Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Di sebuah kamar nan nyaman, duduklah Callysta mengahadap cermin sedikit termenung. Pikirannya kembali pada pertemuan yang tidak disengaja di rumah sakit tempo hari. Saat bertemu dengan Felix dan Tara bersama seorang anak kecil.


"Mungkin gak sih itu anak mereka?" gumam Callysta.


"Ah, kenapa pikiranku terusik gini ya?"


Callysta berusaha mengalihkan pikirannya yang tiba-tiba memikirkan Felix.


"Jelas waktu itu Felix dan Tara pergi ke arah lab rumah sakit."


Tidak lama berselang, handphone Callysta berdering.


"Nak, Dante masuk rumah sakit. Mami khawatir banget baru aja dikabarin sama Jonathan. Ayo temani mami kesana." bu Sinta terisak mendengar kabar cucu pertamanya masuk rumah sakit.


"Lho sejak kapan mi? Dante kenapa?" tanya Callysta kaget.


"Mami juga gak tau, katanya jatoh tadi di sekolahannya. Papimu masih ada kerjaan sama pak Edo kebetulan mami sendirian di rumah."


"Yaudah mi, tunggu ya. Mami yang tenang, Lysta bentar lagi nyamperin mami, kita ke rumah sakit bareng-bareng."


Callysta bergegas mengambil kunci mobilnya, kemudian dia kendarai menuju rumah orang tuanya. Saat mobil tiba di depan pintu gerbang, bu Sinta sudah menunggu di teras rumah dengan gelisah. Buru-buru bu Sinta masuk ke dalam mobil Callysta dan mereka berdua menuju rumah sakit.


Dengan hati gelisah, dan wajah yang terlihat panik bu Sinta bersama Callysta menuju ruangan VIP dimana Dante dirawat.


"Aduuh, cucu Oma kenapa? Mana yang sakit sayang? Gimana keadaannya?" bu Sinta datang langsung menghambur memeluk Dante yang berbaring.


Kaki kanan Dante terbalut plester, mamanya Natasha sedang menyuapinya jeruk.


"Beruntung mi, tadi langsung dibawa ke IGD dan ditangani oleh dokter. Aku gak bisa bayangin kalau telat sedikit aja." ucap Natasha sembari mengelus kepala Dante.


"Aku berani Oma, gak nangis tadi pas dijait." ucap Dante dengan bangganya.


"Wah, hebat nih Dante. Nanti kalau dah sembuh onty belikan mobil remot mau?" Tanya Callysta menawarkan.


"Mau,,, mau onty…." Ucap Dante antusias.


"Kapan Jonathan kesini? Dia udah tau?" Tanya bu Sinta.


"Papa Dante kesini nanti Oma, masih harus nyelesein kerjaan. Tadi langsung aku kabari pas mau ke IGD."


Telepon Callysta berdering, dilihatnya ternyata Aaron menelfon.


"Halo Ta, aku lagi perjalanan ke rumah kamu nih."

__ADS_1


"Aku gak di rumah Ron, masih di rumah sakit ini Dante tadi jatoh di sekolahnya kakinya tersayat jadi harus dijahit."


"Astaga! Aku susul kesitu ya?" Ucap Aaron.


"Boleh Ron. Aku jemput di lobby nanti ya."


Telepon ditutup, Aaron bergegas berbalik arah menuju rumah sakit. Sebelum ke rumah sakit, dia mampir ke toko mainan untuk membeli mobil remot untuk Dante.


***


Hari ini jadwal Felix untuk mengambil hasil tes DNA, baru saja dia mendapat telepon dari pihak rumah sakit bahwa hasilnya sudah bisa diambil. Handphone nya berdering, telepon dari Tara.


"Halo Beb, hari ini hasilnya keluar kan? Mau diambil bareng?" tanya Tara.


"Oh, gak usah. Biaraku aja yang ambil. Baru aja au dapat telpon dari pihak rumah sakit."


"Oh, yaudah. Nanti setelah dari rumah sakit kamu bisa kan mampir ke rumahku? Kita liat bareng hasilnya."


"Ya, nanti dari rumah sakit aku langsung mampir ke rumah kamu."


Sebenarnya Felix enggan mengajar Tara karena merasa percaya diri bahwa hasilnya akan menyatakan tidak akurat. Jika hasilnya benar tidak akurat, mungkin Felix akan putus dari Tara. Namun, jika hasilnya akurat Felix merasa kebingungan dan harus mulai bicara dari mana pada ibunya bu Ajeng. Pasti Tara akan meminta pernikahan mereka dilangsungkan secepatnya.


