Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Perselingkuhan Yang Di Sembunyikan


__ADS_3

Callysta sempat termenung sejenak mengingat kejadian tempo hari saat melihat Tara bersama anak kecil di depan rumah sakit. Sebenarnya hatinya penuh pertanyaan.


"Apa mungkin itu anak Tara? Kalaupun anaknya kenapa sudah sebesar itu?" gumamnya pelan dalam hati.


"Kalau bukan anaknya pun kenapa dia keibuan gitu memperlakukan anak itu. Hmmm, sudahlah biarin aja. Bukan urusanku kali ya." Callysta menarik selimut kemudian memejamkan mata dan tertidur.


Dalam hatinya berharap, rasa penasarannya akan terjawab kelak oleh sang waktu. Ada kalanya membiarkan semesta bekerja sendiri, dan waktulah jawaban terbaik dari rasa penasarannya.


***


Empat tahun lalu, saat Callysta dan Felix menjadi pengantin baru. Tidak ada kejanggalan dalam rumah tangga mereka, walaupun memang Felix tidak semesra suami yang baru saja menikah. Callysta menerima dengan apa adanya. Awal-awal pernikahan mereka, Felix masih begitu ramah pada Callysta.


"Sayang, bulan madu kita udah berlalu. Cuti kerjaku juga udah berakhir, aku mulai bekerja seperti biasanya. Kalau aku ada lembur kerja kamu gak papa di rumah sendirian?" tanya Felix pada Callysta.


"Emmm, gak papa sayang. Yang penting kamu kabari aku pulang jam berapa. Nanti aku tunggu kamu sampai pulang, aku bukain pintu." jawab Callysta menerima.


"No, no. Aku bawa kunci rumah sendiri. Kamu gak perlu nunggu aku, jadi kalau udah ngantuk tidur aja dulu sayang."


"Serius gak papa?"


"Iya, gak papa sayang."


Saat itu, Felix mulai pulang larut. Awalnya memang ada lembur kerja yang berujung berdua bersama sekretaris pribadinya yaitu Tara.


Malam itu, di kantor tepatnya di ruangan Felix hanya ada mereka berdua. Tara dan Felix, Tara yang memang berparas cantik, tubuhnya pun menawan. Kulitnya bersih, wajahnya bulat kecil. Bibirnya yang sedikit tebal, memberi kesan sensual pada wajahnya. Sesekali, rok ketat selutut ia kenakan membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Kemeja yang dimasukkan membuat pinggang kecilnya terlihat jelas. Lekukan tubuhnya membentuk seperti gitar spanyol.


Felix, melihat Tara dengan tatapan terpana. Sesekali dia menelan ludahnya saat melihat bentuk tubuh Tara dari belakang. Bahkan tatapannya jadi kosong dan penuh khayalan.


"Pak, ini udah selesai. Apa boleh saya pulang dulu. Udah hampir jam 10 pak." Felix terdiam pandangannya jauh, tidak sadar saat Tara berbicara di depannya.


"Pak, pak Felix. Bapak denger barusan saya ngomong?" sambung Tara sembari melambaikan tangannya di depan wajah Felix.


"Oh, iya. Iyaaa. Gimana?"


"Ini udah kelar Pak, boleh saya pulang dulu?" tanya Tara mengulangi.


"Oh, iya. Biar saya antar kamu. Udah larut malam gak baik anak gadis seperti kamu pulang sendirian."


"Gak usah pak."


"Gak papa, gak papa. Sekalian searah dengan arah rumah saya. Ayok bareng aja pulangnya."

__ADS_1


Awalnya Felix sering mengantar Tara pulang, lama kelamaan dia pun menaruh hati. Dan terjadilah hubungan terlarang antara keduanya. Yang awalnya Tara tidak tahu kalau Felix sudah menikah sampai akhirnya Tara mengetahui bahwa Felix sudah menikah dengan Callysta.


Saat tidak ada lemburan, terkadang Felix mampir ke rumah Tara akhirnya beralasan pulang larut. Atau bahkan ketika weekend dia menghabiskan waktu bersama Tara staycation di hotel tentu tanpa sepengetahuan Callysta.


"Beb, aku mau ngomong serius sama kamu pulang kerja nanti." pinta Tara pada Felix.


"Gak sekarang aja?" tanya Felix.


"Enggak."


Saat pulang kerja, di dalam mobil pembicaraan serius mereka mulai berlangsung.


