Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Callysta & Aaron Menyatu


__ADS_3

Gedung dengan nuansa putih dan bunga berbagai warna telah dihias. Aroma bunga begitu menyibak seisi ruangan. Nuansa kebahagiaan terasa oleh setiap tamu yang hadir. Dekorasi pelaminan yang indah menjulang tinggi di ruangan terlihat menawan. Lampu laser yang kemerlip memancar bak aurora yang berbinar-binar. Pondok-pondok makanan puluhan seisi ruangan dipenuhi oleh tamu undangan yang hadir. Hiburan oleh penyanyi terkenal di neggri ini menambah meriah suasana pernikahan Callysta dan Aaron.


Callysta yang memakai gaun putih yang menjuntai dengan rambut yang dirias dan crown di atas kepalanya bak ratu sehari. Sementara Aaron yang mengenakan setelan berwarna hitam terlihat gagah dengan tubuhnya yang kekar serta dadanya yang bidang.


Raut wajah keduanya begitu bahagia, menyambut seluruh tamu yang datang. Sementara bu Anna terlihat sesekali menyeka air mata bahagianya. Anak laki-laki satu-satunya akhirnya menikah diusia kepala tiga. Betapa rasa bahagia menyelimuti hatinya. Pak Hendry menggenggam tangan istrinya erat, sesekali mengusap bahunya. Turut bahagia pada anaknya yang selama ini dipercaya untuk mengelola perusahaannya akhirnya sebentar lagi akan membina rumah tangga.


Senyum Callysta merekah, saat menjabat tangan satu persatu tamu undangan yang memberikan selamat padanya. Sejenak kekhawatirannya sirna, kini yang tersisa di hatinya cuma kebahagiaan akan momen yang sedang dia rasakan.


Dari sekian tamu yang berderet mengantri untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang tengah berbahagia itu. Hadir sepasang yang turut mengucapkan selamat padanya. Namun, kehadirannya sebenarnya tidak diharapkan. Undanganpun tidak mereka dapatkan, tapi nekat saja datang ke pesta pernikahan.


"Selamat ya. Kalian cocok sekali. Katanya sih Callysta sehat, semoga aja cepet punya anak ya. Gak kaya dulu, bertahun-tahun gak punya anak." ucap Felix sembari menjabat tangan Aaron erat.


"Congrats Ta. Aku ikut bahagia." Tara mengucapkan selamat pada Callysta sembari memeluknya.


"Hati-hati kalo bicara. Keadaan bisa berbalik buruk ke kamu." Callysta menatap Felix tajam dengan senyum getirnya.


Sedikit heran bagi Callysta mengapa mereka bisa datang dan dapat undangan. Padahal, setiap tamu yang datang tidak sembarangan. Semuanya masuk menggunakan kartu undangan yang mereka bagikan. Callysta tidak mau momen bahagianya ternodai hanya karna kehadiran mereka berdua yang tidak diundang. Buru-buru ia tepis rasa penasaran dan kesal melihat kedatangan mereka.


***


Usai sudah rangkaian acara yang cukup menguras tenaga bagi keduanya. Hampir seribu tamu undangan yang datang, semuanya mereka salami dalam waktu 4 jam lamanya. Berdiri diatas hight heels membuat kaki Callysta pegal-pegal. Namun, lelah itu sirna seketika saat melihat senyum Aaron yang menyejukkan hatinya.

__ADS_1


Di hotel yang sama, usai acara pernikahan mereka. Keduanya memasuki ruang hotel yang dipesan khusus untuk pengantin. Sebuah kamar VVIP dengan fasilitas luxury mereka pilih untuk menghabiskan malam pertama. Dengan dekor kamar yang serba manis, penuh bunga mawar di atas ranjang. Tart pengantin, buah-buahan serta cemilan yang tersaji di atas meja.


Hati Aaron berdesir, saat mereka masuk ke kamar. Hanya ada mereka berdua, status mereka sudah sah menjadi suami istri. Kini, wanita didepannya yang akan selalu dia pandang sebelum dan setelah bangun tidur. Wanita yang akan menyempurnakan hidupnya, yang menjadi tanggung jawabnya. Yang kelak akan memberinya keturunan penerusnya.


