Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Proposal


__ADS_3

Callysta menghela nafas panjang, tidak dipungkiri perasaannya hampa dan moodnya menjai buruk setelah mengetahui bahwa Felix telah mmiliki anak bersama dengan Tara di luar nikah.


Hfffftttttt.....


"Tidak habis pikir." gumam Callysta.


Di kamarnya Callysta kembali termenung sendirian, mengabaikan Dinda yang sejak tadi mengajaknya untuk makan malam.


Tak berselang lama pesan dari Aaron masuk.


Aaron : Aku udah di depan rumah Ta, sorry ya baru ngabarin pas udah sampai. Siap-siap ya, kita makan malam di luar.


Callysta ke luar menghampiri Aaron untuk mempersilkan dia masuk sementara Callysta bersiap berganti pakaian.


"Tunggu a Ron, sebentar." pinta Callysta pada Aaron.


"Take your time Ta. " balas Aaron.


Mata Callysta salah fokus pada penampilan Aaron malam ini yang lebih rapi dari biasanya. Setelan yang dia kenakan terlihat memesona, semi casual. Rambutnya yang biasa dia biarkan begitu saja kali ini terlihat lebih klimis. "Tumben Aaron penampilannya kaya gitu." batin Callysta.


Dia segera bergegas mengganti baju seadanya, riasan wajahnya pun dia tak begitu tebal. Pikirnya cuma makan malam biasa bersama Aaron. Saat telah siap Callysta bergegas pergi bersama Aaron menuju restoran.


Tidak disangka oleh Callysta sebelumnya, ternyata mereka menuju ke restoran VVIP. Dimana satu ruangan hanya ada mereka berdua, sajian makanananya pun set dari makanan pembuka, makanan utama hingga makanan penutup beserta dissertnya ala menu western.


Tanggan Callysta meraih lengan Aaron.


"Kamu gak salah pilih tempat Ron?" tanya Callysta.


'Enggak. Emang aku pengen makan disini." Aaron menjawab dengan percaya diri.

__ADS_1


"Yah, kamu gak bilang kalau mau kesini. Aku pake baju begini apa gak slah kostum nih." Callysta melihat dirinya yang berpenampilan seadanya. Berbalut dress motif bunga yang warnanya soft keluaran brand lokal, panjangnya selutut.


"Kamu udah cantik gitu kok, gak ada yang salah." jawab Aaron memuji.


Aaron menggeser kursi yang akan diduduki oleh Callysta, kemudian mempersikan Callysta untuk duduk lebih dulu. Saat mereka sudah duduk, seorang pramusaji keluar dengan membawa seikat bunga krisan yang cukup besar kemudian diberikan pada Callysta. Pramusaji berikutnya datang mebawa teko transparan berisikan air putih beserta gelasnya, kemudian disajikan pada mereka. Callysta pun bertanya pada Aaron.


"Loh, kok aku dikasih bunga?"


"Terima aja Ta." jawab Aaron singkat sembari tersenyum.


Pramusaji yang pertama datang kembali dengan membawa makanan pembuka. Dua buah piring disajikan beserta garpu dan sendoknya, makanan yang berukuran kecil dengan plating yang menarik. Mereka berdua mulai makan sajian pertama yang dihidangkan, dan Aaron mulai mengawali pembicaraan.


"Gimana persaan kamu hari ini Ta? Pasti berat ya, mood kamu lagi cukup buruk kan hari ini?" tanya Aaron.


"Iya Ron. Jujur deh, aku ngerasa jadi orang bodoh banget. Berasa ditipu mentah-mentah. But, its oke. Aku baik-baik saja." jawab Callysta sembari menghela nafas.


"Sorry ya Ta, karena cerita dariku tadi. Mood kamu jadi buruk hari ini ya."


"No! Aku udah booking disini jauh-jauh hari Ta. Kamu tau kan, disini yang dimasak langsung oleh chef nya dan waiting list terus. Makanya tadi pagi aku ke rumah kamu, rencananya mau kabarin kalau malam ini mau aku ajak makan malam disini." Aaron menjelaskan panjang lebar.


