
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya ☄️...
"Pak, buk. Hendra ingin segera menikahi Sofia sebelum kembali ke kota" ucap Hendra.
Tri beserta Puput yang tengah menikmati makan malam dimeja sedikit terkejut dengan permintaan putranya.
"Kenapa terburu-buru le, masih belum genap 100 hari kepergian nenek Sofia." ujar Puput dengan penuh ketelitian.
"Biarkan saja bu, Hendra berhak menentukan segalanya. Lagian lebih baik secepatnya sah dari pada nunggu lama-lama tanpa ikatan, nggak baik"
Setelah cukup lama berdiskusi bersama, kedua orang tua Hendra akhirnya menyetujui hal itu tanpa ragu. Keduanya yakin jika Sofia adalah gadis yang tepat untuk putranya kelak.
Hendra yang telah mendapatkan restu, ia segera mengabari Sofia untuk mengurus segala keperluan pernikahan mereka dengan cepat.
"Ini mas," Sofia menyerahkan beberapa surat penting miliknya untuk di urus oleh Hendra.
"Mas bawa ya, mulai sekarang tolong janji dengan mas kalau kamu akan menjaga baik-baik anak itu" ucapnya lirih sambil tersenyum.
Sofia mengangguk senang.
🖤
"Ayo cepat keluar semua!" suara seorang penjaga tahanan berteriak.
Seluruh penghuni sel dikeluarkan untuk mengikuti kelas binaan selama dirutan. Terlihat Dika dengan teman satu selnya pun berhamburan keluar untuk segera menuju sebuah ruangan perpustakaan yang terletak diluar sel. Semua warga binaan dapat menyibukkan waktunya dengan membaca koleksi buku-buku yang tertata rapi disana untuk menghabiskan waktu luang.
"Aku ra iso moco pak!" seru Darto, teman satu sel Dika.
"Duh, makanya belajar. Jangan mau diperbodoh dengan jaman!" tegas seorang penjaga dibelakangnya.
Darto yang kesal dengan hari ini, hanya menggerutu sepanjang jalan tanpa kejelasan.
"Sini bang, biar aku ajarkan kamu membaca," Dika menawarkan dirinya dengan baik.
"Nah tu, coba kau belajar dengan temanmu ini !" ucap penjaga.
__ADS_1
"Bolehlah" ujar Darto malas-malasan.
Darto hanyalah seorang lelaki dengan pendidikan rendah, ditengah perjalanan dalam menempuh ilmu dia dengan terpaksa harus putus sekolah karena keadaan ekonomi yang terbatas. Akhirnya ia pun hanya mengincip bangku sekolah hingga kelas 1 SD saja.
"Bang berikut ini adalah semua huruf abjad, kali ini Abang bisa baca dengan perlahan dan coba ingat satu persatu dengan baik" tutur Dika yang sudah menyiapkan secarik kertas dan menuliskan seluruh huruf dengan lengkap disana.
"Ah, yah yah. Bakal aku coba dulu" timpal Darto.
Tak terasa sepanjang hari Dika sudah menghabiskan waktunya hanya untuk mengajarkan Darto membaca. Ia kali ini terlihat lebih telaten dalam mengajari pria dengan tubuh yang dipenuhi oleh tato itu. Sebagian wajah Darto pun, telah ditato dengan sempurna.
Setelah beberapa jam kemudian, Darto yang telah berhasil menghafal sebagian huruf tersebut tampak menghadap Dika untuk setoran bacaan.
"Mulai bang,!" seru Dika semangat.
Darto yang mendapati semangat dalam raut wajah Dika, ia pun segera menyebutkan satu persatu huruf itu dengan baik. Dia terus mengingatnya dan mengulang kembali dihari itu.
"Alhamdulillah, bagus bang!. Keren, aku salut dengan kamu bang." puji Dika.
"Ah, kau saja yang telaten ajari aku!" seru Darto.
Dalam ruangan sel tersebut, terdiri dari lima orang tahanan didalamnya. Di sana adalah narapidana dengan kasus pembunuhan semuanya. Termasuk juga dengan Dika, ia yang dituduh melenyapkan nyawa nenek Sofia harus di masukkan dalam sel tersebut.
