
Sampai di Jakarta Callysta ditemani Aaron menuju kantor pak Leo. Ia meminta agar pelaku laki-laki itu ditemukan dengannya saat itu juga. Terasa mendidih emosi Callysta mengetahui pelaku sebenarnya. Tidak pikir panjang, kali ini kesabarannya sudah diujung tanduk.
Di momen yang bahagia ini, harus ia tunda sedikit untuk menyelesaikan masalah yang sudah cukup lama itu. Sesekali Callysta menghela nafas panjang. Aaron mencoba menenangkan istrinya itu. Dalam hatinya pun penuh amarah yang tak terbendung.
Cekreekkkk.....
Suara derit pintu ruangan pak Leo terbuka, Callysta dan Aaron memasuki ruangan itu dengan penuh harap segera bertemu dengan pelaku yang terlibat. Dua orang laki-laki berdiri dihadapan pak Leo, dan seseorang yang merupakan sekretaris pribadi pak Leo berdiri di sampingnya.
Dengan tatapan nanar Callysta melihat tajam-tajam dua laki-laki itu. Salah satu laki-laki itu wajahnya dikenal betul oleh Callysta. Ya laki-laki yang pernah membina rumah tangga dengannya. Laki-laki yang pernah menyelakainya, tidak lain juga laki-laki yang sudah menghancurkan separuh perjalanan hidupnya.
Laki-laki itu Felix Giovani!
Jika kesabaran itu ada batasnya, bagi Callysta istilah itu tidak ada. Ia wanita yang rela memberikan kesabaran seluas samudra bagi orang yang pernah menyakitinya. Namun, istilah itu kini tidak berlaku lagi baginya. Kesabarannya memilki batas bagi orang-orang tertentu semacam Felix. Yang tidak ada habisnya membuat hidupnya menderita.
Apalagi setelah tau fakta-fakta kebohongan lainnya yang dibuat oleh Felix. Jika ada pepatah yang mengatakan "Balas dendam terbaik adalah terus hidup dan membuktikan diri." (Eddie Vedder) memang benar adanya. Namun jika ada orang yang terus menerus kurang ajar. Bagi Callysta tidak cukup hanya untuk meneruskan hidup dan membuktikan diri saja. Ia juga perlu untuk menyadarkan.
Terkadang cara menyadarkan adalah dengan membalas!!!
Itulah prinsip Callysta, baginya perilaku Felix padanya sudah melewati batas.
***
"Silakan masuk bu, langsung saja ya bu. Silakan ibu bisa lihat sendiri. Mereka pelakunya." pak Leo menunjuk dua orang pelaku.
"Terima kasih pak Leo. Saya sangat mengapresiasi usaha pak Leo."
Callysta tidak banyak berkata, ia hanya menatap nanar wajah dua laki-laki yang ada dihadapannya. Felix terdiam sejenak, namun ia segera membela diri.
"Kenapa saya ada disini pak Leo? Seoalah-olah saya salah. Apa yang saya perbuat?" tanya Felix merasa dirinya benar.
__ADS_1
"Sudah, kamu diam aja. Nanti bisa di jelaskan di kantor polisi."
"Apa maksud anda pak? Salah saya apa? Kenapa menuduh saya seperti itu?" Felix semakin membela diri.
"Hey bung!!! Cukupkan ocehanmu! Benar-benar muak mendengar suaramu. Ada waktumu membela diri. Sekarang diam!!!" Callysta membentak lirih dengan menatapnya tajam.
Felix diam sejenak, peluhnya bercucuran. Baru kali ini ia melihat tatapan Callysta semengerikan itu. Bahkan selama ia menikahi Callysta belum pernah sekalipun melihat ekspresi Callysta seperti itu.
Ada tipikal orang yang ketika berbuat salah sekali dua kali akan menyesal jika sudah mendapat peringatan. Ada pula yang pura-pura menyesal. Tipikal orang semacam itu akan luluh dengan nasehat dan peringatan. Namun, ada orang yang memang harus disadarkan dengan cara yang keras. Callysta menyadarinya, bahwa Felix bukan orang yang bisa ia biarkan begitu saja.
Hari itu juga, setelah Callysta dan Aaron melihat dua pelaku akhirnya didatangkan polisi ke kantor pak Leo. Semua mata tertuju pada penangkapan Felix dan salah satu karyawan yang membantunya itu. Tidak ada banyak kata dari Aaron dan Callysta, bagi mereka hanya akan mengundang peluh saja jika harus beradu mulut dengan Felix.