Felix bergegas ke rumah sakit dengan perasaan yang antusias dan tidak sabar. Mobilnya melaju cepat, buru-buru dia parkirkan yang terdekat dengan pintu masuk rumah sakit.


Bhruuukkkkkk........


Seseorang yang buru-buru berjalan tidak sengaja menabraknya. Kertas berisi hasil tes DNA behamburan.


Ternyata orang itu adalah Aaron, dia mengambil sebuah kertas yang bertuliskan nama Felix Giovani dan Felicia Cassandra Giovani memiliki keakuratan 97%. Aaron terhenyak kemudian melihat wajah Felix. Sementara Felix kaget, ternyata orang yang tidak sengaja menabraknya adalah Aaron. Buru-buru kertas itu diambil dari genggaman tangan Aaron.


"Sorry, sorry Lix." celetuk Aaron.


Aaron berbalik sat namanya dipaggil oleh Callysta dari kejauhan. Felix berlalu saat melihat kedatangan Callysta.


"Hi, Ta." sapa Aaron.


"Barusan bukannya Felix?" tanya Callysta.


"Iya, gak sengaja aku nabrak dia." jelas Aaron.


"Oh, kirain lagi ngobrolin apaan kalian. Kaya nya dia sering banget ya mondar mandir kesini. Tepo hari kita juga papasan sama dia kan?" tanya Callysta memastikan Aaron mengingatnya.


"Iya Ta. Barusan aku gak sengaja baca kertasnya yang jatoh trus aku ambil, teryata itu laporan hasil tes DNA."

__ADS_1


"What??? Tes DNA? Kamu tau sesuatu Ron?"


"Aku gak yakin sih. Cuman di kertas itu tertulis jelas nama dia sama nama perempuan yang bernama Felicia Cassandra Giovani dan hasilnya mereka menunjukkan 97% akurat." Aaron menjelaskan apa yang baru saja dia lihat.


Callysta terdiiam sejenak berusaha mencerna yang baru saja dikatakan oleh Aaron.


"Asumsiku, barankali anak kecil yanag kemaren diajak kesini itu yang bernama Feicia." Aaron menambahkan.


"Busuk si Felix!!!!" Callysta tanpa sadar mengumpat. Ada rasa kecewa yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan hatinya yang sakit, namun dia mersa dibodohi sejauh ini.


"Kamu gak papa Ta?" tanya Aaron.


"Aku gak papa Ron. Cuman ngerasa bodoh banget, selama ini aku dibohongi dan gak tau. Ya ampuuunnnn, apa aku terlalu polos ya Ron?" tanay Callysta kembali.


"Enggak Ta. Memang dia aja yang gak tahu diri! Kamu bersyukur aja udah lepas dari jeratan dia."


"Iya sih, cuman hatiku masih ngeganjel aja setelah tau semua ini."


Callysta menghela nafas panjang, Aaron mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangannya. Mereka berdua berjalan menuju ke kamar VIP tempat Dante di rawat.


Bu Sinta dan natasha kaget melihat kehadiran Aaron. Mereka saling menatap penuh kode. Dante kegirangan mendapat hadiah dari Aaron.


"Mami bentar lagi bakal punya mantu nih." celetuk Natasha berbisik pada bu Sinta sembari melirik Aaron dan Callysta yang sedang ngobrol dengan Dante.


***


"Halo bu," Callysta menelpon bu Ajeng.


"Iya, halo. Tumben Callysta kamu nelpon ibu. Seneng banget lho ibu di telpon kamu, ering-seringlah kamu telpon gini." jawab bu Ajeng dengan girangnya.


"Aku cuma mu ngasih selamat buat ibu." jawab Callysta singkat.


"Selamat buat apa Ta?"


"Selamat, ternyata ibu sudah punya cucu. Cucu yang ibu impi-impikan ternyata ibu sudah memilikinya sejak dulu."


"Maksud kamu ngomong gitu apa Ta? Jangan sembarangan ya kalau ngomong."


"Tanyakan sama anak ibu tercinta lebih jelasnya. Selamat ya bu sekali lagi."


"Callysta, kamu jangan fitnah Felix ya!! Apa-apaan kamu!!!"


Telepon ditutup, bu Sinta merasa seperti disambar petir.

__ADS_1


"Felix menghamili anak orang? Apa sih maksudnya Callysta." gumam bu Sinta.


__ADS_2