Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Perayaan kecil


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya🌴...


"Assalamu'alaikum" ucap Sofia didepan pintu rumah Hendra.


Hendra dan ke dua orang tuanya menyambut gadis tersebut dengan penuh suka cita.


"Ayo masuk," ajak Hendra pada Sofia.


"Duduk sini nak" ujar Tri.


"Sendirian saja, mana si mbah Sof?" tanya Puput ibu Hendra.


"Maaf si mbah, kurang enak badan dirumah jadi saya sendirian buk" jelasnya.


Puput yang baru saja berlalu dari dapur, telah menyiapkan beberapa piring dengan isi nasi kuning komplit didalamnya. Sebagai rasa ucap syukur mereka bahwa putranya dapat menempuh pendidikan dengan baik.


Mereka berempat pun terlihat duduk bersama disebuah meja makan sambil menyantap hidangan malam itu. Setelah selesai menikmati masakan Puput, Sofia disana terlihat membantu membersihkan piring kotor dan mencucinya didapur.


Dirinya memang gadis yang tidak pernah segan untuk turun langsung ke dapur ataupun membantu sesama.


"Sudah Sof, gimana ini tamu kok sampai harus cuci piring." tutur Puput malu terhadap Sofia.


"Ndak papa bu, Sofia juga sudah terbiasa dengan hal seperti ini." jelas Sofia menjelaskan semua aktifitasnya dirumah.


Puput memandang Sofia dengan bangga disana, dirinya yang tanpa tanpa diminta pun juga membersihkan seluruh dapur Puput sampai bersih.


Setelah semuanya selesai, Sofia lalu berpamitan disana untuk segera pulang kepada Tri dan juga Puput selaku orang tua Hendra.


"Pak, buk. Karena sudah selesai Sofia ijin pamit pulang dulu nggeh" ujarnya penuh kesopanan.


"Tunggu, bawa ini untuk si mbah dirumah. Ibuk sudah menyiapkan nasi kuning juga untuk mereka." jelas Puput memberikan buah tangan untuk Sofia.


"Ah, terimakasih banyak ya bu. Pasti si mbah seneng banget ini" sahutnya penuh gembira.


Sementara Hendra yang sedari tadi sudah menunggui Sofia diteras rupanya sudah tak sabar untuk segera mengantarkan Sofia pulang. Sesekali terlihat kepalanya melihat ke dalam rumah, untuk memastikan Sofia sudah berlalu dari sana.


"Eh mas, Sofia pamit ya" tutur Sofia.


"Iya, aku antar kamu sampai depan rumah" jelas Hendra sambil tersenyum penuh keikhlasan.


Keduanya pun akhirnya berjalan menuju rumah Sofia yang tak terlampau jauh dengan tempat tinggal Hendra. Suasana saat itu memang masih remang-remang, akses penerangan jalan untuk desa ini memanglah masih jauh dari kata baik.


Jadi masih banyak jalanan yang tak diterangi oleh sinar lampu disana.


"Mas, habis ini mau kerja dimana?" tanya Sofia.

__ADS_1


"Belum tahu, masih mau berunding dulu dengan bapak dan ibuk" jelasnya sambil melipat kedua tangannya ke belakang.


"Semoga mas Hendra mendapatkan pekerjaan terbaik ya, sesuai keinginan mas" harapan Sofia.


"Aamiin ..." sahut Hendra singkat.


Akhirnya mereka berdua saat itu tiba dirumah Sofia, karena malam memang sudah mulai larut Sofia pun tidak mengajak Hendra untuk bersinggah sebentar dirumahnya.


Dirinya adalah gadis desa yang selalu menjunjung tinggi adat istiadat didesa tersebut.


Hendra pun meninggalkan dirinya sambil melambaikan tangan dan tersenyum.


Perasaan aneh macam apa ini Hen, suka khawatir rindu serta sedih saat berjauhan dari dirinya bercampur aduk menjadi satu. Apa benar ini cinta?. gumam Hendra dikesendirian malamnya.


*


*


*


"Iih jijik sekali sih," seloroh Gendhis yang tengah membantu Sumitra menggoreng ikan.


Pantas saja ia selalu mengeluh seperti ini, semenjak dirinya kecil hingga tumbuh dewasa tak pernah sedikitpun menginjakan kaki didapur dan menyiapkan makanan. Saat itu semuanya dilakukan dengan penuh ikhlas dan kasih sayang oleh bapaknya.


