
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya🌾...
Saat semua telah mendapati kebenaran, mereka semua memutuskan untuk menutup semua ruko dan memilih untuk pulang ke rumah dengan secepat mungkin.
"Pak,buk kalau boleh saya minta ijin untuk antarkan Sofia pulang kerumah." ujar Dirga.
Prasetyo dan Sumitra menyambut baik ucapan Dirga saat itu, pasalnya mereka semua juga terlihat tak tega dengan wajah Sofia yang sedari tadi menangis ketakutan akibat kesalahan Gendhis.
Lain halnya dengan Dika, ia tampak terlihat keberatan sekali mendengar ucapan Dirga saat itu. Dengan nada mendengus kesal, ia pun pergi meninggalkan mereka semua begitu saja disana.
Kali ini ia lebih fokus untuk melampiaskan segala amarahnya pada istrinya Gendhis.
Gendhis yang saat ini sudah berada dirumah setelah pulang dengan teman-temannya untuk berfoya-foya tengah berselonjor ria didalam kamar.
Dirinya begitu terlihat bahagia saat ini, karena seharian penuh menghabiskan waktu dengan semua kesenangannya.
Dok dok dok
Suara pintu tengah digedor dengan sekencang-kencangnya oleh Dika tanpa ampun.
"Iyah iya ..." ucap Gendhis yang segera turun dari atas ranjang.
Baru saja ia membuka itu, dengan segera Dika mendorong tubuh Gendhis sampai terduduk dikursi kayu milik bapaknya. Gendhis yang keheranan melihat perilaku Dika, dengan nada marah ia bertanya balik.
"Apa apa ini mas, sakit ini lo" tutur Gendhis kesakitan, karena sikunya terbentur kayu kursi.
"Kamu apakan Sofia hah?" tanya balik Dika.
Sambil menekuk wajahnya, ia dibuat cemburu saat suaminya menyebut nama Sofia.
"Kenapa kamu selalu percaya begitu aja dengan dia mas" sahutnya.
Dika yang sudah mengangkat tinggi tanganya itu, dan menatap penuh kebencian pada Gendhis harus terhenti akibat kedatangan Prasetyo beserta Sumitra. Sebuah tamparan telak itu harus di urungkan oleh Dika dalam sekejap.
"Pak,buk. Coba lihat anakmu ini, sudah berani main tangan sama aku" rengek Gendhis kepada orang tua Dika.
Dia beranggapan bahwa hari ini tidak akan terjadi hal apapun pada dirinya. Tapi semua pemikiran Gendhis itu salah, justru ini adalah hari terakhir baginya untuk bisa menikmati semua fasilitas dirumah itu.
"Memangnya, apa yang sudah kamu lakukan. Sampai-sampai Dika hampir saja menamparmu?" tanya Prasetyo.
Dirinya kali ini ingin bertanya baik-baik tanpa harus membuang-buang tenaga untuk gadis sepertinya.
__ADS_1
"Nggak ada pak, mas Dika aja memang uring-uringan" Gendhis berkelit.
"Kalau begitu, sekarang juga bapak minta kemasi semua baju kamu beserta baju Dika dari dalam lemari sekarang juga!" pinta Prasetyo sambil menunjuk kamar mereka berdua.
"Pak, apa ini?" prostes Dika pada bapaknya.
"Diam kamu!" sahut Prasetyo.
Gendhis yang menyadari perintah ayah mertuanya itu, hanya bisa pasrah dengan menuruti segala perintahnya. Ia tidak ingin jika sampai Prasetyo lebih murka lagi terhadap dirinya kali ini.
"Sudah pak," ujar Gendhis membawa 2 tas baju miliknya dan Dirga, sambil menekuk wajahnya.
"Angkat kaki kalian dari rumah ini, dan pergi pulang ke rumah orang tuamu sekarang juga. Mulai sekarang hiduplah apa adanya disana!" usir Prasetyo yang tak segan melakukan itu terhadap anak dan mantunya.
Dika yang menyadari ucapan bapaknya, kembali melakukan protes keras terhadap lelaki setengah baya tersebut. Pasalnya ini semua salah Gendhis, dan dirinya tak ingin jika semua kesalahan gadis itu harus ia rasakan juga.
"Kamu suaminya bukan?, didik istrimu dengan benar" perintah Prasetyo.
