Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Balasan yang Sepadan


__ADS_3

Hari ini pun tiba, suasana ruang persidangan terasa menegangkan tidak seperti sidang dulu saat perceraian Callysta dan Felix. Pak Leo beserta pengacaranya, Callysta bersama pak Handoyo pengacara keluarganya. Ia berdiri tegak, berjalan menuju kursi tempat penggugat beserta pengacaranya.


Bu Ajeng datang bersama Tara, ia tak lagi menunjukkan wajah memelas seperti sebelumnya. Ia terlihat lebih optimis, di dampingi oleh pengacaranya. Pengacara Felix dan pengacara Callysta duduk bersebrangan. Memakai seragam yang terlihat gagah nan wibawa.


Felix terlihat gugup, wajahnya gelisah. Ia sedikit tertunduk, entah apa yang dirasakannya. Pintu persidangan ditutup, hakim pun datang. Sidang segera dimulai, wartawan berjejer di sudut-sudut ruangan memegang masing-masing kameranya siap untuk merekam dan memotret.


Sesekali Callysta memberi kabar pada Aaron tentang sidang yang berjalan selama 2 jam lamanya itu. Ia hanya duduk diam mengamati proses sidang yang cukup sengit antara kedua belah pihak. Aaron memang tidak bisa menemani Callysta, karena hari ini ia ada rapat penting bersama dengan koleganya.


***


Bu Ajeng terlihat khawatir, tidak sedikitpun ia melirik ke arah Callysta entah karena malu atau sungkan. Begitu juga Tara, mereka berdua terlihat saling menguatkan.


Dengan berat hati, melalui bukti-bukti yang ditampilkan akhirnya kebungkaman Felix pun terkalahkan, ia mengakui bahwa itu perbuatannya. Air mata bu Ajeng tak terbendung, begitu juga dengan Tara. Akhirnya hakim memutuskan 5 tahun penjara dan denda sebesar 5 Miliar.


Tokk...tokk...tokk...


Ketukan palu hakim menggema di ruangan, jepretan flash kamera wartawan menghiasi ruangan. Bu Ajeng seketika pingsan, dipapah oleh Tara.


Pak Leo terlihat lega, meskipun tanpa senyuman di wajahnya. Sementara Felix, kedua tangannya diborgol dan ia dibawa oleh dua orang polisi. Wajahnya tertunduk lesu, sesekali ia melihat ibunya yang tak sadarkan diri.


Sidang telah usai, semua yang mengikuti sidang ke luar ruangan. Callysta dan pak Leo yang keluar di dampingi oleh pengacara mereka dihadang oleh wartawan. Dan dicerca banyak pertanyaan, namun Callysta enggan menjawab, ia memandang ke arah pak Leo mengisyaratkan untuk menangani pertanyaan dari wartawan.


Dari banyaknya pertanyaan, ada satu pertanyaan dari wartawan yang mau tidak mau ditujukan pada Callysta. "Apa betul, tersangka merupakan mantan suami anda dan apakah motifnya melakukan ini karena dendam?" tanya seorang wartawan sembari menyodorkan microfhone ke arah Callysta.


Pak Leo melihat ke arah Callysta, ia pun mau tak mau menjawab pertanyaan dari wartawan itu. "Iya betul, memang Felix mantan suami saya, untuk motifnya saya pribadi tidak tahu. Yang terpenting saat ini, saya menghormati putusan hakim di sidang tadi."


Tak terduga saat Callysta sedang di wawancara, muncul Aaron. Ia pun mengatakan pada wartawan untuk menyelesaikan wawancaranya. Ia menggandeng Callysta dan membawanya ke mobil.


Callysta lega, akhirnya ia terlepas dari pertanyaan-pertanyaan dari wartawan yang sebenarnya enggan ia jawab. Bukan apa-apa, ia tahu betul, jika sudah masuk ke media tentu akan menjadi perbincangan masyarakat luas. Bukan ia melindungi Felix, lebih kepada bagi Callysta ini bukan suatu prestasi. Tentu jika permasalahan seperti ini akan merambah ke privasi yang akan dikulik oleh media sebagai selingan. Dan itu membuat Callysta merasa risih, Aaron memahami betul akan situasi yang dialami oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Syukurlah, kamu segera datang. Makasih sayang." gumam Callysta pada Aaron.


"Udah selesai rapatnya?" lanjut Callysta.


