Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Wajah Baru


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, dari atas gedung bangunan rumah sakit tempat Callysta di rawat terlihat pemandangan Gangnam yang padat. Dari kejauhan terlihat gedung-gedung menjulang tinggi, di bagian ujung terlihat pepohonan memadati taman kota. Setelah beristirahat semalaman Callysta masih dalam pengaruh anestesi, belum sadar sepenuhnya. Dia juga belum bisa banyak bergerak dan bicara. Wajahnya penuh dengan balutan perban. Hanya hidung dan bibirnya saja yang tidak tertutup perban.


Bu Sinta menemani Callysta sendirian, Aaron belum datang ke rumah sakit. Untuk makan dan minum, Callysta diambilkan dan memakai sedotan.


"Sakit ya nak? Kasian sekali, mami gak bisa bayanginnya. Kamu disayat-sayat gitu. Duuhhh..." bu Sinta prihatin melihat keadaaan Callysta. Dia hanya bisa mengangguk dan sesekali menggelengkan kepala.


Pemulihan pasca operasi plastik semacam itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk membuka perbannya secara penuh, kira-kira butuh waktu satu bulan. Bagian tangan dan kaki serta perut hanya mendapatkan treatmen saja, tidak memerlukan sayatan.


Bu Sinta video call pak Jaya, suaminya itu ingin melihat keadaan anaknya.


"Lihat pi, Callysta mukanya gak keliatan gitu."


"Waduh, kamu kayak ninja gitu jadinya ya? Papi jadi penasaran bakal kayak gimana hasilnya."


Callysta mengangguk dan melambaikan tangan pada papinya.


"Kalau Callysta buka perban papi harus kesini lho. Biar liat langsung kecantikan Callysta setelah operasi."


"Oh, ya harus. Pasti nanti papi sempatkan terbang ke Korea hari itu."


Terdengar pintu kamar ruangan yang diketuk, kemudian masuk sesosok laki-laki bertubuh bidang, rambut klimis, memakai setelan jas terseanyum menyapa.


"Pi, ini ada Aaron. Anaknya pak Wiliam, dia yang nemenin Callysta disini lho."


Dari depan handphone Aaron tersenyum.


"Halo om, apa kabar. Sehat kah om?"


"Waduh, lama om gak liat kamu Ron. Ternyata di Korea ya? Om sehat, salam ya buat papa mu. Lama gak ketemu sama om."


"Baik om, papa ada di Singapore sekarang. Lusa baru pulang ke Indo."


"Kamu kapan pulang ke Indo Ron?"

__ADS_1


"Mungkin bulan depan om. Rencana kantor cabang disini mulai beroperasi 3 bulan lagi. Jadi aku bakal sering bolak balik Korea buat pengecekan segala macem."


"Wah, hebat ya kamu. Papa kamu pasti bangga perusahaannya melesat pesat di mancanegara."


"Ah, om. Makasih pujiannya. Om juga hebat."


"Sebelum pulang ke Indo, om titip Callysta sama tante ya."


"Siap om."


Panggilan video berakhir. Aaron membuka bingkisan yang dibawanya. Berisi bubur korea dan beberapa jus untuk Callysta. Meskipun Callysta mendapat makanan dari rumah sakit, namun Aaron inisiatif membawakannya. Dia juga membawa nasi goreng seafood untuk bu Sinta.


***


Di waktu yang lain Aaron menyempatkan untuk melanjutkan riset kosmetik yang dilakukan oleh Callysta. Beberapa perusahaan kosmetik yang bekerja sama dengan perusahaannya dihubungi untuk melakukan kerjasama kelak pada brand kosmetik Callysta.


Proses pembuatan produk hingga launching untuk brand kosmetik memakan waktu yang tidak sebentar, berbeda dengan skincare. Karena brand kosmetik macam dan jenisnya lebih banyak. Oleh karena itu Aaron meriset formulasi apa saja yang tengah ramai di pasaran.


Entah mengapa dia melakukan hal ini, karena rasa iba atau karena hal yang lain. Diam-diam Aaron pun bertanya pada Jonathan sebelum dia pulang ke Indonesia.


"Baru aja cerai. Makanya dia kesini. Itung-itung biar sakit hatinya ilang. Mantan suaminya selingkuh sama sekretarisnya. Yah padahal, kalo bisa di bilang, dia jadi direktur juga karna bokap gua. Kan perusahaannya kerjasama sama perusahaan gua."


