
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya☘️...
"Mas!" ucapnya lirih sambil terus menatap angin yang sedari tadi menggulung Dika.
Sofia yang meyakini itu adalah wujud dari Dirga, ia pun mencoba lebih dekat dengan wujud angin aneh tersebut. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah menjumpai hal seperti ini.
Saat dirinya mendekati angin tersebut dan berkata "Aku ikhlas mas,".
Angin yang tadinya bertiup cukup kencang disana, berangsur-angsur menghilang untuk menyapu wajah Dika.
"Gila kamu ya!, sejak kapan orang mati kamu panggil-panggil terus namanya!" seru Dika memaki Sofia.
"Lebih baik kamu pulang, mas Dirga juga tidak ingin melihatmu disini" tuturnya tegas.
Bulu kuduk Dika seketika merinding seluruh tubuh, ia yang mendengar ucapan Sofia lantas pergi begitu saja secepat mungkin.
Apa benar itu tadi Dirga!, apa iya orang mati itu bisa gentayangan lagi diluar. Kalau memang benar angin itu tadi jelmaan diri Dirga, besuk lusa dia bakal menakutiku dengan apalagi. Iiiikh, Dir ... diem-diem aja disana, jangan balik kesini lagi. gumam Dika yang sudah ngelantur terlalu jauh.
"Sofia pamit ya mas, janji sama Sofia disana. Yang tenang, kita semua disini sudah ikhlas melepasmu sebaik mungkin."
Ucap Sofia yang hendak meninggalkan makam Dirga, makam yang terlihat masih basah itupun terlihat sangat penuh ditaburi bunga diatasnya. Dan tercium aroma wangi disana.
Dika yang sedari tadi ketakutan akan ucapan Sofia, memutuskan untuk kembali ke rumah dan menutup rapat-rapat pintu rumah istrinya.
"Mas, mas ...!" sentak Gendhis.
Ia yang mendapati sikap aneh Dika pun melayangkan semua amarahnya.
"Kamu ini kenapa si, lari kayak orang kesetanan begini !"
"Ssssttt, jangan bahas setan-setan kenapa sih!" jarinya ditempelkan untuk membungkam mulut comber Gendhis.
Gendhis yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dika dengan segera membuang tangan suaminya.
"Jangan ngaco deh mas!, mana ada juga setan didunia modern begini. Yang ada setan itu gentayangan dengan sesama jenisnya!" omel Gendhis yang tak pakai otak.
"Aaaaakh!, kamu mesti banyak bacot!" Dika kembali marah dan membanting pintu ruang tamu yang kali ini ia buka selebar-lebarnya.
"Nah, lo. Mau kemana kamu, enak aja mau masuk ke kamar!. Sini setor dulu duitnya dong!"
"Otakmu didengkul po piye!, aku ini dari makam kamu mintain uang" maki Dirga.
__ADS_1
Gendhis menggerutu kesal, karena tak dapat lagi memintak hak nya sebagai seorang istri.
"Uhuk, uhuk ..." suara sakit batuk yang masih saja membelenggu diri Hartono kian hari semakin parah.
"Duuh pak!, Gendhis risih lo sama suara batukmu itu, bisa nggak pelan-pelan aja kalau batuk!"
"Iyah" terddngar suaranya semakin serak saat menyusuri Gendhis.
Orang tua yang sebatang kara itupun tak terawat dengan baik oleh anaknya, semenjak kedatangan Gendhis ke rumahnya lagi ia tak merasa tenang hidupnya. Baik Gendhis maupun Dika hanya bisa menciptakan keributan tak berarti baginya. Sementara ia hanya bisa bertahan untuk melanjutkan umurnya yang semakin hari sudah semakin berkurang.
"Gendhis pergi dulu yah!, jaga rumah. Ini tolong masakin buat Gendhis nanti," sebuah uang 5 ribu rupiah ia lemparkan ke wajah ayahnya dengan kasar.
Tanpa perlawanan ataupun menasehati putri semata wayangnya itu, ia hanya bisa menghela nafas sedalam-dalamnya ketika harus melihat semua sikap Gendhis.
Braaakkk!
Pintu itupun terlihat dibanting oleh Gendhis dengan kuat, sementara Hartono sambil gemetar ia mencoba keluar dari dalam rumahnya dan menuju ke sebuah toko kelontong yang tak jauh dari rumahnya.
