
Kiranya saat itu usia pernikahan Felix dan Callysta hampir satu tahun. Namun tak kunjung juga Callysta dikaruniai buah hati. Sang mertua, bu Ajeng yang sedari awal memang berharap besar segera menimang cucu sering memberikan saran dan menawarkan berbagai ramuan herbal untuk dikonsumsi Callysta.
"Kamu udah coba makan kurma muda kan?" tanya bu Ajeng mengintrograsi.
"Sudah bu. Coba ditambah zaitun. Pasti belum kan?"
"Sudah juga bu."
"Yasudah kalau gitu kamu priksa aja ke dokter kandungan. Barangkali ada yang beres sama kandungan kamu."
Callysta terdiam, hatinya merasa sakit. Secara tidak langsung bu Ajeng mengira Callysta bermasalah dengan kandungannya.
"Kalau Felix sibuk, bisa ibu antar. Gimana? Ibu juga udah pengen kali nimang cucu." sambung bu Ajeng.
"Iya bu, nanti Callysta jadwalin dulu ya."
"Kamu juga jaga-jaga, diet sehat. Biar tubuhmu juga siap kalau mau punya anak."
Callysta menghela nafas panjang, tidak hanya kali ini saja bu Ajeng membicarakan hal itu. Beberapa bulan terakhir memang ketika bertemu Callysta selalu saja tentang cucu dan kandungan yang dibahas. Saat bersama Felix, sesekali Callysta membahas tentang kritikan dari ibunya. Namun Felix terkesan cuek dan tidak peduli.
"Tadi, ibu kesini. Ngasih saran buat aku pergi ke dokter kandungan." cerita pada Callysta saat Felix baru saja pulang kerja.
"Bagus dong sayang. Gak papa, ikutin aja saran ibu."
"Kamu kapan ada waktunya? Mau cek bareng? Biar sekalian. Jadi gak cuma aku aja yang priksa."
"Lho lho, kenapa aku juga ikut priksa. Ya, kamu aja lah. Kamu kan yang punya kandungan dan yang bakal ngelahirin anak. Kalau aku baik-baik aja, sehat dan udah terbukti." cetus Felix srmbari sibuk bermain dengan handphone nya.
"Terbukti? Maksud kamu gimana?" tanya Callysta penasaran dengan kalimat Felix yang terakhir.
Felix baru sadar dengan perkataannya, dia sebenarnya teringat bahwa berhubungan dengan Tara bisa membuatnya sampai hamil. Namun, tidak mungkin Felix menjelaskan seperti itu.
"Oh, enggak enggak. Maksudku, aku gak sempet sibuk urusan kantor. Kamu sama ibu aja ya yang priksa."
"Kamu gak nuduh aku mandul kan?" tanya Callysta.
"Enggak dong sayang. Udah kamu lakuin aja priksa ke dokter cek kandungan. Itu juga buat kebaikan kamu."
Callysta terdiam, jauh dalam hatinya ada rasa sakit yang tidak bisa diganbarkan. Dia hanya bergumam sendirian, melihat Felix yang sudah tertidur lelap.
__ADS_1
"Apa cuma aku yang ngrasa dia terlalu sibuk sampai gak ada waktu buat aku? Entahlah, aku ngrasa dipojokkan aja."
Kembali Callysta menarik nafas panjang.
***
Sore itu Callysta bersama ditemani bu Ajeng datang ke rumah sakit menemui dokter spesialis kandungan. Segala pemeriksaan dilakukan oleh Callysta dengan rasa yang berdebar-debar. Bahkan sempat dia meragukan diri.
"Apa benar kandunganku bermasalah? Apa aku harus menjalani tes ini untuk membuktikan? Gimana kalau hasilnya buruk?"
Selesai pemeriksaan, dokter menjelaskan kondisi Callysta.
"Ibu, ini bisa dilihat ya. Ini kantong rahim ibu normal, sel telur ibu ada di sebelah sini. Juga normal ya, ukurannya tidak terlalu kecil dan siap untuk dibuahi." tutur dokter menjelaskan.
"Tapi dok, kenapa saya belum hamil sampai sekarang?" tanya Callysta.
"Usia pernikahan ibu sudah berapa lama?" tanya sang dokter.
"Baru mau satu tahun dok."
"Wah, baru mau satu tahun ya bu. Gak papa bu, gak usah buru-buru. Yang terpenting ibu jangan dibuat stress, relax bu dan terus berusaha. Komunikasikan yang baik dengan suami itu kuncinya bu."
