Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Seikat Bunga Krisan


__ADS_3

Oktober akan segera berakhir, tidak terasa tinggal menghitung hari balutan perban Callysta dibuka total. Matanya yang membengkak sudah mulai mengempes. Kira-kira sudah hampir 3 minggu sejak kepulangan Callysta dari rumah sakit setelah operasi. Dia tetap melakukan check up rutin untuk melepas satu persatu balutan perbannya. Saat balutan perbannya dilepas seluruhnya Aaron berjanji akan datang. Namun, sampai sekarang Aaron belum kembali ke Korea. Tidak ada kabar darinya. Ada rasa gelisah dalam hati Callysta.


Jauh dalam hatinya, ada rasa khawatir akankah Aaron kembali ke Korea untuk menemuinya? Atau tidak kembali sama sekali dan melupakan yang sudah berlalu. Entahlah, namun Callysta enggan mengirim pesan pada Aaron.


"Lusa perbanmu dibuka semua, kenapa mami yang deg-degan gak sabar ya nak?"


"Udah keliatan bedanya ya mi?"


"Iya, badan kamu juga udah makin keliatan bagusan. Lebih ramping, berkat pola makan dan diet ketat juga dari RS."


"Aku bersyukur mi, mengambil keputusan yang berat ini."


"Baguslah nak, memang sudah sepatutnya seperti itu."


***


Hari membuka perban keseluruhan pun tiba, Callysta datang ke rumah sakit sejam lebih awal bersama bu Sinta untuk mempersiapkan segalanya. Rasa sakit bekas sayatan disetiap sudut wajahnya akan tetbayarkan sebentar lagi, setelah dia melihat hasilnya.


Namanya dipanggil untuk masuk ke ruangan, bu Sinta mengantarnya. Seorang dokter perempuan, Choi Yun Kyung sudah menyambutnya di dalam ruangan bersama 3 orang perawat lainnya.


"Annyeong haseyo, deoureo useyo (Halo, selamat datang silkana masuk)"


"What do you feel miss?" tanya dokter Choi Yun Kyung lagi.


"I feel so great!" jawab Callysta dengan perasaan berdebar-debar.


"Please be patient a little more, you will be amazed with your beautiful face." dokter Choi Yun Kyung menjawab dengan senyuman.


Satu persatu balutan perban dilepas, dengan mata terpejam Callysta merasakan prosesnya. Teringat bagaimana rasa sakit setelah keluar dari ruang operasi. Bekas sayatan-sayatan diwajahnya yang sebulan terakhir terasa nyeri dan perih.


"Open your eye, miss."


Callysta membuka matanya perlahan, sebuah cermin ditunjukkan padanya untuk melihat langsung wajahnya secara dekat. Bagaimana wajahnya menghipnotis dirinya, seperti melihat dirinya yang berbeda. Matanya yang kini memiliki lipatan di kelopaknya, pipinya yang terlihat tirus. Rambutnya yang semakin indah dan tertata. Dagunya yang membentuk v line. Ah, sungguh terasa sempurna. Mungkin akan banyak yang tidak mengenalinya ketika kembali ke Indonesia. Haruskah dia berganti nama juga? Batinnya bertanya demikian.


Langkah kaki terdengar menuju ke ruangan Callysta. Terdengar pintu ruangan yang diketuk.

__ADS_1


Dua laki-laki yang di kenalnya satu persatu masuk ruangan. Keduanya mengenakan setelan rapi, dengan sepatu yang mengkilat. Wajahnya berseri-seri. Tersenyum lebar menghampiri Callysta.


"Ini Callysta anak papi? Wah wah, cantik sekali ya kamu sekarang. Pangling loh, papi kira salah masuk ruangan." pak Jaya mendekati Callysta dengan mengelus punggungnya. Sementara Callysta tersenyum melihat papinya datang.


"Selamat ya, kamu hebat. Sudah melewati masa sulit ini."


"Thanks Ron. Kenapa kamu bisa bareng papi?"


"Bisa dong!" pak Jaya menjawab dengan menepuk pundak Aaron.


"Mami udah tau ya kalau papi bakal kesini bareng Aaron?"


Bu Sinta tersenyum dan mengangguk. Sebuah bucket bunga krisan diberikan Aaron pada Callysta.


