
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🪴...
"Pak, pak ...!!!" teriak Gendhis begitu kencang didepan teras, tangannya pun kemudian membuka pintu rumah kayu itu dengan keras.
BLAKK!!
Gendhis tak percaya jika didalam rumahnya sudah ada Sumitra dan Prasetyo yang tengah duduk bersama bapaknya. Mereka semua pun memandang ke arah gadis tersebut penuh telisik.
Kali ini, Gendhis yang baru saja pulang berfoya-foya dan menghamburkan seluruh uang yang ja dapatkan dari hasil mencaci maki mertuanya dihadapan seluruh warga hari ini.
Ia hanya terlihat tersenyum tipis dan menelan ludahnya begitu keras.
"Beri salam pada mereka nak!" perintah Hartono.
Gendhis yang mendengar permintaan bapaknya, segera menurunkan beberapa tas belanjaan dirinya dimeja. Dan dengan terpaksa menyambut kehadiran Sumitra dan Prasetyo disana.
"Apa sudah cukup bersenang-senang diluar sana hari ini !" ujar Prasetyo yang tengah terduduk dan mengepalkan ke dua tanganya.
"Maksud bapak apa?!" makinya.
"Saya tidak pernah heran jika kelakuanmu seperti ini, baik saya ataupun istri saya sudah berusaha baik membimbing kamu. Tapi tidak pernah ada efek jera apapun pada kamu." jelas Prasetyo.
"Saya makin nggak ngerti bapak ngomong apa!" ucap Gendhis sambil melengos.
Sungguh sikap Gendhis kali ini kelewat batas dan hampir menghabiskan seluruh stok sabar milik Prasetyo yang sudah ditahan sekian lama.
Braaakk!!
Dengan keras, meja kayu milik Hartono menjadi sasaran empuk kemarahannya kali ini.
"Dari tadi saya sudah cukup diam melihat semua tingkahmu!, kali ini saya nggak akan biarkan kamu berulah semakin jauh seperti ini dengan orang tua!" gertak Prasetyo yang akan segera menjadi kenyataan.
"Pak, sudah pak. sudah ..." pinta Sumitra sambil mengusap punggung Prasetyo.
Hartono kali ini hanya bisa terdiam melihat besannya begitu marah besar pada ulah putrinya. Ia yang sudah terbiasa dengan sikap Gendhis hanya bisa memaklumi, tetapi untuk orang baru seperti Sumitra dan Prasetyo mungkin hal ini sungguh sudah diluar batas.
"Mulai hari ini, meskipun kamu menangis darah ataupun mengemis kepada kami berdua sedikitpun harta ataupun uang kamu tidak akan kami berikan padamu!, kamu dengar itu!. Meskipun dia, yang kamu sebut sebagai suami mu ini. Saya juga akan pastikan, bahwa dirinya tidak akan bisa mengambil uang kamu se sen pun untuk kamu!" maki Prasetyo dengan wajah mengerikan.
Dika yang sedari tadi mendapatkan umpatan demi umpatan dari bapaknya hanya teruduk lesu dikursi kayu meja makan, ia memang membiarkan Gendhis mendapatkan semua makian itu agar lekas tersadar dari tingkahnya yang sudah kelewat batas. Dengan semua kesadarannya, ia sudah mengaku kalah dalam hal menuntun istrinya ke jalan yang baik.
"Bapak PRASETYO yang terhormat!, saya tau anda punya peran penting bagi seluruh warga desa ini. Tapi jangan anggap saya segan dengan semua itu, saya ini menantu sah anda!. Dan saya juga berhak atas harta anda pak!. Kelak saat anda mati, ingat itu baik-baik." serang balik Gendhis memaki tanpa ampun Prasetyo dihadapan orang tuanya.
__ADS_1
Sumitra seolah tak percaya dengan semua ucapan menantunya itu, ia terus menangisi setiap perkataan yang terucap dari bibir Gendhis.
PLAKK!
Dengan sisa tenaga miliknya, Hartono yang sedari tadi hanya diam dengan cepat membalikkan tubuh putrinya yang sudah berani menentang mertuanya. Kali ini, untuk yang pertama kalinya tangan tua itu harus rela menyakiti putrinya.