***
Sampai di kantor polisi setempat, mereka menjalani pemeriksaan selama 3 jam lamanya. Waktu yang tidak sebentar, namun akhirnya menemukan titik terang. Bukti-bukti diberikan pada pihak kepolisian, termasuk cuplikan cctv. Karyawan yang membantu Felix itu, bukan lagi sebagai tersangka. Ia diputuskan sebagai saksi, karena memang tidak mengetahui niat dan siasat dari Felix.
"Kalau anda tidak mengakui justru akan memberatkan hukuman anda kedepannya pak" polisi menjelaskan saat Felix menyangkal.
"Apa yang harus saya akui pak? Apa karna bermasker jadi itu ditujukan ke saya? Bisa jadi cuma mirip kan?" Felix berkilah.
Sampai pada cctv terakhir dilihatkan pada Felix, yang menunjukkan raut wajahnya cukup jelas. Polisi zoom bagian wajah laki-laki yang ada di cctv itu.
"Ini wajah anda bukan pak?" tanya polisi.
"Ii..itu, kenapa mirip saya?" tanya Felix terhenyak.
"Coba bapak liat baik-baik, ini wajah anda pak. Kemiripan 80% walaupun kualitas gambar agak buram, tapi jelas terlihat kalau wajah itu memang anda. Bagaimana, anda mau mengakuinya?"
Felix terdiam, tidak ada alasan lagi yang keluar dari mulutnya. Hatinya berdebar kencang, berpikir keras kenapa ia sampai terjebak di tempat semacam ini. Bukankah ia sudah melakukan yang terbaik agar semuanya mulus tak ada celah.
__ADS_1
"Anda diam berarti mengakui pak! Anda boleh membawa pengacara saat persidangan nanti. Anda boleh menyanggah saat di persidangan."
Wajahnya memerah, amarahnya terpendam. Seketika tidak percaya dengan keadaan yang saat ini menimpa dirinya.
Callysta dan Aaron menunggu dari kejauhan, melihat proses pemeriksaan yang memakan waktu cukup lama.
"Kamu capek sayang?" tanya Aaron membelai kepala Callysta yang menyandar di bahunya.
Callysta mengangguk.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi. Kesabaran kamu akan ada hasilnya, kamu kuat dan hebat udah menahan sejauh ini. Sekarang, kita tinggal ikuti proses hukum. Oh ya, kamu udah menghubungi pengacara?"
"Belum sayang. Kamu mau cari pengacara baru? Atau pengacaraku yang dulu itu?"
"Pengacara yang dulu aja gak papa. Ini kasus gak begitu rumit kok sebenarnya. Bisa kita beresin dengan cepat." Aaron meyakinkan Callysta.
Keduanya optimis, kasus kali ini akan dimenangkan oleh mereka. Gugatan dari perusahaan pak Leo juga semakin memberatkan hukuman Felix. Mudah bagi mereka untuk menjebloskan Felix ke dalam penjara.
***
Setelah berjam-jam lamanya menunggu, akhirnya Callysta kembali ke rumah dengan keadaan lelah yang luar biasa. Ia segera mengguyur tubuhnya di kamar mandi dengan air yang menyegarkan. Serasa lelahnya hilang seketika.
Usai mandi ia membenamkan tubuhnya di kasur yang nyaman. Wangi seprei yang baru diganti terasa menenangkan, AC ia nyalakan. Dari luar datang Aaron yang membawa secangkir teh untuknya dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Ia pun bangun dan duduk di sofa yang ada di samping jendela kamar. Senyum suaminya menghangatkan harinya yang melelahkan.
Kopi yang hangat diseruput oleh Aaron, kemudian ia memberikan secangkir teh pada Callysta dan diseruputnya dengan perlahan. Keduanya tidak membicarakan yang seharia tadi terjadi. Hanya saling senyum dan bercumbu untuk saling menguatkan dan menenangkan diri.
Betapa nyamannya, ketika ia melewati hari yang sulit. Kini ada tempatnya untuk bersandar, meskipub hanya sekedar mendengarnya menghela nafas panjang. Kemudian dibalas oleh pelukan hangat nan menenangkan.
...****************...
__ADS_1