Tetapi, betapa beruntungnya Dika disana. Tuhan seolah memberikan sebuah kebaikan bagi dirinya kali ini, semua teman dalam selnya itu adalah orang-orang baik. Mereka disana tidak pernah main hakim sendiri dalam menerima teman sel baru seperti Dika.
Semuanya justru terlihat saling bertukar pikiran dan masa lalu kelam mereka disana. Dan momen ini sangat berharga bagi Dika untuk kehidupan kedepannya nanti.
"Bukanya kamu sudah berkeluarga Dik?" tanya Darto dalam gelap malam.
"Iya bang, aku sudah menikah dengan seorang gadis yang tak pernah aku impikan untuk menjadi istriku!" jelas Dika sambil berbaring di atas alas tikar dibawah terang lampu remang disana.
Beberapa diantara mereka bangun dari tidurnya untuk mendengarkan kisah Dika selanjutnya.
"Kami dinikahkan dengan paksa bang!"
"Bisa begitu?"
__ADS_1
"Yah, semua ini salahku bang. Dulu sebelum aku berjumpa dengan istriku sekarang, aku tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis didesa ku. Dia adalah bunga desa dikampungku bang!" ujar Dika yang kali ini lebih memilih untuk duduk dan melipat kedua kakinya.
"Cantik pasti"
"Yaiya, namanya bunga desa iku pasti cantik kan?!" seru beberapa teman Dika.
"Oh, intinya kamu selingkuh" tebak Darto yang tengah tau kemana alur cerita Dika disana.
Pria itu mengangguk lemas.
"Cinta itu memang begitu, terlihat sangat manis dan menggoda. Tetapi sekali kamu terperosok didalamnya, kamu akan menemukan segudang racun didalamnya jika kamu memutuskan untuk berselingkuh!" kenang Darto dengan menitihkan air mata.
Ia pun kembali mengenang kejadian nahas malam itu, dibawah guyuran hujan petir malam hari dirinya menemukan sang istri telah bercumbu mesra dengan lelaki lain tanpa sepengetahuan dirinya.
Darto yang baru saja pulang kerumah setelah ia seharian penuh menghabiskan waktu untuk bekerja, harus menelan pil pahit saat menyaksikan perselingkuhan itu.
Tak ada pikiran lain ketika ia menyaksikan kesakitan itu, jangankan untuk memanggil nama sang istri. Lidahnya justru memilih untuk kaku dan tidak berbicara sedikitpun, ia yang saat itu sudah gelap mata tidak memikirkan hal lain. Yang terpikir hanyalah, bagaimana cara melenyapkan lelaki bedebah yang sudah berani menyentuh sang istri.
Dirinya dengan cepat berlalu ke dapur untuk mencari sebilah pisau, tapi sayang ia tak dapat menemukan pisau itu disana. Sampai pada akhirnya ia keluar rumah untuk mencari sebuah benda untuk memukul lelaki itu. Tangannya tertuju pada sebuah batu bata disana, ia lalu mengutip batu bata itu sebanyak 2 biji.
Masih didalam ruangan yang sama, saat mereka berdua tengah berada dipuncak kenikmatan dengan deru nafas yang cepat. Darto kali ini dengan cepat menghujam lelaki tersebut dengan dua balok batu yang ada ditangannya. Dirinya memukuli pria itu dengan penuh kekuatan dan teriakan yang sangat keras, hingga akhirnya lelaki itu timbang bersimpah darah dikamar tanpa perlawanan.
"Setidaknya, kamu masih lebih beruntung dariku Dik!" jelas Darto lemas.
"Tidak bang, Gendhis istriku tak lebih baik dari pada mantan pacarku!" timpal Dika sedih.
Dengan perasaan pilu, Dika pun menceritakan sedikit kisahnya pada mereka. Disana ia menjelaskan bagaimana sikap kurang ajar istrinya pada kawan satu selnya, dan Dika juga menceritakan bagaimana dia memperlakukan Sofia dengan keji sebagai pacarnya dulu.
"Itulah, yang dinamakan setiap perbuatan pasti akan kita tuai juga hasilnya!" seru lelaki kurus dengan perawakan sangat tinggi yang biasa disebut Ucil oleh mereka.
Ia yang sangat terkesan cuek dan tak mau tau tentang urusan orang lain, rupanya kali ini menyimak semua cerita temanya.
...----------------...
Bersambung ❤️
__ADS_1