"Bapak mohon, bersimpuh dikaki orang tuamu ini dan minta maaflah!" pinta Hartono dengan menangis, hatinya sangat sakit karena telah menampar putri kesayangannya itu.
"Bapak ...!" teriak Gendhis yang juga tak percaya jika dirinya ditampar oleh bapaknya.
Dia lebih memilih lari dan meninggalkan bapak serta mertuanya diruang tamu yang tak seberapa besar itu.
"Hentikan langkahmu!" Dika meraih tangan Gendhis yang ingin merangsak masuk dalam kamar.
"Kenapa mas!, apa kali ini kamu akan menamparku juga!" ucap Gendhis sambil terbata-bata.
"Tidak, mulai hari ini akan aku jatuhkan talak satu pada dirimu!" jelas Dika dengan kesungguhan hatinya.
Dia yang sudah terluka akibat perkataan Gendhis yang menginjak-injak harga diri orang tuanya, kali ini Dika tak hanya tinggal diam begitu saja. Ia memilih membela orang tuanya dari pada hanya diam membisu.
Gendhis yang tak memberikan penjelasan hanya terus meraung menangis didalam kamar.
"S-ss-saya mohon pak Pras, dan Sumitra. Mohon ampuni ucapan Gendhis yang sungguh tak pantas itu, jika ingin marah atau menghukum saya lebih pantas dari pada putri saya. Karena saya sebagai orang tua sudah tak bisa mendidik anak itu dengan baik!. tolong maafkan saya!!" pinta Hartono yang terus bersimpuh dikaki Prasetyo.
"Pak, coba liat lak Hartono. Tolong bangunkan badannya pak!" pinta Sumitra yang sama sekali tak menghiraukan lagi ulah Gendhis.
Tetapi berbeda dengan Prasetyo, tubuhnya terasa kaku kali ini karena menahan amarah yang begitu dalam pada Gendhis. Bahkan perkataan Sumitra pun tak dapat menembus hatinya sedikitpun.
"Ayo kita pulang buk!" ujarnya sambil menyeret kakinya yang sedari tadi sudah dipegang oleh Hartono.
"Paaak!" rengek Sumitra untuk mengakhiri semua ini dengan baik.
"Aku bilang cepat!," dia pun menyeret lengan istrinya segera dari rumah tua itu.
Dika yang juga sudah mengeluarkan talak satu untuk istrinya, lebih memilih keluar dari rumah itu.
🖤
Tepat jam 9 malam waktu setempat, sebuah bus kecil terlihat berhenti di tepi jalan desa. Kali ini, Hendra yang tengah pulang ke desa setelah beberapa bulan kepergiannya untuk bekerja dikota.
"Selamat datang ...!" sambutnya pada dirinya sendiri sambil membentangkan ke dua tangannya.
__ADS_1
Dia terlihat sungguh bahagia untuk kali ini. Dengan cepat, Hendra pun memutuskan untuk berjalan menapaki jalan desa untuk segera pulang ke rumah orangtuanya.
"Dika!" sapa Hendra dikegelapan sambil menenteng sebuah tas.
Dika hanya menoleh dengan raut masam pada Hendra saat itu.
"Apa kabar?, kenapa malam-malam begini masih diluar"
Dika yang enggan menanggapi basa-basi dari pemuda yang akan menjadi saingannya didesa, lebih memilih pergi begitu saja dan menghilang dalam kegelapan.
"Dika ... Dika. Masih saja belum berubah kamu" seru Hendra.
"Assalamu'alaikum... pak buk!"
Sapa Hendra dibalik pintu rumahnya dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Ya Allah le, kamu pulang nak!" sambut Puput yang tengah mengaji diruang tamu sambil terduduk.
Sementara Tri yang sudah bersiap tidur segera keluar dari kamarnya sambil melipat sarung yang tengah ia kenakan.
Flashback Hendra.
"Bu, kali ini saya ingin ijin pulang sebentar untuk berkunjung ke rumah orang tua saya jika diperbolehkan dengan ibu." tutur Dika pada Paramita.
"Tentu boleh, kamu pulang saja. Saya beri waktu 1 minggu lamanya untuk kamu mengunjungi mereka disana" tutur Paramita selaku atasan Hendra.
Hubungan keduanya cukup terjalin bagus, bahkan Paramita yang tak segan menganggap Hendra seperti putranya sendiri.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1