
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya💥...
"Silahkan duduk," perintah Paramita.
Hendra hanya mengangguk mendengar perintah itu, sambil duduk ia pun tengah memperhatikan setiap isi ruangan itu dengan begitu baik. Matanya pun tertuju pada sebuah pigura foto kecil yang berada diatas meja kerja Paramita, dalam foto tersebut terlihat seorang anak kecil tengah berdiri dan tertawa lepas.
Dari wajahnya, ia hampir mirip dengan Paramita. Sementara Paramita tengah menyiapkan beberapa dokumen yang harus ia siapkan pagi ini.
"Baiklah, boleh saya lihat cv kamu?" pintanya.
Hendra pun dengan sigap mengulurkan map yang sedari tadi berada dalam pelukannya. Map tersebut lalu dipelajari oleh Paramita dengan segera.
"Oh, jadi kamu merantau ya ceritanya." ujar Mita.
"Iya bu," sahut Hendra.
"Baiklah, karena kamu sudah bersusah payah mencari pekerjaan dan harus datang jauh-jauh dari desa kemari saya punya penawaran khusu untuk kamu" jelas Mita.
Hendra yang masih tak percaya dengan semua kemudahan ini, ia menyimak dengan baik setiap perkataan demi perkataan yang terucap dari bibir Mita saat itu.
"Saat ini saya membutuhkan seorang asisten GM dihotel ini. Saya lihat, kamu berkompeten dalam hal ini. Jadi asisten general manager ini nantinya akan membackup semua aktivitas saya disini. Bagaimana, apa kamu sanggup bergabung bersama kami?" ujar Mita.
"Siap bu," timpal Hendra tanpa menyiakan kesempatan emas ini.
"Baiklah, saya harap mulai besuk pagi kamu sudah bisa mulai bekerja disini" pintanya.
"Pasti bu" jawab Hendra bersemangat.
"Untuk gaji dan fasilitas lainnya sudah saya selipkan didalam map kamu berupa selembaran kertas putih. Kamu pelajari lagi dirumah dengan baik, mungkin kamu berubah pikiran nantinya" ujarnya.
"Baik bu, kalau begitu saya pamit undur diri" sahut Hendra dengan melayangkan sebuah senyuman.
Dirinya lalu kembali ke kamar kosnya, dengan perasaan yang bahagia ia segera membuka map tersebut dengan cepat. Dan menarik sebuah kertas putih yang sudah terselip disana. Matanya mulai membaca semua isi secarik kertas itu, disana tertera gaji 5juta rupiah beserta fasilitas kesehatan dan mobil yang akan ia dapatkan selama bekerja disana.
"Alhamdulillah buk, terimakasih untuk segala do'anya" teriak Hendra kegirangan.
*
*
*
__ADS_1
Sementara didesa, Dirga yang mengetahui kepergian Hendra ke kota dengan getol untuk mendekati Sofia. Semua usaha terbaiknya ia kerahkan seluruhnya untuk mendapatkan simpati darinya. Kali ini, ia pun menggantikan posisi Hendra untuk menjaga Sofia didesa.
"Sof, nanti pulangnya aku jemput ya" ujar Dirga yang saat itu menyambangi pasar dan ruko yang tengah Sofia jaga disela-sela jam istirahatnya.
Sofia yang tak mendapati sikap aneh dari Dirga menyambut baik tawaran itu. Ia pun sampai dengan saat ini hanya menganggap Dirga sebatas teman dan tak lebih.
"Boleh mas, maaf ya jadi merepotkan mas Dirga." tukasnya.
Tak lama dari percakapan mereka berdua, dari arah berlawanan Dirga melihat sosok Dika yang datang menghampiri dirinya disana. Sorot mata tajam Dika kepada dirinya tak terelakkan saat itu.
"Loh mas Dika juga disini?" sapa Dirga yang sengaja basa-basi.
"Mas Dirga sendiri ngapain disini?, biasanya kalau ada perlu dengan bapak juga pasti ke rumah bukan dipasar begini," sindir Dika sambil menatap Sofia.
Sofia yang mendapati keduanya mulai bersitegang akhirnya mulai memecah keadaan saat itu dengan membuka topik pembicaraan yang lainnya.