Dengan rasa canggung, Callysta mengatakan pada Aaron akan bersih-bersih dan mandi lebih dulu. Sementara Aaron hanya mengiyakan, sembari melepas satu persatu sepatu yang ia kenakan.


Usai mandi Callysta mengenakan piama, ia duduk menunggu Aaron yang tengah mandi membersihkan diri. Suasana canggung sangat terasa di kamar itu, bunga mawar berbentuk hati yang tertata di atas kasur masih tersusun rapi belum mereka sentuh sama sekali.


Callysta meneguk air minumnya, disampingnya Aaron duduk mengenakan piama yang berwarna sama, piama pasangan.


Glleekkk,,,,, glekkk.....


Suasana canggung membuat air yang Callysta teguk terdengar jelas.


Dari jendela terlihat pemandangan di bawah, kemerlip malam kota Jakarta. Jendela kaca yang panjang dengan tirai yang dibuka, suasana malam nan romantis di gedung lantai atas yang menyajikan pemandangan kota terlihat luas.


"Iya Ron. Aku bahagia jadi istri kamu." Callysta tersenyum.


Aaron menggenggam tangan Callysta.


"Sekarang, kamu jangan panggil aku Aaron dong. Kita kan udah suami istri." pinta Aaron pada Callysta.

__ADS_1


"Emmm, baiknya aku panggil kamu siapa? Sa..yang?"


"Hubby sayang. Aku panggil kamu honey sayang" pinta Aaron sembari tersenyum.


"Hubby sayang." celetuk Callysta


"Honey sayang." celetuk Aaron sambil menoel pipi Callysta.


Keduanya hanyut dengan pembicaraan sebagai sepasang suami istri baru. Dan, momen yang mereka tunggu sebagai pengantin barupun mereka tunaikan malam itu.


Keduanya menyatu, dalam malam panjang. Terjaga dengan ******* dan kecupan mengarungi samudra cinta yang baru mereka lakukan. Keringat bercucuran, darah mengalir deras, detak jantung yang berpacu denyut demi denyut. Tatapan yang sesekali bertemu di kedua bola mata mereka, sesekali terpejam dalam dalam.


Bunga mawar di atas ranjang berhamburan, tirai jendela tertutup rapat. Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka, hanya sulaman demi sulaman yang mereka lakukan melalui bibir. Suara ******* pelan pun terdengar menggelikan di telinga. Berdesir, mengalir seluruh tubuh bergetar tak tertahankan menahan bendungan yang harus segera dilepaskan.


Byuurrr...... Terasa seperti semburan bendungan yang terbuka bersama. Terasa lega dan membahagiakan. Sprei putih itu basah dengan bau pandan yang khas.


Aaron mengecup kening Callysta kemudian memeluknya erat, matanya terpejam. Ada kantuk berat yang tiba-tiba datang. Seperti sehabis lari maraton berkilo-kilo meter. Sebaliknya, Callysta justru tidak mengantuk sama sekali, ia melihat sesosok laki-laki disampingnya yang tertidur dalam pelukannya.


Ada rasa syukur yang tak terhingga bagi Callysta. Ia berharap, laki-laki di sampingnya yang kini berstatus suami baginya akan selalu bahagia mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Ia berharap akan bisa memberikan yang terbaik bagi suaminya.


Jauh dalam hatinya, ia ingin seperti wanita lainnya. Setelah menikah akan segera memiliki anak dan mengandung janin. Walaupun hal itu tidak ia ungkapkan pada Aaron. Ia tidak ingin Aaron berharap lebih, dan akhirnya kecewa. Karena semua itu bukan kehendaknya, hanya Tuhanlah yang tau kapan waktu terbaik baginya menyandang status sebagai orang tua.

__ADS_1


Ya, kini ia akan lebih santai. Dan menikmati momen demi momen bersama Aaron. Memberikan yang terbaik bagi suaminya, tanpa meninggalkan kariernya. Ia ingin setara dengan Aaron. Kariernya tetap berjalan, perannya sebagai istri dapat ia lakukan dengan baik pula.


Kali ini ia banyak belajar menjadi wanita yang lebih mandiri dan menyiapkan mental sebagai istri dan ibu kelak.


__ADS_2