"Aku takut banget." Tara menangis.


"Kenapa? Takut kenapa?" tanya Felix sembari menenangkan Tara.


"Ini..." Tara menyerahkan sebuah tes kehamilan.


"Apa ini maksudnya?" tanya Felix yang tidak paham dengan dua garis merah yang terlihat di alat tes kehamilan.


"Aku hamil. Udah sebulan lebih aku telat." ucap Tara sembari menangis tersedu-sedu.


"Apa? Gak mungkin. Kamu jangan bercanda ya?" Felix kaget, alat itu dia berikan pada Tara.


Felix terdiam mengepalkan tangannya pada setir mobil.


"Kamu harus gugurin bayi itu!!!" Felix memohon pada Tara.


Tara menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Dengerin aku Tara, saat ini keputusan terbaik adalah gugurin kandungan kamu. Aku gak mau karier kita hancur. Aku juga baru menikah enam bulan lalu. Apa kata orang-orang dan mertuaku kalau tiba-tiba kuceraikan si Callysta." Felix menjelaskan alasannya.


"Enggak. Aku takut kalo harus gugurin bayi ini. Aku gak mau."


"Aku temani dan carikan yang gak sakit buat proses menggugurkannya, ya?"


Tara terdiam, Felix mulai menjalankan mobilnya.


Jauh dalam hati Tara tidak ada keinginan untuk menggugurkan kandungannya. Dia sudah merasakan denyut jantung bayinya.


***

__ADS_1


Berkali-kali Felix menanyakan pada Tara dan memastikan apakah bayi itu sudah digugurkan. Karena Tara tidak mau diantar Felix untuk menggugurkan bayi itu. Sampai akhirnya mereka bertengkar.


"Kalau kamu gak gugurin bayi itu hubungan kita berakhir!!" ancam Felix.


"Kenapa gitu? Ini darah daging kamu. Aku gak minya kamu nikahin kau sekarang. Aku cuma mau pertahanin bayi ini." pinta Tara sembari memohon pada Felix.


"Aku gak mau tau. Kehadirannya jadi penghalang buat aku. Gak seharusnya kamu pertahanin dia."


"Cukup Felix. Cukup. Aku gak sanggup kamu ngomong gitu."


"Aku pastikan kamu udah gugurin kandunganmu itu. Sebelum semakin membesar dan orang-orang di kantor melihat."


Tara sempat goyah dan ingin mengakhiri hidupnya juga. Sampai dia akhirnya memberanikan diri menceritakan pada ibunya. Yang awalnya bu Rina marah, namun bagaimanapun Tara adalah anak satu-satunya dan tinggal berdua saja dengan bu Rina. Akhirnya, bu Rina menguatkan Tara.


"Sudah Ra, kamu harus pertahanin janin ini. Biar bagaimanapun janin ini tidak berdosa." bu Rina meyakinkan Tara.


"Ma, maafin aku. Aku gak tau harus gimana ma." jawab Tara putus asa.


"Bilang aja ke Felix kamu udah gugurin janin ini. Mulai sekarang kamu pake baju yang agak longgar. Kasihan janin yang ada dikandunganmu."


***


Untuk mempertahankan Felix, akhirnya Tara membohongi Felix bahwa dia sudah menggugurkan kandungannya. Semua cek up ke dokter dia lakukan sendiri, sesekali ditemani oleh mamanya.


Yang perlu dilakukannya sekarang adalah menyembunyikan keberadaan janin diperutnya agar tidak moncolok mata. Itu semua dia lakukan demi pekerjaannya agar tidak hancur begitu juga hubungannya juga agar tidak putus dengan Felix.


"Baguslah kalau gitu. Aku bakal lebih hati-hati lagi." Ucap Felix.


Felix merasa lega, saat itu juga dia mulai jarang mengajak Tara ke hotel. Dia memilih menghabiskan waktu bersama Tara untuk makan bersama.


"Kamu sekarang makannya makin lahap ya?" tanya Felix pada Tara.


"Oh, emm. Apa iya? Oh, tadi aku belum makan siang. Makanya laper banget sekarang."


"Mau pesen satu porsi lagi?" tanya Felix.


"Oh, boleh deh."


"Kamu juga makin keliatan agak berisi. Udah gak diet?" tanya Felix kembali.


"Aku gak stress, jadi larinya ke makan. Ntar deh diet lagi."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2