"Jadi kesimpulannya bagaimana dok? Menantu saya bisa hamil kan? Gak mandul kan dok?" tanya bu Ajeng.
Callysta lega, karena seluruh hasilnya baik. Dia menunggu momen yang tepat untuk membicarakan hal ini pada Felix.
***
"Sayang, tadi aku udah ke dokter sama ibu." Callysta memulai pembicaraan saat Felix sedang bersantai.
"Oh, gitu. Gimana hasilnya? Dokter gak bilang kamu mandul kan?"
Hati Callysta berdesir mendengar kata "mandul" yang kembali diucapkan oleh Felix. Seolah-oleh Felix meyakini bahwa Callysta tidak bisa memiliki anak.
"Bagus kok. Kata dokter aku sehat dan bisa hamil secepatnya." Callysta menjawab dengan nada datar, tidak seantusias sebelumnya. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan saat mendengar kata "mandul" dari mulut Felix.
***
Hingga 8 bulan, Tara menyembunyikan kandungannya. Bahkan saat sebelum melahirkan, dia masih sempat berangkat ke kantor. Orang-orang kantor termasuk Felix hanya mengira Tara agak sedikit gemukan. Sehingga menutupi tubuhnya yang sexy dengan baju yang agak longgar.
__ADS_1
Hari itu, ketika Tara akan berangkat ke kantor.
Byuukkk…..
Terasa seperti ada air yang keluar tak terbendung dari jalan lahirnya.
"Mama, mamaaa…" Teriak Tara pada mamanya yang saat itu ada di kamarnya.
"Ya ampuunn, ketubanmu pecah Ra. Ayo ke rumah sakit. Bayinya udah mau lahir." Seru bu Rina sembari memapah Tara.
"Tunggu ma, tolong telponin Felix bilang aku gak bisa masuk kerja beberapa hari. Tapi jangan katakan kalau aku mau lahiran." pinta Tara semabari menahan rasa sakitnya kontraksi.
"Harusnya dia temenin kamu. Biar bagaimanapun anak yang ada di rahimmu juga anak kandungnya, sebentar lagi mau lahir. Dia zharus datang."
"Enggak ma. Jangan, tolong bilang seperti tadi yang aku katakan."
Dengan raut kecewa bu Rinlagi a menelfon Felix sesuai yang diminta Tara. Kemudian menelpon ambulance untuk segera membawa Tara ke rumah sakit.
Proses persalinan berjalan begitu cepat, tangis bayi yang baru lahir menggetarkan hati Tara. Tidak terasa air mata Tara mengalir mendenger tangisan bayi yang didekapkan di tubuhnya. Bayi mungil itu kini menjadi anaknya, kelak jika dia sudah dewasa akan memanggilnya mama. Sungguh, Tara merasa begitu kasih hingga dadanya terasa sesak. Bayi tak berdosa itu lahir, tidak tahu ayahnya siapa. Bahkan sejak awal ayahnya menginginkan bayi itu tidak ada selamanya.
Dalam hati, Tara berjanji akan memperjuangkan hak bayi kecil itu dan ketika dewasa kelak dia tidak akan malang lagi karena tidak memiliki ayah. Ya, Tara akan memperjuangkan agar bayinya memiliki ayah kandungnya dan kapan saja bisa memanggilnya "Papa."
"Halo, Felix." telepon Tara pada Felix.
"Iya, Halo Ra. Kamu sakit apa? Tadi mama kamu bilang beberapa hari kedepan kamu ijin gak berangkat."
"Iya, kamu bisa kan jenguk aku sekarang di rumah sakit?"
"Astaga. Kamu di rumah sakit sekarang? Kirimin alamatnya. Aku segera kesana." Felix kaget mendengar kabar, Tara di rumah sakit. Dia bergegas menuju rumah sakit.
Setelah sampai rumah sakit, betapa kagetnya Felix ketika melihat Tara berbaring di ruang perawatan pasca bersalin. Disampingnya ada bayi mungil nan cantik sedang tertidur pulas, sesekali menggeliat.
"Anak siapa yang kamu lahirkan Ra?" tanya Felix kaget.
"Namanya Felicia, dia bayi yang dulu pernah kamu minta gugurkan." jelas Tara dengan nada lemah.
"Jadi selama ini kamu berbohong? Kamu sembunyiin kehamilan kamu dari aku?"
"Dia gak berdosa Felix, dia berhak untuk hidup. Selamat, sekarang kamu sudah jadi ayah."
__ADS_1
Felix terdiam, enggan menggedong bayi tak berdosa itu. Namun, disatu sisi ada rasa terpesona melihat bayi itu.
...****************...