"Mas cepetan, nanti keburu ditunggu bapak di balai desa loh. Nggak baik, ngebuat bapak nunggu lama-lama" tutur Sofia.
Dirga yang mengerti isyarat Sofia saat itu dengan cepat minimpali ucapannya.
"Iya e, aku kan sudah ditunggu bapak. Makasih ya Sof sudah mengingatkan" ujar Dirga yang mengikuti arahan Sofia.
"Hei, aku ingatkan sama kamu yah. Jangan coba-coba berani berdekatan dengan lelaki manapun, atau rahasia kamu akan aku bongkar ke seluruh warga kampung" tutur Dika mengancam Sofia kembali.
Saat ini dirinya tengah diliputi rasa cemburu yang begitu besar akibat melihat kedekatan Sofia bersama Dirga asisten bapaknya sendiri.
"Jangan seperti itu mas, jika aib itu kamu buka akan mencoreng nama baik keluarga kamu dan dirimu juga." jelas Sofia yang masih mau mengingatkan dirinya.
"Arrrgggh, aku nggak perduli dengan semua itu," jawab Dika yang sudah tak perduli lagi dengan dirinya beserta keluarganya kali ini.
Sofia yang sudah mengenal baik Dika, tak ingin meladeni dirinya lebih jauh lagi dari ini. Ia memilih untuk menyudahi semua percakapan mereka dengan membersihkan beberapa isi toko saat itu.
"Neng, ibu mau beli celana umur 5 tahun." suara seorang pembeli didepan toko.
Karena Sofia tengah melayani seorang pembeli, membuat Dika dengan terpaksa meninggalkan dirinya dan mengurungkan semua amarah yang sudah ia telan kembali.
Dengan penuh keramahan, Sofia pun melayani pembeli itu dengan baik sampai selesai.
"Mas, mas ..." teriak Gendhis tengah mencari keberadaan suaminya dipasar.
Dika yang tengah berselonjor dibawah lantai, membuat Gendhis tak dapat melihat sempurna keberadaan dirinya saat itu. Dirinya pun menghampiri Dika disana sambil menadahkan tangan kirinya ke wajah Dika.
__ADS_1
"Ngapain kamu," tatap Dika sinis.
"Masak iya nggak ngerti si mas, kalau begini artinya minta jatah uang kan?" ujar Gendhis dengan seenaknya.
"Kamu tahu ini masih jam berapa?, dan kamu mau minta uang" tutur Dika pada istrinya tersebut.
"Gimana si mas, bedak ku sudah habis. Lipstik, shampoo, lotion, cream dan parfum juga pada menipis isinya. Kamu sebagai suami kan harusnya kasih nafkah buat itu semua dong" protes Gendhis berkelanjutan.
"Kemarin baru aja aku kasih kamu uang 300," maki Dika.
"Sudah habis mas, buat creambath dan lainnya. Masak iya 300 harus aku jadikan sebulan penuh si," celotehnya membuat Dika semakin pusing.
"Duuh nggak tau lah, urus sendiri dirimu yang penuh dengan drama itu" Dika memilih untuk membelakangi Gendhis dengan punggungnya.
"Iiih, gimana si maaas" ujarnya kesal sambil cemberut.
Dirinya yang merasa tak mendapatkan uang dari suaminya lalu berlanjut ke ruko yang tengah dijaga oleh Sofia saat itu.
"Heh, bagi duit" seloroh Gendhis.
"Duit?, ibuk sama bapak nggak nitipin duit ke aku buat kamu" jawab Sofia polos.
"Duit toko lah, siapa yang minta kamu buat minta ke mereka" jelasnya tanpa otak.
"Maaf, aku nggak berani kalau itu. Ini uang bapak dan ibuk, jadi aku harus amanah dalam hal ini. Tolong kamu minta saja dengan mas Dika disebelah sana, jangan pakai uang toko" tutur Sofia.
"Jangan sombong deh Sof, kamu itu cuma pelayan disini. Dan usaha ini kan milik mertua aku, jadi tingkah kamu jangan berlebihan seperti bos begini." ucap Gendhis yang risih mendengar semua perkataan Sofia.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1