"Masih ada laki macam gitu? Kaya dia?"


"Enggak bro. Biasa aja."


"Bodoh banget brati dia. Bego. Udah gak punya apa-apa nyakitin pula."


"Yang bikin gua bersyukur adek gua gak bucin bro. Langsung di cerai tuh laki. Denger-denger sih mamanya gak suka sama adek gua. Karna yah, adek gua dikata gak cantik. Dia juga gampar adek gua sebelum cerai."


"Kurang ajar banget tuh laki. Kalau gua jadi abangnya bakal gua gampar balik dah tuh."


Sejak saat itu Aaron lebih care pada Callysta, itulah sebabnya saat ada saran untuk operasi plastik dia sangat mendukung. Dia merasakan, penampilan memang memengaruhi aura seseorang. Kharisma seseorang pun akan berubah berkat penampilan yang diubah.

__ADS_1


Aaron berharap wajah baru setelah Callysta operasi plastik akan merubah hidupnya kelak. Orang-orang yang meremehkannya karena penampilan akan bungkam dan tercengang.


***


Sembari menunggu Callysta pulih, Aaron sesekali menunjukkan progressnya tentang kosmetik yang telah dia riset. Dalam hati Callysta sangat bersyukur dan berterima kasih, karena Aaron mau turut terlibat dalam hal yang sedang diusahakannya.


"Nih, design lipstik kaya gini bagus juga. Kalau soal warna kamu lebih paham kayaknya. Aku saran soal packagingnya aja."


Callysta mengangguk.


"Yang kamu bilang dulu tentang sunscreen spray, itu oke banget. Designnya dibuat kaya gini aja. Oh iya, disini tuh lagi trend, pelembab berbentuk stik. Coba deh bikin itu juga. Wort it gak kayaknya di Indo ya."


Callysta mengirim pesan ke Aaron.


"Iya, aku oke aja. Tunggu sampai aku pulih. Gak sabar buat lanjutin progresnya."


"Sebentar lagi, yok aku ajak kamu jalan-jalan ke taman RS."


Aaron mengjak Callysta mengelilingi taman Rumah Sakit untuk menghirup udara segar. Dengan duduk di kursi roda, Aaron membawa Callysta berjalan-jalan. Wajahnya masih berbalut kain perban.


Pepohonan nan rindang berjejer hijau. Callysta mengalungkan syal dilehernya, dipakainya mantel tebal. Karena tinggal beberapa bulan lagi memasuki musim dingin. Salju pertama akan turun beberapa minggu lagi.


Bagi orang Korea salju pertama ketika turun akan membawa kebaikan. Jika turun salju pertama kemudian meminta permohonan, maka permintaan itu akan dikabulkan oleh Tuhan. Aaron bercerita banyak hal tentang Korea. Tentang musim salju yang segera akan datang. Dia mengajak Callysta untuk bermain ice skating.


Keduuanya menjadi lebih akrab dan nyaman dengan satu sama yang lainnya. Musim gugur segera berlalu, begitupun masa lalu yang menyakitkan bagi Callysta gugur bersama perginya musim gugur. Perhatian Aaron memberikan kenyamanan tersendiri bagi Callysta. Kepercayaannya pada Aaron semakin bertambah. Ditambah Aaron yang sama sekali tidak pernah menyinggung soal fisik Callyasta, dia selalu mendukung apapun demi kebaikan Callysta.


"Kalo aku balik Indo, kamu berdua disini sama mami. Tapi gak usah khawatir, nanti ada temenku orang Korea yang bisa bahasa Indonesia. Dia bakal sering ngunjungin kamu sama mami ke apartemen."


Callysta mengangguk.


"Kamu masih dalam masa pemulihan, jadi tetep butuh bantuan orang lain. Mami juga butuh istirahat, kasian kalo gak ada yang gantiin. Ini udah jadi tanggung jawab aku. Papi kamu sama Jo udah percaya sama aku buat jagain kamu dan mami."


Callysta meraih tangan Aaron dan menggenggamnya erat. Tatapannya penuh rasa terima kasih pada Aaron. Tidak terasa, jantung Aaron berdebar kencang saat matanya bertatapan dengan mata Callysta yang begitu dalam maknanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2