Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Fatherless


__ADS_3

Air mata bu Ajeng berlinang setelah mendengan cerita dari Callysta. Ia tak menyangka Felix berbuat sejauh itu. Wajahnya tertunduk, tidak tau dari mana ia berbicara pada Callysta. Ia menahan rasa malu.


Sebagai sesama wanita tentu ia pun iba, mendengar tuturan dari Callysta tentang Felix yang memiliki hubungan gelap hingga memiliki seorang anak. Bagaimana bisa ia membesarkan anak sekejam itu.


Bu Ajeng meraih tangan Callysta, sembari mengucapkan permintaan maaf. Ia masih terus berlinang air mata, hatinya hancur. Tidak tau jika anak semata wayangnya seperti itu.


"Maaf nak. Pasti sakit sekali rasanya. Ibu gak tau kalau ternyata Felix sejauh itu."


Tak ada lagi permintaannya untuk meringankan hukuman untuk anaknya. Agaknya bu Ajeng cukup malu untuk meminta itu lagi. Ia cukup malu mendengar cerita tentang Felix yang memiliki selingkuhan hingga lahirlah Felicia.


Bu Ajeng berpamitan pulang, wajahnya tertunduk lesu. Kakinya berat untuk melangkah keluar dari rumah Callysta, namun tak tau lagi wajahnya akan ditaruh dimana di depan Callysta. Setelah perilakunya pada Callysta dulu semasa menjadi menantunya, ia justru menuduh Callysta wanita mandul, malu, malu sekali bu Ajeng pada Callysta.


***


Ia teringat, sosok suaminya ayah Felix yang pernah mencampakkannya. Sebelum ayah Felix meninggal, ia telah menggugat cerai ayah Felix. Ia tak tahan dengan perilakunya yang gonta ganti wanita, batinnya tertekan, hartanya habis untuk bermain wanita. Itulah sebabnya Felix dewasa tanpa sosok seorang ayah.


Bu Ajeng mengira ia sudah membesarkan Felix dengan benar meski tanpa sosok Ayah. Saat itu usia Felix sekitar 15 tahun, ia sudah cukup mengerti bahwa hubungan kedua orang tuanya tidak baik-baik saja. Ia sering melihat ibunya menangis tersedu sendirian, bahkan tak jarang ayahnya main tangan pada ibunya.


Meski begitu bu Ajeng membesarkan Felix dengan sepenuh hati dan curahan kasih sayang. Hingga Felix sukses bekerja.


"Bu, aku pasti akan membahagiakan ibu. Aku janji, bakaal buat ibu bahagia di masa tua kelak. Masa sulit yang sudah kita lewati akan terbayarkan dengan kebahagiaan kita di masa mendatang." ucap Felix suatu hari saat pertama kali diterima kerja di PT. Leonade.


Sejak saat itu, hidup mereka mulai membaik. Pelan-pelan Felix mampu mengangkat derajat keluarganya, membahagiakan ibunya. Membeli rumah impian mereka. Felix naik jabatan, dan menikah dengan Callysta. Sejenak saat itu melenakan bu Ajeng, merasa anaknya sudah sukses ia berharap mendapatkan menantu yang cantik dan tak kalah sukses dengan fElix agar mereka setara.


Saat itu Callysta, baru magang di perusahaan yang sama dengan Felix. Tidak ada yang tau bahwa Callysta putri seorang konglomerat pemilik PT. Atmajaya. Setelah, Felix memberitahu siapa Callysta sebenarnya bu Ajeng akhirnya memberikan restu pada mereka.

__ADS_1


Namun, itu saja tidak cukup. Bagi bu Ajeng Callysta masih belum setara dengan Felix, karena wajah dan penampilannya yang tidak menarik. Oleh sebab itu, tak jarang bu Ajeng memperlakukan Callysta kurang baik, tak jarang ia pun sering mengkritik Callysta.


Sekarang, ia menyesalkan itu. Ia merasa bersalah telah memperlakukan Callysta tidak baik, apalagi mengetahui tindakan Felix yang buruk itu. Karena ia pernah berada di posisi yang sama dengan Callysta.


Bu Ajeng menghela nafas panjang. Disatu sisi Felix adalah anaknya satu-satunya, di sisi lain ia kecewa pada tindakan yang telah ia lakukan pada anaknya.


***


Sebelum waktu sidang tiba, Felix di tahan di kantor polisi. Bu Ajeng berniat menemui anaknya itu.


"Bu maafin Felix ya. Felix pasti bisa membuktikan kalau Felix gak salah bu. Ibu yang sabar ya, ibu tenang aja. Semua akan baik-baik aja." ucap Felix menenagkan ibunya.