"Udah sayang, aku langsung kesini setelah selesai rapat. Biar mobil yang bawa Dinda, kamu ikut mobil ini aja. Kita langsung cari makan siang aja.


Mobil Alphard milik Aaron yang dikendarai oleh Bara melaju menuju ke restoran, disusul oleh mobil Dinda di belakang. Callysta mencritakan sidang yang berlangsung dan hasil keputusan hakim, Aaron merasa puas mendengar hasil sidangnya.


***


Media mulai memposting hasil sidang, bahkan stasiun TV juga menayangkan berita tentang kasus merkuri itu. Lambat laun, nama baik brand LYS mulai pulih, banyak orang yang belum tahu penasaran dengan produk milik Callysta itu.


Lapran dari kantor mengabarkan, bahwa hasil penjualan hari ini meningkat drastis. Baik secara online maupun offline store. Callysta tersenyum bahagia, satu persatu mimpinya kini menjadi nyata. Ia tak lupa berterima kasih pada Tuhan dan para karyawannya yang sudah mau bekerja sama dengannya sejauh ini.


Di depannya ada sesosok laki-laki yang selalu mensupport nya dari awal merintis bisnis LYS ini. Bukan perkara mudah baginya membuat brand sebesar ini dengan produk yang cukup banyak.


"Sayang, makasih ya udah ada buat aku sejauh ini." ucap Callysta menatap suaminya penuh cinta.


"Tiba-tiba banget, ada apa ayang?" tanya Aaron.


"Gak ada apa-apa kok, cuma mau bilang makasih aja buat suamiku yang selalu ada buat aku."


"Hmmm, pasti ada sesuatu nih. Kamu mau minta apa sayang? Bulan madu lagi?" tany Aaron menggoda.


"Enggak sayang, hehehe. Aku seneng aja, barusan dapat laporan dari kantor penjulan hari ini meningkat, yang di off line dan di online store. Jadi bisa segera launching produk yang sempet ke pending." wajah Callysta bercerita dengan sumringahnya.


Aaron membelai rambut Callysta, ia ikut bahagia saat mengetahui bisnis istrinya berjalan dengan baik.


"Mau lanjut bulan madu part dua sayang?" tanya Aaron sembri mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Ih, kamu gitu ya. Baru aja sebulan yang lalu kita selesai bulan madu masa mau bulan madu lagi?" jawab Callysta malu-malu.


"Gak papa sayang, bulan madu tiap bulan pun ayok aku semangat-semangat aja. Namanya kan bulan madu, bukan tahun madu ya gak? Jadi tiap bulan aja yok sayang?" Aaron mencubit pipi Callysta sampai memerah.


"Ih, sakit tau. Aku bales nih ya." Callysta balas mencubit pipi Aaron, kemudian Aaron memeluk tubuh Callysta.


***


Belum sampai matahari masuk ke jendela kamar, Callysta sudah terbangun. Ia terbangun di pagi yang masih buta. Entah kenapa tiba-tib ia merasa meriang, sekujur tubuhnya terasa sakit. Badannya terasa pegal dan lemas. Kepalanya tidak tertahankan beratnya, ditambah perutnya yang terasa sangat mual.


Ia masuk ke kamar mandi, ia muntahkan seisi perutnya yang keluar hanya air. Maklum saja, ia baru tidur semalaman, sisa makanan semalam sudah diproses oleh lambungnya.


Hoekkk...hoekk...hoeek......


Berkali-kali Callysta bolak-balik ke kamar mandi memuntahkan seisi perutnya yang sudah kosong. Hingga membangunkan Aaron yang masih terlelap tidur.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Aaron setengah tersadar menghampiri callysta di kamar mandi.


"Gak tau, mau meriang kayaknya. Gak enak banget rasanya."


Aaron memapah Callysta ke tempat tidur, ia menyelimuti Callysta kemudian menuangkan segelas air yang berada di meja samping dipannya. Tak berselang lama setelah segelas air yang ia minum, Callysta buru-buru ke kamar mandi lagi untuk muntah lagi.


Melihat Callysta yang bolak-balik ke kamar mandi, Aaron panik. Ia mengenakan jaket sekenanya dan mencari kunci mobil.


"Tunggu ya sayang, kita ke rumah sakit aja sekarang. Kamu masih kuat kan?"


Callysta mengangguk, wajahnya terlihat pucat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2