikirkan harga.
Tit tit tit
Mesin kasir berbunyi, untuk menotal semua belanjaan mereka bertiga disana.
"Semuanya, 250 ribu rupiah mbak." ujar seorang karyawan minimarket tersebut.
Tanpa berkata apapun, Gendhis lalu menyodorkan uang tersebut kepada seorang kasir disana. Ia yang sudah terbiasa berfoya-foya semenjak dulu membuat teman-teman disekelilingnya merasa senang. Bukan sebuah persahabatan tulus yang mereka berikan, melainkan semua itu mereka lakukan untuk menipu Gendhis dan memanfaatkan dirinya saja.
"Asiik, lagi banyak uang si Gendhis" ujar Bela kepada temannya.
"Hahah, uda biasa kan. Kayak nggak kenal aku aja kalian" bangga Gendhis dengan sombong.
Padahal dirinya tak pernah mengetahui, bahwa ia sering digunjing oleh teman-temannya itu saat ia tak lagi bersama mereka. Semua orang yang ia sebut sebagai teman itu, bukanlah sebuah teman yang baik bagi drinya.
"Ayo makan, aku udah laper ni," seru Bela.
"Oke, oke. Mau makan apa, biar aku yang bayar juga." timpal Gendhis mengiyakan permintaan Bela.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya makan disebuah resto kecil yang tak jauh dengan lokasi minimarket tersebut.
"Ih keren, ini kan tempat anak muda jaman sekarang itu lo" ujar Bela yang masih sedikit udik.
"Lah, aku uda sering kesini sama mas Dika." tuturnya menyombongkan dirinya.
Seringkali Gendhis terus berpura-pura dihadapan mereka semua demi mendapatkan simpati dan rasa segan dari mereka semua. Padahal semua hal yang ia ucapkan, belum benar adanya.
Akhirnya mereka bertiga pun segera memasuki tempat tersebut sambil tertawa cekikikan tanpa henti, Gendhis yang tak memikirkan nasib Sofia sedikitpun ditoko ia terus menikmati semua kesenangan itu sepanjang hari.
*
*
*
"Assalamu'alaikum Sof," sapa Sumitra menghampiri dirinya disana bersama suaminya Prasetyo.
Sumitra yang kaget saat melihat Sofia tengah menangis dipojokkan, dirinya lalu memanggil gadis yang sudah terlihat ketakutan itu. Tubuhnya gemetar karena menahan takut yang begitu dalam. Karena ia harus mempertanggungjawabkan ulah Gendhis kali ini.
"Kamu kenapa kok kayak ketakutan begini nak?" jelas Prasetyo.
Prasetyo lalu mengikuti arah tangan Sofia dan menuju laci uang. Disana, laci terlihat kosong melompong tak tersisa. Bahkan uang modal yang setiap harinya dibawakan oleh Sumitra juga tak terlihat disana.
"Apa ada pencuri tadi?" tanya Sumitra cemas, Sofia hanya menggeleng lemah dan masih terus menangis.
Merasa ada yang janggal dengan kediaman Sofia saat itu. Prasetyo yang memang sudah memasang cctv disetiap toko miliknya lalu meminta Dirga untuk segera datang ke pasar untuk membantu dirinya mengecek semua agar terlihat jelas.
📱"Segera kesini le" isi pesan singkat Prasetyo pada Dirga.
Dirga yang sudah mengetahui keberadaan Prasetyo beserta istrinya lalu bergerak cepat menuju ke lokasi mereka berdua disana.
"Pak, buk?. Maaf ada apa ini nggeh?" tanya Dirga yang sudah cemas melihat Sofia tengah ketakutan disana.
"Tolong cek cctv toko ini le. Bapak mau cek siapa yang sudah mengambil uang toko tadi" perintah Prasetyo pada pemuda tersebut.
"Siap pak," timpal Dirga.
Dengan lincah ia pun mengecek cctv tersebut dengan begitu teliti disetiap waktunya. Terpantau dengan jelas siapa saja yang terlihat dicctv tersebut sepanjang hari ini, termasuk dirinya yang tengah berbincang dengan Sofia dan Dika pagi itu. Prasetyo yang sedari tadi sudah berada dibalik punggung Dirga, sudah tak sabar ingin tahu siapa sebenarnya pelaku pencurian uang tersebut.
Akhirnya pencuri itu mampu ditemukan pada layar cctv sekitar pukul 11 siang lewat 15menit. Terlihat seorang perempuan memasuki toko tersebut tanpa ragu dan membawa semua isi laci tanpa tersisa sedikitpun. Sampai pada akhirnya si wanita tersebut hendak pergi meninggalkan toko, seluruh wajahnya dapat terlihat jelas dalam tangkapan layar cctv. Dirga yang mendapati hal itu, lalu memberhentikan cctv tersebut dan memperbesar wajah si pelaku agar terlihat lebih jelas.
__ADS_1
"Kurang ajar!," Prasetyo murka seketika sambil menggebrak meja.
"Opo to pak, kenapa?" Sumitra ketakutan melihat wajah suaminya yang sudah berubah menjadi lebih garang.
Sumitra lalu mendekati untuk melihat isi cctv tersebut, betapa terkejutnya ia saat mendapati pelakunya adalah menantunya sendiri yaitu Gendhis. Dirinya pun hanya bisa diam dan kembali memeluk Sofia yang sudah ketakutan akibat ulah gadis kurang ajar itu.
"Sudah jangan nangis, bapak sama ibuk sudah tau siapa pelakunya" ujar Sumitra menenangkan Sofia disana.
"Dikaaa, keluar kamu" panggil Prasetyo didepan toko yang satunya.
Dika sangat terkejut disana, ia yang baru saja terbangun dari tidurnya segera menemui bapaknya yang sudah sangat marah.
"Enggeh pak?, ada apa ini" tanya Dika yang tak mengetahui tentang kejadian ini.
"Sini kamu," jelas Prasetyo yang mengajak Dika untuk melihat isi cctv ditoko satunya.
Dika pun kaget saat mendapati Dirga telah duduk didalam sana. Ia yang masih setengah menahan kantuk, kini sudah bangun seutuhnya sambil menatap sinis ke arah Dirga.
"Lihat siapa itu, istrimu bukan!," bentak Prasetyo.
"Iya pak," sahut Dika.
"Dia sudah berani mengambil uang penjualan ditoko tadi siang!" nada Prasetyo semakin tinggi.
Dika yang masih tak percaya dengan kejadian ini, lalu menatap Sofia yang masih terlihat sembab wajahnya akibat menangis seharian ditoko. Dirinya lalu mengingat kejadian siang tadi saat Gendhis menghampiri dirinya di toko untuk meminta uang, karena dirinya tak menghiraukan permintaan Gendhis disana lalu istrinya tersebut memaksa untuk meminta pada Sofia.
Dika yang juga murka melihat tingkah istrinya tersebut, tersulut api emosi yang begitu mendalam kali ini. Pasalnya kelakuan Gendhis sudah terlalu melewati batas kali ini.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1