
Hari yang dinanti Tara pun tiba, rapat bulanan yang tempo hari dikatakan pak Leo akan menentukan kariernya.
Deg....
Hati Tara berdebar saat masuk ke ruang rapat. Sesekali dia memberikan lirikan pada Felix. Tara berusaha menyembunyikan kegelisahannya saat rapat berlangsung.
Tak berlangsung lama setelah rapat dimulai, tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Seseorang tampak masuk, langkah kakinya yang perlahan dan suara sepatunya terdengar bahwa dia seorang perempuan.
Felix dan Tara terperanjat, keduanya kaget bukan kepalang. Melihat seseorang yang ada dihadapannya.
"Selamat datang bu." pak Leo menyapa.
"Terima kasih pak, sudah mengundang saya." Callysta menjawab sapaan pak Leo.
Perasaan Tara semakin tidak karuan, wajahnya terlihat pucat. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, tiba-tiba Callysta ikut rapat bulanan perusahaannya. Dia datang bersama seorang wanita yang bernama Amanda.
"Sesuai kesepakatan rapat intern kami, bahwa akan ada beberapa perubahan formasi. Pak Felix, anda akan kami pindahkan ke bagian produksi. Sebagai asisten dari direktur produksi. Sedangkan bu Tara, mohon maaf posisi anda akan di gantikan oleh Amanda."
"Maaf pak Leo,kenapa tiba-tiba saya diganti posisi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya?" Felix membela diri.
"Sudah mutlak keputusan intern dari kami ya pak, mohon bisa diterima." jawab pak Leo.
Felix tidak terima, hanya menahan diri. Tangannya mengepal dan menatap Callysta tajam. Sementara Tara, hanya terdiam tidak bersuara apapun. Dia pun sama menatap Callysta yang sedang berbicara dengan pak Leo. Sebelum rapat berakhir Tara keluar ruangan tanpa sepatah katapun dan mengucap permisi.
"Saya harap kerjasama kita berjalan dengan baik dan berlangsung lama ya bu. Terima kasih sudah merekomendasikan Amanda untuk perusahaan kami."
"Sama-sama pak, semoga dengan adanya Amanda banyak membantu perusahaan bapak makin berkembang pesat." Callysta memaparkan.
Ada rasa lega dihati Callysta, dia berharap peringatan kali ini membuat Tara introspeksi diri. Walaupun sampai harus kehilangan pekerjaannya.
Setelah rapat usai, Callysta melanjutkan diakusi dengan pak Leo. Tentang kerja sama perusahaan mereka. Sebelumnya pak Leo sempat menghubungi Callysta untuk merekomendasikan sekretaris untuk direktur pemasaran. Akhirnya, Callysta datang tepat saat rapat mereka sedang berlangsung.
Felix yang melihat Callysta dari kejauhan merasa nanar, tatapannya penuh dengan makna. Ada rasa kesal dan kecewa. Pekerjaan yang dia impikan dan perjuangkan harus dimulai lagi dari nol. Siapa yang memimpikan turun jabatan seperti ini, begitu gumam Felix tak henti-henti.
***
"Aku gak terima!!! Ini gak adil buat aku." teriak Tara pada Felix.
"Ya, gimana lagi Ra. Akupun gak terima." jaeab Felix dengan nada kesal.
__ADS_1
"Kamu kenapa gak bela aku? Kenapa? Kenapa cuma aku yang dipecat, hah????" mata Tara terlihat melotot menatap Felix.
"Eh, gimana aku mau bela kamu??? Aku sendiri aja turun jabatan. Mikir dong kamu! Masih mending aku gak dipecat." tambah Felix.
"Aku gak terima pokoknya, aku gak terima. Aaargggghhhhh......" Tara menjambak rambutnya kesal kemudian mengepalkan tangannya.
"Sekarang,kamu mikir gimana caranya bales ini. Kita gak bisa tinggal diem. Aku ngerasa diinjak-injak kalo begini." Felix menyusun rencana.
"Ya, kita harus bales ini. Harus!!!!" Tara menambahkan.
***
Sementara itu Callysta, mulai fokus pada bisnisnya. Dia berencana mengembangkan untuk membuat produk baru. Itu sebabnya, dia butuh beberapa kali kunjungan untuk berdiskusi dengan pak Leo terkait bahan baku.
Seperti biasa, Callysta konsultasi dengan Aaron terkait produk baru yang ingin dia rilis. Sedangkan Aaron, sedang berada di Singapore. Keduanya hanya bisa berkabar melalui handphone saja.
