
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🌈...
Hari ini tepat tanggal 26 November, pukul sembilan pagi Hendra dan ke dua orang tuanya terlihat menyiapkan diri untuk pergi menghadiri acara kelulusan Hendra di kota.
Penuh haru biru kedua orang tuanya mendapati kabar bahwa anaknya menjadi wisudawan terbaik dikampusnya. Ia menjadi wisudawan dengan nilai IPK tertinggi diantara yang lainnya.
"Mari kita sambut wisudawan kita selanjutnya, Mahendra Laksmana dengan nilai IPK tertinggi diantara wisudawan dan wisudawati lainnya." sambutnya.
Hendra yang tengah duduk dikursi bersama ke dua orang tuanya segera naik ke atas untuk mengikuti prosesi seperti wisudawan dan wisudawati yang lainnya. Ia pun menitihkan air mata saat turun dan menghampiri ibunya, sujud syukur dirinya sambil memeluk kedua orang tuanya kala itu.
Sudah banyak tawaran pekerjaan yang ia dapatkan sampai dengan hari ini, tapi dirinya memang tidak menerimanya terlebih dahulu karena ingin mendiskusikan hal ini dengan ke dua orang tuanya.
Saat acara wisuda telah terlaksana dan berjalan dengan baik, Hendra beserta kedua orang tuannya terlihat untuk segera pulang saat itu.
"Hendra ..." suara seorang gadis memanggil dirinya dengan lambaian tangan.
Hendra yang mendengar suara temanya itu pun akhirnya berhenti dan menunggunya yang tengah berjalan tak cukup jauh dari tempat ia berdiri.
"Sil?," sapa Hendra kepada teman sekampusnya Sesilia, gadis yang begitu banyak digandrungi para lelaki dikampusnya.
Dirinya adalah seorang anak dari pengusaha paling terpandang dikota ini. Karena kedudukan keluarganya yang begitu tinggi, Hendra selalu minder saat harus berbicara dengan dirinya apalagi berteman.
Karena begitu banyak teman lelaki Hendra dikampus yang iri dengan kedekatan dirinya dengan Sesilia, begitu pula dengan Sesilia ia tak pernah banyak memiliki teman dikampus. Dirinya cukup tertutup dan hanya mau berteman dekat dengan beberapa orang saja.
Total hanya 3 orang teman dekat Sesilia selama dirinya menimba ilmu disini. Dan salah satunya adalah Hendra.
"Nah itu dia, pah ma sini" panggil Sesilia kepada kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari gedung tersebut.
"Om, tante" timpal Hendra yang menyapa dengan sopan keduanya.
Meski mereka orang terpandang, tapi tak sedikitpun memiliki kesan sombong dan arogan kepada orang tua Hendra yang tampil jauh lebih sederhana dibandingkan mereka berdua. Keduanya pun nampak menyapa orang tua Hendra sambil sedikit menunjukkan kepalanya.
"Jadi dia ini yang sering kamu ceritakan pada papa," tunjuk Rukhman papa Sesilia.
__ADS_1
Sesilia pun mengangguk dengan cepat sambil tersenyum gembira.
"Terimakasih ya Hendra, kamu sudah berjasa banyak dalam membimbing Sesilia selama menimba ilmu" ujar Risma mama Sesilia.
"Sama-sama tante, kita selama ini selalu belajar bersama kok" ujar Hendra merendah.
"Kebetulan, Sesilia juga merekomendasikan diri kamu untuk bergabung diperusahaan kami jika kamu berkenan." jelas Rukman.
Senyum Hendra saat itu mengembang sempurna saat mendapati tawaran tersebut, pasalnya perusahaan papa Sesilia adalah sebuah perusahaan yang cukup besar.
"Terimakasih om, nanti saya akan meminta pendapat terlebih dahulu kepada ayah dan ibu saya" tutur Hendra dengan lugas.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Sampai jumpa dilain waktu," ujar Rukman mengajak istri beserta putrinya berlalu dari tempat itu.
Hendra dan kedua orang tuanya pun menyusul Sesilia beserta keluarga untuk meninggalkan gedung tersebut.
