Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Nikah


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya ⚜️...


Hari ini disebuah masjid yang tak jauh dari kediaman Hendra dan Sofia telah dilaksanakan akad nikah bagi keduanya.


Dihari yang penuh dengan kebahagiaan ini, Sofia terlihat sangat cantik dengan gaun putih khas adat jawa dan make up yang membuat dirinya terlihat lebih cantik dan menawan.


"Duduk disini" ujar seorang perias yang tengah menghantarkan dirinya untuk duduk dekat disamping Hendra.


Dengan sebuah kain putih yang menutupi kepala keduanya, dengan cepat Hendra mengucapkan ijab begitu lantang dan lancar.


"Saaahhh" seru para saksi yang turut hadir disana.


"Mas," ujar Sofia pada dirinya sambil meraih tangan Hendra dan menyunggingkan senyum manis di bibirnya.


Acara kali ini memang dipilih keduanya untuk dilaksanakan sesingkat mungkin, karena Hendra tidak ingin jika sampai Sofia merasa tidak nyaman dengan serangkaian prosesi yang akan membuatnya lelah nanti.


Pada acara keduanya kali ini, langit terlihat begitu mendung dan tak terlihat cerah sedikitpun. Tampak disana para tamu undangan juga segera menuju rumah Hendra untuk menikmati hidangan yang telah mereka siapkan.


"Apa semua ini sah! , jika wanita itu saja sedang mengandung anak orang lain?!" pekik Dika dalam kerumunan orang.


Kedua orang tuanya yang menyadari kedatangan dirinya disana, sangat terkejut melihat tingkah Dika yang sudah lama diwanti-wanti oleh Prasetyo.


"Dikaa !!" teriak Prasetyo murka.


"Tidak pak, kali ini Dika meyakini perkataan Dika dengan sungguh-sungguh" terangnya tegas.


Tak perlu menunggu lebih lama lagi, Prasetyo yang sudah sangat murka itu berlari menuju rumahnya untuk mengambil sebuah parang laras panjang miliknya untuk menunaikan ucapannya. Dia sudah tak punya lagi batas sabar untuk putranya yang sudah terlewat batas itu.


"Apa kau lihat ini?!," nafasnya sengal dihadapan anaknya itu karena telah berlarian sepanjang jalan.


"Silahkan tebas saja kepalaku ini pa, jika memang benar adanya aku berbohong!" tantang Dika, tapi matanya tetap saja menatap Sofia yang sudah ketakutan disamping Hendra .


"Dikaaa diam kam-u ..." Parang itu tengah diangkat setinggi mungkin dari tangannya.


"Bapaaak!!" teriak Sumitra yang sudah berderai air mata.


Sementara para warga disana hanya bisa terdiam melihat aksi Prasetyo, meraka juga tidak ingin melerai keduanya karena tak ingin mencampuri masalah keluarga itu.

__ADS_1


"Hentikaaan ..." Sofia berteriak sekencang mungkin dengan nada bergetar.


Kali ini dengan lantang, dan sekuat tenaganya Sofia memberanikan dirinya untuk berucap ditengah-tengah kerumunan itu.


"Benar yang mas Dika ucapkan!" suaranya sangat bergetar dan bibir merahnya terlihat sangat pilu ketika melontarkan semua kenyataan itu.


Tetapi tangan Hendra tak sedikitpun mengendur untuk tetap menggandengnya. Cengkraman itu, kini terlihat lebih erat dari pada di awal.


"Sofia memang tengah hamil pak, dan dia adalah anak mas Dika !" tegasnya kembali kepada Prasetyo.


Mendengar ucapan Sofia, benda tajam dan memiliki panjang yang tak main-main itu diturunkan seketika disana. Tangan Prasetyo mendadak lemas ketika mendengar hal itu.


"Coba bapak dengar!, betulkan apa yang Dika ucapkan?" serunya tanpa rasa malu sedikitpun.


Lain lagi dengan perasaan Tri dan Puput, bagaikan tertusuk sembiluh mendengar semua kenyataan pahit ini. Meski seperti itu, sama sekali tak menghilangkan rasa sayangnya yang begitu besar pada Sofia. Mereka berdua hanya miris melihat nasib gadis itu yang kini telah resmi menjadi menantunya.