"Tapi paakk. Ayolah buk, tolong Dika kali ini saja" bujuk Dika yang selalu mengandalkan ibunya.
Sumitra kali ini menggelengkan kepalanya dan lebih setuju kepada keputusan suaminya disana. Ia yang sudah terlampau sering membela Dika habis-habisan, kali ini benar-benar harus tega mendidik anaknya itu yang kini bergelar sebagai suami orang.
Krieeet brakkk
Gendis tanpa salam membuka pintu rumah dan membantingnya dengan keras.
"Pak, pak ... buatkan aku teh cepat!" tutur Gendhis memerintah bapaknya dengan seenaknya sendiri.
Dika yang menyoroti sikap Gendhis saat itu, sungguh dibuat tak percaya dengan kenyataan ini. Gadis yang tak pernah menyayangi orang tuanya itu, kini harus mendampingi dirinya disepanjang hari.
"Lihat bapakmu, dia lagi tak enak badan dan kau perintah seperti itu hah!" protes keras Dika.
"Diam kamu mas, kalian berdua sama aja. Nggak guna, bisanya bikin aku sengsara" ujar Gendhis sambil mengipasi wajahnya yang sudah mulai berkeringat.
Sementara Hartono dengan tubuh yang gemetar karena sakit tak kunjung membaik, membuatkan sebuah minuman yang sudah diminta oleh Gendhis putrinya. Tanganya yang gemetar tampak tak bisa menuangkan air panas dengan sempurna kedalam gelas, air itu harus tumpah dan tercecer dimeja.
Sambil menahan batuk dengan kedua tangannya, ia lebih memilih untuk menutupi sakitnya itu dihadapan putrinya. Sudah sering kali Hartono mendapatkan caci maki dari Gendhis jika ia mendapati dirinya tengah sakit. Dika yang sejak tadi berdiri diambang pintu hanya menatap penuh kasihan kepada lelaki tua yang malang itu.
Dia yang tak ingin mencampuri masalah keduanya hanya memilih diam tanpa harus memberikan pembelaan dirinya terhadap siapapun.
Dika yang hendak duduk disofa, mengurungkan niatnya setelah mendapat makian dari Gendhis yang tengah duduk.
__ADS_1
"Eh jangan enak enakan duduk kamu mas, kerja sana" usir Gendhis terhadap suaminya.
"Beraninya kamu mengatur aku!" ucap Dika.
"Tentu aku berani, kamu harus cari uang untukku" ujar Gendhis.
Rupanya kali ini, ia ingin membalas semua rasa bencinya terhadap orang tua Dika yang suka mengatur dirinya saat berada dirumahnya.
"Kamu tahu kenapa kita diusir dari rumah, itu semua salahmu. Kamu mencuri uang toko yang dijaga oleh Sofia, dan sekarang kamu sombong seperti ini" jelas Dika sambil menunjuk ke wajah Gendhis.
Pyarrr
Gelas itu terjatuh dari tangan Hartono, ia yang begitu kaget mendengar sikap putrinya yang sudah kelewat batas dan membuat malu dirinya. Sikap Gendhis kali ini benar-benar membuatnya merasa gagal menjadi orang tua yang baik bagi putrinya.
"Maafkan Gendhis ya le, nanti bapak akan menasehati dia" pinta Hartono kepada Dika yang sudah naik pitam.
Dika yang mendengar suara Hartono seketika luluh begitu saja, mau bagaimanapun Gendhis memang tetap istrinya. Dan itu sudah mutlak tertulis dalam sebuah buku nikah milik mereka berdua.
🖤
"Mas terimakasih ya, sudah antarkan Sofia hari ini" ucapnya.
"Sama-sama Sof, sudah dong jangan sedih lagi. Kan pelakunya sudah diketahui tadi" tutur Dirga.
"Iya mas, Sofia tadi cuma takut gimana harus jelasin pada bapak dan ibunya mas Dika saja. Jika Sofia terang-terangan menuduh Gendhis, Sofia takut melukai perasaan mas Dika disana" jelas Sofia menceritakan pada Dirga.
"Yasudah, semua sudah terungkap dengan sendirinya tanpa perlu kamu berbicara sedikitpun kan. Nah, sekarang jangan bersedih lagi" ucap Dirga sambil mengusap air mata Sofia.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1