Bukan karena orang tua renta itu mengajarkan hal yang manja pada putri semata wayangnya, melainkan dia sadar betul bagaimana ulah putrinya sejak kecil jika tidak dilayaninya dengan baik.


"Dih, ogah. Ibuk aja sana yang goreng semua. Aku tunggu matanya aja dikamar." tingkahnya semakin menjadi.


Belum sampai masuk ke dalam kamar, ia berpapasan dengan Prasetyo tepat didepan pintu yang baru saja pulang bekerja.


Dengan kikuk, Gendhis pun mencoba menutupi dengan kebohongan.


"Ibuk nyuruh Gendhis dikamar aja tadi pak," dirinya mengarang indah sebuah cerita dan segera berlalu dari hadapan Prasetyo yang sudah ingin mencacinya lagi.


Prasetyo hanya menggelengkan kepalanya saat mendapati Gendhis yang masih saja tak kunjung berubah setiap harinya.


"Buk, buk ..." panggilnya.


"Iya pak, ini tehnya" sambut Sumitra yang sudah mengetahui kedatangan dirinya.


Sambil menyeruput minumannya, Prasetyo pun menanyakan keberadaan Dika saat itu pada Sumitra.


"Di mana anakmu" nadanya mulai kesal.


"Dika keluar cari pekerjaan katanya pak" tutur Sumitra.

__ADS_1


"Gampang sekali dirimu dikibuli sama bocah satu itu. Malam-malam begini mana ada pekerjaan," Prasetyo terlihat menggerutu kesal.


"Kita percaya saja dengan Dika pak, jangan berpikiran buruk terus sama dia. Nggak baik" Sumitra mengingatkan.


"Tanpa aku berpikir buruk tentang bocah itu, dia selalu berkelakuan buruk buk." umpat kesal Prasetyo pada putranya.


Karena Sumitra merasa semua penjelasannya dimentahkan oleh suaminya, dirinya pun melanjutkan aktivitasnya didapur dengan segera. Saat dirinya sudah menyiapkan segala makanan diatas meja makan, dengan bersamaan Dika yang baru saja datang dari luar masuk kedalam rumah dan Gendhis juga baru saja keluar dari kamarnya.


Keduanya terlihat kompak mendatangi meja makan saat itu tanpa wajah berdosa sedikitpun.


"Siapa yang suruh kalian berdua duduk disini," ujar Prasetyo yang masih sibuk dengan makanan di piringnya.


Dahi Gendhis terlihat berkerut dan wajahnya berubah kesal, tanpa basa-basi lagi ia segera berdiri dari sana dan meninggalkan meja makan.


Dika yang baru saja menginjakkan kakinya dirumah tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan tanganya tampak ragu menyentuh piring.


Sumitra yang berada didekatnya, lalu mengambilkan sebuah nasi keatas piring milik Dika, senyum Dika pun sumringah bahagia dibuatnya.


Karena sudah sehari penuh perutnya masih kosong belum terisi apapun.


"Dari mana kamu," tanya Prasetyo bak malaikat pencabut nyawa bagi Dika.


"Anu pak anu ..." Dika terbata-bata menjelaskan hal tersebut.


"Ngana nganu, apa hah?. Lihat istrimu, dia juga perlu kamu didik dengan benar. Tugas kami disini hanya mendampingi kalian, dan mengarahkan yang baik." ujar Prasetyo.


Dika seketika tertunduk dan mengambil nasinya yang sudah mulai dingin. Ia begitu lahap makan malam hari itu, kali ini Dika memang benar-benar tengah mencari pekerjaan sepanjang hari.


Flashback Dika.


"Pak tolong terima saya bekerja ditempat ini,saya butuh sekali pak" ucapan Dika dibeberapa tempat pekerjaan tapi tak membuka lowongan disana.


Dirinya pun mendapati penolakan bertubi-tubi hari ini, kali ini Dika benar-benar menyadari apa daya dirinya jika selama ini orang tuanya tak mendompleng ia sama sekali. Meski bapaknya memiliki nama baik didesa, dan hampir semua orang menyegani beliau tetapi hal tersebut sama sekali tak dapat menolong dirinya untuk mencari sebuah pekerjaan di manapun.


Dimana pun Dika berada, Dika tetaplah Dika. Ia tidak bisa membawa pangkat atau jabatan ayahnya untuk melamar sebuah pekerjaan.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️

__ADS_1


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.


Terimakasih


__ADS_2