"Apa benar yang kamu katakan nak!," seru Prasetyo dengan menggelengkan kepalanya.


Tatapan matanya begitu sangat sedih disana, karena harus menyaksikan betapa hancur hati gadis yang begitu ia sayangi disana.


Karena tubuhnya lemas, parang itupun terhempas ke tanah dan jatuh dari genggaman tangannya. Prasetyo menangis pilu, entah berapa banyak lagi borok anaknya itu yang belum terbongkar dihadapannya.


"Kalau begitu,kembalikan Sofia kepadaku!" ucap Dika lantang dihadapan Hendra.


"Tidak akan pernah !, sekali milikku dia tetap milikku." pungkas Hendra pasti.


"Kau bukan bapak dari anak itu!, lalu kenapa kau masih saja menikahinya." tanya Dika sambil membara.


"Meski tidak ada darahku yang mengalir ditubuhnya, aku akan pastikan semua rasa cintaku dan sayangku padanya akan mengalir terus untuknya tanpa henti." sumpah Hendra .


Semua warga disana, dibuat kagum dengan aksi pemuda tersebut. Bagaimana tidak, ia siap bertanggung jawab atas anak yang bukanlah menjadi darah dagingnya sendiri. Bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.


"Jangan pernah bermimpi bisa memiliki anakku!" tegas Dika tak main-main.


"Dia juga anakku, dan kali ini dia telah menjadi anak mas Hendra juga. Aku harap, kamu bisa dengan bijak melepas kami berdua ke tangan orang yang tepat." tutur Sofia yang sedari tadi menahan amarahnya.


"Dia milikku!, Dan kau pun milikku!" ucap Dika egois.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah mau kemabali denganmu mas!" teriak Sofia.


"Apa sudah jelas bagimu!" sahut Hendra kesal sambil mengepalkan tangannya.


Persaingan sengit diantara keduanya tak tadapat terelakkan disana, sampai akhirnya semua terhenti seketika waktu Sofia mengerang kesakitan.


"Akkh, tolong aku mas!" rintih Sofia .


"Sofia!" pekik Dika yang mencoba meraih tubuh Sofia tapi ditepis dengan keras oleh Hendra .


"Jangan pernah lagi berani menyentuh istriku!" tegasnya lantang dengan tatapan mematikan.


Dika yang menyadari posisinya tengah kalah telak, mencoba mengurungkan niatnya dan hanya menyaksikan tubuh Sofia dibopong oleh Hendra pergi dari sana.


"Tenanglah, aku akan membawamu pulang sayang!" tutur Hendra panik.


Tak lama kemudian, Hendra pun membaringkan tubuh istrinya tersebut diatas ranjang dan membantunya untuk mengendurkan balutan kain merah yang melingkar di bagian perutnya dan mengakibatkan rasa sesak bagi dirinya.


"Maaf ya mas" sahutnya lirih ke arah Dika karena merasa sangat bersalah hari ini.


"Gimana istrimu nak?" tanya Tri dan Puput yang mengikuti mereka berdua didalam kamar.


"Alhamdulillah, sudah baikan pak buk. Tolong maafkan Sofia ya pak buk, kalian bisa melampiaskan semua kemarahan kalian padaku " suaranya lesu dan menangis.


"Tidak, tenangkan dirimu. Kami ada bersamamu nak!" ucap Prasetyo menguatkan menantunya itu.


"Kalau begitu, bapak dan ibu saja ya yang temani para tamu diluar. Hendra mau temani Sofia saja disini." pinta Hendra.


Kedua orang tuanya itu, menuruti semua permintaan Hendra dengan cepat. Mereka juga tidak ingin jika sampai mengecewakan para tamu undangan diluar rumah tanpa disambut dengan ramah.


"Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, silahkan dinikmati hidangannya. Mari ayo silahkan" tutur Tri.


"Pak, ibu sangat malu" rintih Puput dengan menutupi wajahnya.


"Hush!, hentikan omongan itu. Anak kita saja dengan gagah membela kebenaran kenapa kamu malu buk!" tepis Tri.


Puput hanya bisa tertunduk ketika suaminya berkata seperti itu, dan dia hanya memilih diam untuk mendampingi suaminya disana.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung ❤️


__ADS_2