Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Sepucuk surat untukmu


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya🌙...


Kali ini, Tri beserta Puput tengah mengunjungi sebuah kantor pos sepulang dari mengajar. Keduanya mendapati kabar dari putranya untuk segera mengambil sebuah surat dan sejumlah uang yang Hendra kirimkan kepada keduanya.


Setelah menerima semua itu, keduanya pun lalu pulang dan memberikan surat itu untuk Sofia.


Seperti gayung yang bersambut, keduanya pun bertemu Sofia di tepi jalan raya yang tak jauh dari kediaman mereka berdua.


"Mau kemana nak?" sapa Tri pada gadis impian putranya tersebut.


"Eh, ya Allah Sofia kira siapa pak buk." tutur Sofia sambil mencium ke dua tangan mereka.


Puput lalu mengeluarkan sepucuk surat itu untuk dirinya.


"Kami, mau menyampaikan amanah ini untuk kamu Sof. Tolong diterima ya, ini surat dari Hendra yang sekarang tengah berada dikota" ucap Puput.


Sofia sungguh tak percaya, jika Hendra masih sempat berkirim surat untuknya meski berada jauh darinya.


"Enggeh buk, kemarin sebelum mas Hendra berangkat kami juga sudah bertemu disini" ujar Sofia sambil menunjuk jalan.


"Baiklah, kami pulang dulu ya. Kamu selalu jaga diri baik-baik, dan kalau kamu mau membalas surat dari Hendra itu bilang saja sama bapak ya. Akan bapak bantu kirimkan untuknya" jelas Tri.


Sofia sangat bahagia mendapati kasih sayang dari ke dua orang tua Hendra begitu besar terhadapnya.


Setibanya mereka dirumah, bertepatan dengan sebuah telepon berdering.


☎️"Hallo," suara Puput.


☎️"Assalamu'alaikum pak buk, gimana sudah diambil dikantor pos?" suara Hendra.


☎️"Baru saja, kami sampai dirumah ini le" suara Puput.


☎️"Bilang saja, kamu mau tanya surat itu kan?" suara Tri.


Hendra pun tersenyum malu diujung telepon saat mendapati suara bapaknya menggoda dirinya.

__ADS_1


☎️"Baiklah bu, Hendra tutup dulu teleponnya ya. Semoga apa yang Hendra kirimkan itu bisa bermanfaat buat bapak dan ibuk dirumah, Hendra kangen dengan kalian." suara Hendra menyudahi percakapan mereka.


"Loh kenapa nangis toh bu, baru ditelepon sama anaknya kok sudah nangis aja" ucap Tri.


"Hendra bilang kangen sama kita pak, ibuk kan jadi sedih. Disini juga ibuk nahan kangen sama dia" jelas Puput.


Tri yang mendengar luapan hati Puput sebagai seorang ibu, segera memeluk tubuh istinya dengan dekapan begitu erat. Bukan hanya Puput, Tri sebagai seorang ayah pun juga memiliki rasa rindu yang begitu hebat. Hanya saja, ia pandai menyembunyikan itu dan selalu terlihat kuat dan tegar melihat kepergian Hendra.


"Sudah, bagaimana biar ibuk senang kita buka aja kiriman dari Hendra ini buk" ajak Tri membuka sebuah kotak kiriman dari Hendra.


Setelah kotak itu berhasil dibuka sepenuhnya oleh mereka berdua, betapa terkejutnya meraka berdua dengan isi kiriman tersebut. Isinya adalah dua buah handphone untuk masing-masing orang tuanya yang sudah lama menginginkan benda tersebut. Tersirat senyuman manis diwajah mereka berdua disana.


Tak ketinggalan juga, ada sebuah plastik hitam yang terbalut tebal oleh isolasi putih disana.


"Kok keras-keras lunak ya buk. Kira-kira ini apa?" ujar Tri menggoda istrinya.