"Nak, kedatangan ibu kesini mau memastikan. Dimana cucu ibu sekarang berada?" tanya bu Ajeng dengan wajah yang sayu.


"A..aapa maksud ibu?" tanya Felix terbata.


"Ibu udah tau semuanya, kamu tidak perlu ngerti ibu tau darimana. Saat ini ibu cuma minta kamu dan ibu dari anak itu minta maaf sama Callysta."


"Kenapa begitu bu? Kenapa ibu jadi membela Callysta?" tanya Felix.


"Bukannya ibu membela Callysta. Tapi ibu pernah ada di posisi Callysta jadi ibu tau gimana rasanya. Biar ibu temui wanita itu. Kalian harus minta maaf sama Callysta. Bagaimanapun kalian salah!"


Felix terdiam, ia tertunduk mendengar ucapan ibunya. Ia teringat masa-masa sulit ibunya dulu saat dikhianati oleh ayahnya.


"Maafin Felix bu. Sungguh Felix gak ada niatan sejauh itu. Felix juga udah berusaha biar Callysta mau kembali lagi, tapi dia malah nikah sama orang lain." Felix tertunduk.

__ADS_1


"Jangan sama ibu kamu minta maafnya, tapi sama Callysta. Ibu kecewa sama kamu LIx, ibu malu sama Callysta. Sudah, saat ini kamu fokus aja sama kasus ini, terima saja, kalau memang kamu salah kamu akui. Ibu tetap ada di samping kamu. Ibu tetap support kamu. Ibu gak mau kamu menyesal seperti ayahmu dulu!" bu Ajeng terisak, melihat anaknya dibalik jeruji besi. Ia pun teringat suaminya yang malang karena sikapnya sendiri. Ia khawatir anaknya akan seperti itu.


Felix memberi alamat Tara, ia juga menceritakan tentang Felicia. Namun anehnya, bu Ajeng tidak bahagia dan tidak antusias meskipun kini ia ternyata sudah memiliki cucu. Ada rasa enggan, dan bayang-bayang rasa sakitnya dulu saat ia dikhianati suaminya.


"Kenapa ini harus terjadi lagi ya Tuhan? Dosa apa aku ini???" rintih bu Ajeng sembari terisak dalam tangisnya.


***


Mau tak mau akhirnya ia menemui Tara, betapa kagetnya Tara saat melihat bu Ajeng. Ia menyambutnya dengan hangat, Tara sangat bahagia dengan kehadiran bu Ajeng. Ia berharap bu Ajeng akan menyayangi Felicia seperti ibunya.


Melihat Felicia yang tumbuh dengan baik dan menggemaskan bu Ajeng membelai kepalahnya sembari berkata "Kasian sekali kamu nak, maafin papamu itu ya. Semoga kelak kamu akan bahagia nak."


Bu Ajeng iba melihat Felicia, namun ia tidak bisa menimang-nimangnya seperti seorang nenek yang menyayangi cucunya. Rasa yang ia berikan pada Felicia hanya rasa iba. Memeluknya pun enggan, bu Ajeng hanya menatap dan mengelus kepala Felicia.


Biar bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur, kehadiran bu Ajeng disitu memperjelas bahwa ia ingin hubungan Tara dan Felix diresmikan. Demi masa depan Felicia. Namun, bu Ajeng pun tidak memaksa Tara. Karena saat ini Felix berada di penjara. Ia mempersilakan jika Tara ingin menikah dengan laki-laki lain.


"Kamu sudah tau, sekarang Felix jadi tersangka. Jika kamu masih mau mempertahankan hubunganmu dengan Felix silakan. Tapi kalau kamu memilih jalan lain, tidak bersama Felix ibu tidak melarang. Semua terserah kamu Tara. Disini ibu cuma mau meminta maaf atas nama Felix."


"Sebenarnya bu, aku udah lama meminta Felix buat menikahiku. Tapi dia seperti ragu-ragu. Aku juga mempertimbangkan masa depan Felicia kelak. Entah gimana kedepannya aku belum bisa memutuskan sekarang bu. Cuma berharap kalau masih bisa diperjuangkan, bagaimana caranya biar Felix bisa keluar dari tuduhan tersangka."


Bu Ajeng terdiam, seketika ada harapan dalam hatinya agar anaknya bisa keluar dari penjara. Ia pun meminta Tara untuk mencarikan Felix pengacara. Dan akan mendampingi prosesnya bersama Tara.


Cara apa yang bisa ia gunakan agar sidang perdana kelak bisa mengeluarkan Felix dari tuduhan tersangka? Rasanya itu cukup berat dan sulit.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2