"Awal November nanti kamu harus mengunjungi festival bunga krisan di Masan Gagopa."


Callysta mengangguk.


Hatinya penuh dengan warna warni seperti bunga krisan yang mekar. Kebahagiaannya lengkap karena papinya memberi kejutan padanya datang ke Korea diam-diam. Kehadiran Aaron memberikan semangat tersendiri untuk Callysta.


***


"Iya mi, tapi Callysta masih mau disini. Ada yang harus Callysta selesaikan."


"Iya, gak papa. Kamu jaga diri baik-baik. Kalau butuh apapun bilang ke Aaron. Dia satu-satunya kerabat terdekat kita disini."


"Oke mi, Callysta akan pulang ke Indonesia bawa karya."


"Baiklah, papi percaya. Semoga berhasil brand kecantikan kamu itu dan kelak digemari masyarakat Indonesia." pak Jaya mendoakan.


"Callysta selalu butuh dukung dan doa papi sama mami. Kalian kekuatanku saat ini." Callysta memeluk papi dan maminya.


Akhirnya Callysta benar-benar berjuang sendiri di Korea, hanya di temani Aaron. Dia sendirian di apartemen seluas itu, betapa kesepiannya kelak. Tapi itu harus dilaluinya sebagai bagian dari proses dari hasil yang akan dia dapatkan.


Calysta dan Aaron mengantar pak Jaya dan bu Sinta ke bandara Incheon. Pesawat mereka akan take away pukul 08.00 pagi. Kira-kira sampai Jakarta pukul 15.00 sore. Callysta memeluk erat papi dan maminya. Pak Jaya berpesan pada Aaron.

__ADS_1


"Om titip Callysta ya Ron. Kamu udah om anggap seperti anak om sendiri. Jadi tolong kalau ada apa-apa sama Callysta segera kabari om."


"Baik om. Aku bertanggung jawab penuh pada Callysta disini." Aaron meyakinkan pak Jaya.


"Yasudah, kami berangkat dulu ya. Kamu baik-baik disini ya nak." Bu Sinta melambaikan tangan.


"Iya mi, take care. Kabari Callysta kalau udah sampai Jakarta."


Callysta menunggu sampai pak Jaya dan bu Sinta masuk ke pengecekan sebelum masuk ke pesawat.


"Ayo, setelah ini ke lanjut ke Masan Gagopa Chrysantemum Festival." ajak Aaron.


"Festival bunga krisan?" tanya Callysta


"Iyap. Orang cantik mau lihat yang cantik-cantik juga kan?" Aaron menggoda.


"Ah, kamu apaan sih. Aku belum terbiasa dipuji kayak gitu."


"Lho aku bicara fakta ini." Aaron tersenyum puas menggoda Callysta, sementara Callysta tersipu malu.


Mereka berdua menuju ke distrik Changwon untuk mengunjungi Masan Gagopa Chrysantemum Festival yang diadakan hanya setahun sekali, setiap akhir oktober hingga awal november. Callysta terpukau dengan keindahan bunga krisan yang menakjubkan, banyak yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Karena di festival ini ada berbagai macam warna dan jenis bunga krisan. Selain itu kegiatan masyarakat seperti lomba memancing dan foto pernikahan pun diadakan di tempat itu dan masih banyak pertunjukan lainnya. Bunga krisan yang di tunjukkan ketika festival merupakan budidaya petani lokal.


Melihat lomba foto pernikahan Callysta teringat dengan masa lalunya, kemudian dia memulai pembicaraan pada Aaron.


"Kamu tau kalau aku pernah gagal menikah?" Callysta mengarakannya dengan canggung.


"Iya, terus?"


"Emm, gak papa sih. Cuman aku mau bilang gitu aja."


"Aku udah tau cerita kamu dari kak Jo, jadi gak perlu cerita dulu sekarang. Kita nikmati dulu pemandangan indah ini, dan hal baru dalam hidup kamu."


"Baik Ron, sorry ya kalau aku merusak suasana."


"No, justru aku gak mau suasana sebaik ini kamu malah mengingat masa lalu yang menyakitkan."

__ADS_1


Aaron tidak ingin suasana hati Callysta berubah. Saat ini yang diharapkannya adalah kenamanan dan kebahagiaan untuk Callysta.


__ADS_2