Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Apa iya


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🤎...


"Mas," tanganya dengan manja bergelayut dipundak Dika.


Ternyata itu adalah sebuah trik Gendhis untuk memancing rasa cemburu dan amarah pada Sofia yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Sofia hanya melewati mereka tanpa arti, dan memilih untuk menuju Prasetyo dan Sumitra yang berjalan tak jauh dari mereka.


"Pak, buk." serunya menyapa mereka sambil tersenyum.


Keduanya meyakini bahwa jauh didasar hati Sofia sesungguhnya tengah bertanya-tanya akan hal ini. Dengan langkah kaki penuh keraguan, Prasetyo terlihat melangkahkan kakinya satu lebih depan dari pada Sumitra.


"Nduk, bapak yakin kelak kamu akan mendapatkan ganti Dika dengan yang lebih baik" ujarnya dengan penuh berat hati.


Sofia lalu memandang Sumitra yang tertunduk lemas disana, wajah itu seakan menyiratkan luka yang baru saja tergores hari ini. Tapi ia masih tetap memilih bisu tanpa penjelasa.


Lalu ia pun mendapati sebuah cincin yang sudah melingkar di jari manis Gendhis, kali ini tanpa sebuah penuturan yang jauh lebih jelas. Semua sudah tersirat dihadapan Sofia, ia pun tak memilih jalan untuk memberontak pada kenyataan ini. Ia hanya bisa menutup rapat rahasia besar yang sudah terjadi antara dirinya dan Dika waktu itu.


"Selamat nggeh buk, sekarang ibuk sudah ndak kesepian lagi kalau dirumah" ucapan selamat itu terdengar lembut ditelinga Sumitra dan Sofia dengan lembut mengusap lengan Sumitra.


Tangisnya pecah tanpa satu katapun yang terucap dibibirnya. Ia pun memeluk erat tubuh gadis idamannya itu, dan menangis sesenggukan.


"Sofia, akan selalu jadi anak ibuk dan bapak sampai kapanpun. Jika diperkenanka" tuturnya menerima kelelahan ini dengan hati yang begitu lapang.


Sebenarnya, ada rasa senang dan sedih yang ia rasakan saat ini. Tapi ia tak tahu harus mengutamakan perasaan yang mana terlebih dahulu.


Mereka berempat pun meninggalkan Sofia ditengah persimpangan jalan itu.


Sesampainya di kediaman Dika, Gendhis pun berjingkrak kegirangan mendapati dirinya telah masuk dengan leluasa dikamar Dika. Baginya pernikahan yang serba mendadak ini bukanlah sebuah petaka, melainkan sebuah keberuntungan yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Nak," ujar Sumitra memanggil Gendhis dari arah luar kamar.


Sementara Sumitra terkejut mendapati Gendhis sudah berada diatas ranjang sambil berdiri. Sialnya, Gendhis waktu itu lupa untuk menutup dan mengunci kamar Dika.


"Lain kali ibu kalau masuk ketuk pintu dulu,jangan asal main masuk" sikap kurang ajar Gendhis pun dimulai hari itu.


Betapa ketirnya Sumitra memiliki menantu yang belum genap sehari, tetapi ulahnya sudah melebihi batas wajar putranya. Dengan menarik napas lembut ia pun meletakkan beberapa baju yang baru saja ia beli untuk Gendhis kenakan.


Ia berlalu dari kamar Dika dengan perasaan yang terpukul atas sikap Gendhis.


"Buk, kenapa" ujar Prasetyo mengkhawatirkan keadaannya.


Ia pun berlalu masuk kekamar, saat itu juga Prasetyo mengikuti istrinya tersebut dengan segera. Dikamar itu, keduanya saling berembuk setelah kebenaran apa yang baru saja Sumitra alami.


Prasetyo sangat murka mendapati sikap gadis tak tau tata krama itu, ia pun dengan segera mengambil keputusan dan memanggil ke duanya untuk duduk berempat diruang tamu.


"Dik ... Dika" teriak Prasetyo memanggil anaknya yang tengah berada diteras rumahnya dengan melamunkan nasib buruknya.