"Buk, buk ..." serunya.
"Nggeh pak, mau beli apa?" suara wanita pemilik toko tersebut.
Wanita tersebut kerap kali membantu Hartono dalam kesehariannya, meski tak jarang pula uang Hartono kurang untuk membayar semua belanjaan miliknya ia tetap melayani lelaki tua itu dengan penuh kesabaran.
Karena merasa iba melihat kondisi Hartono, apalagi dia tidak pernah di urus dengan baik oleh putrinya wanita tersebut pun memberikan sekantong beras bersama 2 butir telur untuknya. Bagi pemilik toko tersebut, saat melayani Hartono sehari-harinya ia menganggap itu semua adalah bentuk sedekah darinya.
"Ini nggeh pak, hati-hati dijalan" tuturnya lembut.
Dirinya pun kembali pulang dengan langkah kaki gemetar dan sebuah tongkat kayu milinya untuk menyangga tubuhnya.
Dari arah yang berlawanan, ia pun berjumpa dengan ke dua besannya yang hendak pergi ke rumahnya untuk menjumpai dirinya.
"Ya Allah, keterlaluan dua anak itu!" seru Prasetyo.
Ia pun segera menghampiri Hartono dengan langkah kaki yang setengah diseret karena dipaksakan untuk berjalan.
"Kenapa nggak suruh Gendhis aja pak Har?" tanya Sumitra.
"Gendhis pergi buk" tuturnya.
Dengan geram dan menahan semua amarahnya, ia pun membantu besannya tersebut untuk masuk ke dalam rumah dengan segera. Sementara Sumitra yang sudah mengetahui apa yang tengah dibawah oleh Hartono dengan cepat ia membantu untuk memasakkan semua itu.
__ADS_1
"Dimakan dulu pak Har, biar saya saja yang masak dibelakng" ucapnya lembut sambil menyiapkan sepiring bubur hangat untuk orang tua tersebut.
Sumitra dengan lincah memasak semua itu diatas sebuah tungku jadul milik Hartono, ditengah kepulan asap kayu saat memasak ia pun tak pernah membayangkan bagaimana lelaki tua itu setiap harinya harus menghirup asap pekat seperti itu.
"Gendhis!!!" teriak Dika dari dalam kamar.
Hartono yang hendak berdiri menghampiri Dika dikamar, ia pun dicegah oleh Prasetyo.
"Monggo duduk pak, kalau boleh biar saya saja yang masuk". ucapnya, sementara Hartono patuh dan mengangguk.
Dika yang sedari tadi enak-enakan tidur dikamar, begitu kaget melihat kehadiran bapaknya disana.
"SETAN!!!" teriak Dika ngawur.
PLAKK PLAKK
Tamparan keras Prasetyo coba membuyarkan mulut dan pikiran ngawurnya.
"Enak-enakan disini, coba lihat bapak mertuamu di luar itu. Seperti orang kelaparan dia makan bubur, berapa hari nggak kau kasih makan hah?!". tutur Prasetyo lirih ketika memarahi anaknya, sambil menunjuk wajah Dika. ia pun tak ingin jika obrolan keduanya sampai terdengar oleh Hartono diluar sana, dan sampai membuat hatinya tersinggung.
"Aaa-anu pak, yang masak kan Gendhis" pembelaan Dika.
"Sini kamu!" seret Prasetyo pada putranya tersebut.
Dia yang mengajak Dika untuk melihat bapak mertuanya itu pun mengundang rasa iba dihatinya. Dika sudah paham betul akan sikap istrinya, tapi mau bagaimana lagi sekuat apapun Dika memarahinya ia tak dapat mengubah sikap keras kepala Gendhis.
Hartono begitu lahap menyantap bubur hangat tersebut, memang sudah 3 hari lamanya ia menahan lapar perutnya yang kosong tak terisi apapun melainkan air putih saja.
"Lain kali, kalau kau memang tak punya uang pergi ke rumah ambil makanan untuknya!. Apa matamu ini juga sudah rabun, sampai kau tak bisa membedakan mana orang lapar atau kelaparan. Jangan perutmu saja yang kau pikirkan!, mengerti." maki Prasetyo pada putra semata wayangnya itu.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
__ADS_1
Terimakasih