"Bapak ini loh, bisa aja. Coba pelan-pelan dibuka pak" titah Puput.


Dengan hati yang begitu penasaran, setiap ujung plastik tersebut digunting kecil oleh Tri saat itu. Karena bungkusnya terbalut dengan sempurna, ia tak ingin jika sampai merusak isinya. Benar saja, itu adalah sejumlah uang yang sudah Hendra bicarakan sejak kemarin.


Kali ini, bukan hanya Puput saja. Tri juga menitihkan air mata bangga terhadap putranya tersebut. Bagaimana tidak, ini adalah gaji pertama bagi Hendra. Dan ia lebih mementingkan ke dua orang tuanya dibandingkan dirinya sendiri.


"Semoga dimanapun langkah kakimu melangkah, kamu selalu dalam lindungannya le" tutur Tri sambil menangis, Puput pun mengaminkan do'a suaminya itu.


Sementara Sofia yang sudah kegirangan mendapatkan sepucuk surat dari Hendra, ia pun masuk ke dalam kamar dan mulai membuka amplop putih tersebut.


Didalam amplop putih itu, terdapat sebuah kertas dan beberapa sejumlah uang disana. Saat Sofia menghitung jumlah uang tersebut, jumlahnya sungguh tak main-main. Uang sejumlah satu juta itu diberikan Hendra pada Sofia dengan cuma-cuma.


Lalu jemarinya pun mulai membaca isi surat yang terlihat panjang disana.


Untuk Sofia.


Do'akan aku supaya cepat kembali kesana yah, dan tunggu aku juga. Jaga diri kamu baik-baik selama aku jauh dari kamu. Tapi aku yakin, meski aku nggak ada disamping kamu pasti sudah banyak yang jagain kamu buat gantikan aku.


Aku sangat merindukan kalian semua disana, karena disini terasa asing bagiku.

__ADS_1


Salam Hendra**.


Sofia hanya menitihkan air mata saat melihat betapa besarnya kebaikan Hendra pada dirinya. Ia pun berjanji akan menunggu lelaki itu sampai tiba saatnya nanti Hendra pulang dari kota.


Dengan penuh bahagia, ia pun membagi rasa bahagianya itu kepada kakek bserta neneknya saat itu. Sofia memberikan sejumlah uang yang tengah dikirimkan oleh Hendra untuk dirinya.


"Mbah, mbah ..." panggil Sofia.


"Iya, ada apa?. Mbah disini" ujar si mbah yang tengah duduk berdua.


"Coba lihat ini mbah," tunjuk Sofia yang tengah memegang sejumlah uang.


"Uang siapa itu Sof?, ini kan belum waktunya kamu dibayar sama buk Sumitra." tutur si mbah kebingungan.


Sembari duduk, Sofia lantas menceritakan semua isi surat Hendra yang dikirimkan pada dirinya. Si mbah pun menyimak dengan baik semua cerita cucunya tersebut sampai akhir.


"Dia baik ya" ucap si mbah.


Sofia mengangguk cepat dan tersenyum.


"Si mbah cuma berpesan pada kamu, setelah kejadian kamu dengan Dika kemarin jangan lagi memberikan sebuah harapan pada lelaki nak. Terlebih lagi jika lelaki itu menaruh harapan lebih terhadapmu, bisa saja hal kecil yang kamu lakukan bisa mengundang masalah diantara kalian. Jadi kalau si mbah lihat, Hendra mungkin punya rasa sama kamu. Hanya saja dia menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini padamu. Itu menurut penglihatan si mbah saja, yang tau seutuhnya hati Hendra ya dia sendiri" jelas si mbah yang selalu menasehati Sofia disetiap tindak tanduknya.


"Iya mbah, Sofia akan lebih berhati-hati lagi nantinya. Terimakasih si mbah tidak pernah jerah mengingatkan Sofia" ujar Sofia sambil memeluk erat keduanya disana.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2