"Gimana Ron,menurut kamu?" tanya Callysta.
"Oke kok, aku dukung. Btw, aku mungkin agak lama di Singapore."
"Berapa lama?"
"Ih, kamu GR ya. Siapa juga yang kangen kamu."
"Kalau kamu kangen, susul aku kesini. Deket kok, gak sejauh Korea. Hehe.."
"Iya, iyaa... Kamu jaga kesehatan disana ya. Kabari aku kalau dah kelar kerjaannya."
"Duh, nunggu kabar dari aku nih ternyata ya. Siap, always aku bakal sering-sering kabarin kamu. Jangan sungkan kalau ada apa-apa telepon aku." Aaron semakin menggoda Callysta.
Keduanya mulai menunjukkna perhatian satu sama lain. Waktulah yang membuat mereka semakin dekat dan nyaman. Callysta, bisa dikatakan yang semakin bergantung pada Aaron. Sedangkan Aaron, sosok laki-laki yang lebih dewasa secara pemikiran bisa mengayomi dan mengarahkan Callysta.
Tidak dipungkiri, Callysta memang membutuhkan seseorang yang mampu mengarahkannya untuk membentuk karakter yang lebih dewasa dan tangguh.
Sebagai seorang pebisnis tentu harus memiliki karakter yang tangguh. Semakin berkembang dan besar suatu bisnis, pemiliknya harus mampu memutuskan dan membawa kearah mana bisnisnya akan dikembangkan. Bahkan, halangan maupun cobaan akan terus berdatangan.
Perlahan, melalui Aaron Callysta mulai memahami dan mempelajari dunia bisnis. Dia sudah mulai berani untuk mengambil keputusan.
"Aku kayaknya harus punya rumah sendiri deh. Yang jarak sama kantor gak begitu jauh." gumam Callysta.
__ADS_1
Dia berniat untuk pindah rumah, Callysta meminta izin pada papi dan maminya untuk pindah rumah.
"Pi, kalau aku beli rumah sendiri boleh?" tanya Callysta pada pak Jaya.
"Kamu gak nyaman di rumah kita?" pak Jaya menanyakan alasan Callysta.
"Bukan gitu pi, aku kayaknya butuh rumah yang deket sama kantorku pi. Sekalian itung-itung belajar mandiri." Callysta mencoba menjelaskan.
"Oh gitu, ya silakan nak. Boleh, kamu tinggal cari aja. Mau papi temani?" pak Jaya menawarkan.
"Gak usah pi, aku cari sendiri aja. Lagian buat aku sama asisten. Gak butuh yang besar-besarlah ya."
"Ya, kamu kabari aja kalau rumah udah deal dan siap. Nanti undang papi dan mami kesana."
Callysta merasa lega, papinya mengizinkan dia untuk membeli rumah. Benar-benar awal yang baru baginya, semua harus dia perjuangkan dan usahakan sendiri. Ya, ini kali pertama Callysta tinggal sendiri dengan mengurus bisnisnya.
Segala persiapan dia lakukan untuk memilih rumah barunya, lokasi yang strategis. Karena Callysta suka dengan mall, dia memilih Cluster perumahan mewah yang berada dekat dengan mall dan pintu masuk tol. Ditemani Dinda, Callysta memilih rumah barunya. Sementara, Dinda ikut tinggal bersama Callysta untuk memudahkan mengatur jadwal kegiatan Callysta sehari-hari. Toh, Callysta hanya sendirian jadi apabila ada Dinda itu akan menguntungkan bagi Callysta.
Telepon berdering, seseorang menelpon Callysta.
"Halo," Callysta mengangkat telepon.
"Dengan ibu Callysta?" suara dari kejauhan sana menanyakan.
"Iya, betul. Ini dengan siapa ya?"
"Begini bu, kami dari BPOM. Terkait produk LYS milik ibu, dengan nama LYS body serum cherry blossom whitening skin ada indikasi mengandung merkuri. Jadi, untuk sementara kami sita. Untuk konfirmasinya silakan ibu segera ke kantor kami hari ini."
Degg......
Seperti berhenti berdegup, Callysta shock mendengar itu.
"Ini penipuan?" tanya Callysta tidak percaya.
"Mohon maaf ibu. Alamat kami kirim, mohon ditunggu konfirmasinya ya ibu. Segera."
Langit terasa buram, pandangan Callysta kabur. Batinnya "Apalagi ini ya Tuhan."
...****************...
__ADS_1