"Ayo cepat duduk kalian berdua" perintahnya.


Keduanya terlihat duduk berdampingan dikursi dan meletakkan tangannya sejajar dengan paha.


"Bapak panggil kalian kesini bukan tanpa sebab, bapak ingin membicarakan suatu hal penting yang harus kalian patuhi selama menginjakkan kaki dirumah ini. Kamu Gendhi, memang dirimu sudah menjadi menantu kami. Memang sudah seharusnya, anak lelaki memang membawa anak perempuan dari rumahnya. Maka dari itu kami membawamu kemari, tapi karena Dika sudah menikah denganmu bapak sudah membuat keputusan untuk menarik segala fasilitas yang selama ini kami berikan kepada Dika saat bujan. Jadi kalian berdua sebagai suami istri, harus berjuang berdiri sendiri diatas kaki kalian sendiri. Yah anggap saja rumah dan makanan kalian akan kami tanggung disini. Selebihnya kalian upayahkan sendiri, termasuk kendaraan pun akan bapak sita. Jadi sudah cukup jelas kan peraturan bapak" tutur ia dengan begitu jelas dan menatap satu persatu wajah anak-anak yang ada dihadapannya itu.


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ia tak percaya dengan semua ucapan bapak mertuanya itu. Bukan hidup mewah setelah menikah, malah hidup blangsak untuk ke sekian kalinya harus ia telan mentah-mentah.


Ia hanya melirik sinis ke arah Sumitra, dirinya yakin betul bahwa ibu mertuanya berperan besar dalam mempengaruhi pikiran bapak mertuanya kali ini.


Tanpa sopan santun sedikitpun, ia melengos dan meninggalkan ke tiganya yang masih duduk disana.

__ADS_1


"Lihat itu, wanita pilihanmu yang sangat kau cintai bukan?" sindir Prasetyo kepada Dika.


Dika juga tersulut emosi melihat tingkah Gendhis yang baru saja ia ketahui setelah menikah ini, bukan saja ia kurang ajar dengan orang tuanya sendiri bahkan dia mampu bersikap seperti itu kepada ke dua orang tuanya yang belum genap sehari menjadi mertuanya.


Plaaakkk


Tamparan keras itu, mewakili perasaan Sumitra yang sudah sangat kecewa dengan sikap Gendhis.


"Apa ini mas, belum sampai kau bahagiakan aku malah sudah kamu siksa begini" timpalnya kesal.


"Gila kau ini, otak kau dimana hah?. Sampai berani bersikap seperti itu pada ke dua orang tuaku. Anaknya saja, tak pernah seberani itu dihadapan ke duanya. Kamu orang baru, malah dengan enaknya berulah tanpa otak seperti ini" maki Dika yang sudah tidak tahan mslihat ulah Gendhis.


"Hiks, terus marahi saja aku terus mas. Aku pantas dapatkan ini, karena memang derajat keluargaku jauh dibawah keluargamu mas. Tapi aku juga memiliki hak yang setara dengan derajat manusia lainnya kan. Jadi tolong kamu juga hargai perasaanku sedikit saja tanpa memandang orang lain" Isak tangis kepalsuannya mengelabui Dika.


Tapi bukan Dika namanya jika ia dengan mudah melepas segala amarahnya disana. Dengan sulut api emosi, ia pun membanting pintu kamar itu dan bergegas keluar.


Ia pun lupa jika motor miliknya sudah disita oleh bapaknya saat ini, dengan sisa uang penjulan toko hari itu dirinya segera berjalan ke sebuah gubuk yang biasanya ia tempati bersama ke dua temanya untuk berpesta minuman.


Benar saja, ternyata kedatangan Dika sudah ditunggu oleh Tio dan Miko. Keduanya terlihat memegang botol minumnya masing-masing. Dalam kondisi setengah sadar karena terbawa pengaruh miras, mereka melambaikan tangan untuk memanggil Dika untuk segera bergabung dengan mereka disana.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️

__ADS_1


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.


Terimakasih


__ADS_2