"Oh, gitu. Ya ampun... "


Pramusaji yang kedua datang kembali membawa makanan utama, steik daging sapi A5 nan lembut. Satu set peralatan ditatakan oleh pramusaji untuk mereka. Callysta berterima kasih pada pramusaji, kemudian mulai memotong steik daging yang dimasak dengan kematangan sempurna. Ketika memotongnya pun tidak perlu cukup tenaga, bagian dalam daging masih terlihat merah matang. Disampingnya ada mashed potato sebagai pelengkap daging.


Keduanya kembali menyantap hidangan kedua yang telah disiapkan oleh pramusaji. Setelah beberapa suap daging mereka makan, datanglah pramusaji membawakan bingkisan kotak. Dia meletakkan begitu saja dan memberikan kode pada Aaron. Callysta melihat bingkisan kotak kecil yang di letakkan persis di depan Aaron. Sebelum Callysta menanyakannya, Aaron memulai pembicaraan.


"Ta, kita bersama udah cukup lama. Aku kenal kamu juga udah sejak kecil. Betapa lucunya kamu waktu kecil dulu ya. Kamu sejak dulu memang baik, bahkan sekarang pun dibalik kepolosanmu ada hati yang begitu lembut dan dewasa." Aaron mengambil nafas dalam, kemudian melanjutkan pembicaraannya.


Hati Callysta mulai berdebar kencang, mendengar perkataan Aaron. Dalam hati kecilnya berkata.

__ADS_1


"Duh, duh. Dia mau ngungkapin perasaannya nih? Aku harus jawab apa?" batinnya berbisik ingin berteriak ada perasaan yang meledak-ledak seperti kembang api.


"Lucu kali ya Ta, kalau tiap bangun tidur ada kamu disampingku. Kamu buatin aku kopi sebelum berangkat kerja. Terus, sesekali kamu ikut perjalanan kerjaku ke Korea buat mengenang masa-masa kita bersama waktu disana. Terus ada kamu versi kecilnya yang udah terkombinasi sama aku. Kita menua bersama, lihat ana-anak tumbuh dewasa, sampai rambut kita sama-sama memutih. Bahagia banget kalo aku bayangin itu Ta rasanya kebahagiaanku lengkap sudah..."


"Aaron, , , , " Callysta menatapnya dengan penuh haru dan tidak menyangka bahwa dia kan mengatakan kalimat semacam itu.


Aaron membuka bingkisan itu, yang ternya berisi sepasang cincin. Satu diantaranya bermata berlian kemudian diambil oleh Aaron, sembari berkata.


"Ta, mungkin aku gak bisa berkata-kata romantis. Aku cuma bisa mengungkapkan yang selma ini aku rasakan ke kamu, dan aku gak akan buang-buang waktuku buat bilang will you marry me?"


Kembang api di hati Callysta akhirnya meledak-ledak, sorak sorai tidak terkendali. Tangannya yang bergetar diulurkan ke arah Aaron yang sedari tadi mengeluarkan cincin untuk dipakaikannya.


Callysta hanya mengangguk, tanpa sepatah katapun. Saat cincin sudah dipaikan ke jari manis Callysta Aaron memeluknya erat. Suasana haru bercampur bahagia dirasakan oleh mereka berdua.


"Thank you Ta." ucap Aaron sembari mengecup kening Callysta.


Tidak bisa terbayangkan perasaan Callysta hatinya terus berdegup kencang, ini kali pertama Callysta dipeluk sekaligus dicium oleh Aaron. Laki-laki yang terlihat dingin, yang selama ini sangat sopan dan menjaga dirinya. Akhirnya jatuh dipelukannya.


"Ini cincin kamu, aku pakaikan Ron." pinta Callysta.


Suasana hati keduanya diliputi kebahagiaan. Callysta tidak menyangka bahwa Aaron yang terlihat tenang ternyata memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


***


Seusai makan malam, mereka berdua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan yang bahagia. Callysta terus memandangi handphone nya, mengirim pesan pada Aaron memastikan apakah Aaron sudah sampai di rumah. Cincin yang terpakai di jari manisnya dia pandangi. Tidak disangka ternyata Aaron sudah mempersiapkan proposal pernyataan cintanya jauh-jauh hari.


Entah Callysta yang terlalu sibuk memilkirkan permasalahannya sampai tidak menyadari, hari ini akan dapat kejutan yang tidak disangg-sangka dari Aaron.


Sejenak, sakit hati Callysta sirna. Karna kini ada Aaron bersamanya, bukan lagi orang lain baginya.

__ADS_1


******************************


__ADS_2