Mereka bertiga yang baru saja turun dari sebuah mikrolet bewarna hijau, berjalan menuju rumah dan melewati segerombolan tukang ojek disana. Yah mereka semua sangat mengenal Hendra dan ditempat itulah Hendra biasa mengais rejeki untuk melanjutkan kuliahnya sampai dengan kelulusannya hari ini.
"Hen, selamat yah sudah jadi sarjana kamu sekarang" teriak beberapa temannya di pangkalan tersebut.
"Tuh tiru Hendra, ngojek ya buat sekolah tinggi. Lah kamu kring ngojek buat pacaran" imbuh seorang lelaki yang usianya berada jauh diatas Hendra.
Sementara kring adalah panggilan cugnkring teman seumuran Hendra dipengkolan. Cungkring yang mendapati olokan itu hanya tersenyum lebar sambil menatap layar hp jadulnya.
Tak banyak warga desa yang menggunakan hp saat itu, kecuali hanya beberap anak muda mudi didesa itu.
Saat Hendra melintasi ladang milik seorang warga, terlihat Sofia juga disana sedang memakai topi anyaman dan sedang bekerja memanen mentimun. Seperti biasa, dirinya juga harus bekerja serabutan demi terpenuhinya kebutuhan ia dan ke dua kakek dan neneknya.
Sofia yang menjumpai Hendra dan kedua orang tuanya saati itu, berdiri dan menghampiri mereka dengan kaki dan baju celana yang sudah hampir tertutup oleh lumpur. Sama sekali tak memiliki rasa malu, Sofia dengan santai menghampiri mereka bertiga disana. Hal serupa pun terjadi pada keluarga Hendra, mereka yang tak segan mendapati Sofia penuh dengan lumpur menyambut hangat gadis itu.
"Pak, buk. Pasti baru pulang dari wisudanya mas Hendra nggeh" sapa Sofia.
"Iya nak, Hendra baru saja lulus jadi sarjana" ucap Tri bangga kepada putranya.
__ADS_1
"Semoga mas Hendra punya masa depan yang cemerlang diluar sana ya pak buk. Bukan seperti Sofia, hanya seorang gadis desa dengan pendidikan yang minim" tutur Sofia merendah.
"Tidak, justru kamu itu gadis yang hebat bagi ibuk. Saat banyak gadis lainnya lebih memilih menghabiskan waktu diluar sana. Kamu justru terlihat sibuk dengan semua pekerjaan ini dan merawat kakek serta nenek kamu dirumah. Ibu bangga" sahut Puput.
Ucapan Puput kali ini sama persis dengan Hendra anaknya, memang tak jarang orang yang memuji bangga pada Sofia ditengah keadaannya. Sebagian warga desa juga berdecak kagum melihat keseharian Sofia. Dan banyak dadi mereka selalu menginginkan anak perempuannya kelak seperti Sofia.
"Nanti ke rumah ya, kalau si mbah bisa ajak juga" ajak Hendra.
"Ada acara ya mas?" sahut Sofia yang sudah berbinar-binar mendengar undangan Hendra.
"Ehm, nggak ada. Cuma mau melewati kelulusan ini dengan orang-orang tersayang" jelas Hendra.
Mendengar kata sayang, bapak ibunya yang berada tepat dibalik punggungnya hanya tertawa kecil sambil menggoda putranya itu. Pasalnya Tri dan Puput tidak pernah membatasi pertemanan Hendra semenjak dulu. Asalkan itu baik untuk putranya, mereka selalu mendukung dengan baik.
Karena mereka juga menyadari, kedudukan harta ditengah keluarganya juga tak pantas dibandingkan dengan yang lain.
"Baiklah mas, Sofia nanti coba ajak mbah juga ke rumah ya" Sofia mengiyakan permintaan Hendra.
Ketiganya lalu meninggalkan Sofia disana, dan Sofia juga memilih untuk menuntaskan pekerjaan tersebut agar menerima upah dan diberikan kepada si mbah.
Ternyata tanpa sepengetahuan Sofia, selama ini gerak geriknya pun tengah diawasi oleh Dirga. Ia yang selalu tau tentang apa saja yang sedang dilakukan oleh Sofia. Dirinya masih mengintai Sofia karena dilandasi rasa suka terhadap gadis tersebut semakin besar setiap harinya.
Ia yang tak mampu menepis perasaan tersebut, saat ini hanya bisa memendam pilu rasa itu.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
__ADS_1
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih