Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Tampang tak berdosa


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya💘...


"Ada apa ini buk, kenapa ada bendera kuning didepan rumah kita!" tanya Dika yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah.


Sementara Sofia yang masih begitu jijik melihatnya segera berdiri dan meninggalkan rumah Dika dengan cepat.


"Kamu mau pulang Sof?, tanya Sumitra. dan ia hanya mengangguk lemas.


"Buk, ada apa? mana bapak?."


"Ganti bajumu dulu sana, habis ini kita akan ada do'a bersama" tutur Sumitra.


Tak selang berapa lama kemudian, keributan dirumah Sumitra pun muncul.


"Dikaaa, keluar kamu!." teriak Gendhis istrinya.


Gadis itu masih belum paham jika dirumah Dika sedang dalam suasana berkabung, tanpa melihat dan tak perduli ia meluapkan segala emosinya disana.


"Ssst, malu nak malu dilihat tetangga kanan kiri. Kalau kamu cari Dika, ayo masuk dia didalam" ajak Sumitra sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


"Ibuk diem ya!, jangan pura-pura baik lagi dengan aku kali ini. Kalau memang kalian baik!, kalian berdua pasti tidak akan tega mengusir kami dari rumah ini." jelasnya sambil terus menunjuk ke arah Citra.


"Masya Allah, kurang ajar benar mantu bu Sumitra ini." tutur seorang warga.


"Diem ya punya mulut, kalau nggak tau kejadian sebenarnya jangan coba ikut-ikutan!" suaranya semakin lantang.


"Sudah nak sudah, biar ibu panggilkan Dika dulu!" ucapnya sambil menahan tangis.


"Eh, eh! nggak usah. Yang ada tuh kasih uang buat anak kamu buk. Nikahin anak orang enak aja dia kasih makan angin tiap hari !!. Sementara ke dua orang tuanya enak enakan disini hidup berdua tanpa mikirin dia." Gendhis seakan memanfaatkan momen kali ini.


Dia menumpahkan segala kemarahannya kali ini dihadapan begitu banyak pelayat disana.


"Hei mbak!, yang sopan dong kalau sama ibu mertua. Kamu lahir juga dari seorang perempuan yang disebut sebagai ibu, lah ini kan juga sudah jadi ibukmu toh!" seloroh warga yang sudah kesal menanggapi sikap Gendhis.


"Kamu nantang saya ribut hah?, pake segala ceramah lagi. Urus hidup situ sendiri, udah bener belum!" tantang Gendhis.


Tidak lama kemudian, Prasetyo yang baru saja tiba dirumah setelah selesai memakamkan Dirga di pemakaman dengan bingung menatap anak mantunya itu.


"Baguslah bapak datang, minta duit!" jemarinya dimainkan diwajah Prasetyo.


Sambil menarik nafas sedalam-dalamnya, Prasetyo tetap berusaha menjaga kesadaran dirinya dengan benar.


"Minta duiiit pak, denger nggak tu kuping!" maki Gendhis semakin menjadi.


Prasetyo yang sudah tidak tahan lagi melihat tingkah gadis itu, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kepada dirinya.

__ADS_1


Tanpa ia duga, uang itu disambar begitu saja oleh Gendhis sebelum ia memberikannya secara langsung.


"Astaga pak Pras!!, kuat betul bapak liat tingkah anak mantu seperti ini. Sekali-kali beri pelajaran biar nggak ngelunjak ini anak!" maki warga.


"Permintaanmu sudah saya berikan, kali ini kamu pulang cepat!" usir Prasetyo padanya.


"Enak aja main usir-usir, Dika mana Dika!. Dia itu suami saya kan, jadi saya juga berhak bawa dia pulang!"


Dika yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, dengan cepat menemui istrinya tersebut.


"Kamu ki ngapain teriak-teriak disini!" tanya Dika.


"Cepat bawa dia pulang, atau bapak yang akan menyeretnya pulang!" jelas Prasetyo setengah berbisik ke arah Dika.


Meskipun ia sudah muak dengan semua tingkah menantunya itu, baik Prasetyo ataupun Sumitra keduanya tidak ingin jika sampai mengumbar aib keluarga dihadapan umum.


Keduanya terlihat begitu sabar menghadapi begitu saja ulah Gendhis.


"Ayo pulang!" seret Dika.


"Ih, lepasin sakit tanganku!!!"


"Bisa nggak jangan pernah bikin malu lagi bapak dan ibuku!"


"Kenapa malu, yang aku katakan semua itu benar adanya." Gendhis mencoba melepaskan tangannya dari tarikan Dika.


"Mau kemana lagi kamu, duduk sini !!"


"Aku tadi belum tau siapa yang sebenarnya meninggal dirumah!" protes Dika.


"Ituu Dirga, asisten bapak kau. Anak yatim itu" tanganya masih saja sibuk menghitung lembaran uang satu demi persatu.


Dika yang tak mempercayai ucapan istrinya dengan cepat menghampiri Gendhis dan bertanya sekali lagi untuk bertanya.


"Sadar yang kau bilang barusan hah?!"


"Kenapa, emang iya Dirga!. nggak percaya, sana ke kuburannya!" seru Gendhis.


Tubuh Dika langsung jatuh ke kursi begitu saja, ia yang tak mempercayai akan hal buruk ini sangat merasa berdosa. Niat hati yang tadinya hanya dikuasai oleh amarah sesaat, kini menjadi sebuah nasib buruk baginya.


Ia kali ini tidak ingin jika sampai kasus Dirga diusut oleh pihak kepolisian sampai tuntas. Pasalnya namanya akan terseret juga jika sampai ke dua temanya itu membuka mulut mereka.


Suasana dimakam saat itu sudah terlihat sepi, tapi Sofia masih berdiri dihadapan pusara Dirga sambil terus menangis. Ia kali ini duduk tepat di samping pusara itu dan mengusap lembut nisan batu itu.


"Mas Dirga, apa bisa dengar Sofia ?" rintihnya.

__ADS_1


Ucapannya pun disambut lembut oleh angin yang menyibak dibalik kerudungnya.


"Kali ini, Sofia nggak akan lagi ada teman bercanda mas. Nggak ada lagi yang mau antar Sofia ke tempat kerja, nggak akan ada lagi yang berani menjaga Sofia seperti mas Dirga. Hiks"


Setiap ucapan demi ucapan yang terlontar dari bibir kecilnya selalu disambut angin lembut dan lirih saat itu, seakan menandakan isyarat bahwa Dirga masih setia berada disisinya tanpa raga.


Gadis malang itu terus menangis sepanjang waktu, ia yang masih tak terima dengan kepergian Dirga hanya tertunduk pilu.


"Sof, kenapa kamu disini !" tegur Dika yang saat itu juga memutuskan untuk datang ke makam dan menemui Dirga tuk yang terakhir kalinya.


Gadis itu mengusap kering seluruh air matanya.


"Mas Dika sendiri ngapain disini, jangan dekat-dekat lagi dimakam mas Dirga!" usir Sofia.


Sofia yang selama ini sudah mengetahui gelagat jahat Dika pada mendiang Dirga sudah cukup menutup mulutnya rapat-rapat.


"Apa maksudmu?"


"Selama ini, mas Dika nggak pernah suka dengan mas Dirga kan?"


"Mana buktinya!"


"Aku buktinya!, mas selalu mencoba mengirimkan teman-teman mas untuk celakain mas Dirga"


"Ngomong apa kamu, nggak jelas!"


"Apa kali ini, memang sebenarnya ulah mas Dika yah. Apa memang mas Dika yang mengakibatkan kecelakaan mas Dirga kali ini?" serang Sofia bertubi-tubi.


PLAAKK!


Tamparan keras dan telak dari Dika melesat ke pipi Sofia, melihat aksi Dika disana angin lembut yang sedari tadi berhembus lirih ke arah Sofia tiba-tiba menjadi sebuah angin ribut yang begitu pekat dan menghampiri tubuh Dika disana.


Tubuhnya pun digulung cukup lama oleh angin ribut tersebut.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2