
Awal baik bagi Callysta, kariernya mulai terlihat. Setelah launching brandnya tempo hari serasa ada titik terang baginya. Selangkah lagi akan terwujud cita-citanya yang sempat tertunda.
Disisi lain ada hati yang tergetar kembali melihat Callysta. Ya, Felix kembali melihat Callysta dan menginginkan kebahagiaannya. Ada rasa yang tak biasa seperti sebelumnya.
Felix merasa kebahagiaan milik Callysta kini seharusnya akan lengkap apabila Felix disisinya. Foto Callysta sewaktu launching brand terus dipandangi oleh Felix. Parasnya yang cantik begitu menawan, saat ini bagi Felix Callysta masuk dalam wanita seleranya. Namun, kehadiran Aaron mengganggu Felix. Dia terus penasaran siapa sebenarnya Aaron dan hubungan apa yang sedang dia jalin dengan Callysta.
Tok..tok..tokkk... Pintu ruang kerja Felix berbunyi, seseorang memasuki ruangannya. Namun, Felix masih hanyut dalam lamunan memandangi paras Callysta dalam handphone nya.
"Sayang..." Tara memanggil Felix.
"Hmmm...." Felix menjawab singkat.
"Gimana jadinya? Kita prewed dulu atau tunangan dulu? Kapan kamu mau datang ke rumah orang tuaku." Tara memelas manja.
"Oh, iya? Emmm, apa???"
"Besok ya? Gimana? Mau ya. Atau kita temu keluarga dulu aja di restoran?" Tara terus menghujani Felix pertanyaan. Sementara Felix tak bergeming hanyut dalam lamunan. Sampai Tara menghampiri Felix dan membelai pundaknya. Betapa kagetnya Tara saat melihat sosok Callysta tengah dipandangi Felix di handphonenya, sontak hal itu membuat Tara murka.
"Jelasin!!!! Maksud kamu apa liatin foto dia??? Hah?"
"Emmm, enggak. Kamu salah paham." Felix terperanjat.
"Kamu gak usah macem-macem ya. Awas aja kalau macem-macem kamu tahu akibatnya. Hapus foto dia sekarang juga!!!" pinta Tara.
"Iiyaa, iya. Kamu yang tenang. Ini di kantor, aku gak macem-macem. Sorry-sorry!! Ini kamu liat, aku hapus." Felix menenangkan Tara.
Felix takut akan ancaman Tara, pasalnya wanita itu memang nekat. Seperti sebelumnya saat dia menjadi saksi persidangan perceraian Felix dan Callysta. Itu bisa dilakukannya asalkan apa yang menjadi tujuannya terwujud.
***
"Gimana projeknya sejauh ini Ta? Penjualan lancar?" tanya Aaron melalui telpon pada Callysta.
"Lumayan, sejauh ini bagus dan gak ada kendala."
"Syukurlah kalau gitu. Kalau perlu bantuan kabarin aku." Aaron menawarkan.
"Pasti. Makasih ya."
"Makasih buat apa?"
"Udah support aku sejauh ini." Callysta tersentuh dengan sikap Aaron.
Aaron masih sangat peduli pada Callysta. Dia terus memantau perkembangan bisnis Callysta dan tidak sungkan untuk mengulurkan bantuan. Dia pun menjadi salah satu investor perusahaan baru Callysta yang masih seumur jagung.
Bisnis berjalan lancar sesuai rencana, hampir semua produk yang dijual dipasaran memiliki peminat dan diterima baik oleh konsumen. Hal itu membuat Callysta lega dan merasa bersyukur.
__ADS_1
Tiba-tiba telepon berdering. Sebuah nomor baru.
"Halo." Callysta menjawab singkat.
"Halo, kamu lagi ngapain?"
"Sorry, ini siapa?"
"Kamu gak ngenalin suara aku?"
Callysta berfikir sejenak, seperti tidak asing suara itu.
"Ini aku Felix. Apa kabar Ta? Congrats ya buat launching brand LYS kamu. Aku turut bahagia."
"Oh, gimana? Ada perlu apa ya? Urusan kerja?" Callysta langsung menjawab tanpa basa basi.
"Aku cuma ingin tahu kabar kamu. Biar gimanapun sekarang kita rekan kerja bukan?" Felix menjelaskan.
"Oh, ya. Kalau gak ada urusan mendesak, sorry ya aku tutup. Aku ada banyak urusan."
"Tu..ngguuu., ada yang mau aku sampein. Ini urusan kerja. Besok ketemu bisa?" pinta Felix.
"Oh gitu. Kirim alamatnya, kita ketemu dimana." Callysta langsung mematikan telepon.
Bukan tanpa alasan, Callysta tidak mau banyak basa-basi dengan Felix. Baginya hanya membuang-buang waktu saja. Apalagi dia tahu betul bagaimana karakter Felix terakhir kali mereka berhubungan.
***
Alasan utama Felix ingin fokus kerja dan memperbaiki kariernya lebih dulu. Sementara Tara, sudah tidak sungkan-sungkan memamerkan kemesraannya dengan Felix di kantor. Bahkan hampir seluruh orang kantor sudah mengetahui hubungan mereka. Pak Leo pun sudah tahu, bagi Tara itu malah lebih baik bila semua orang tahu. Pak Leo masih bersikap profesional, asalkan mereka berdua masih profesional kerja bagi pak Leo tidak ada masalah dengan hubungan pribadi mereka.
Tara semakin percaya diri, bahkan cenderung ditakuti dikantornya. Selain posisinya sebagai sekretaris pribadi, Tara dikenal sebagai wanita yang tegas dan tidak segan melakukan apapun asalkan tujuannya tercapai.
Semenjak memergoki Felix melihat foto Callysta di hapenya, Tara mendesak Felix untuk segera melangsungkan pertunangan. Pertemuan keluarga sudah dilakukan, akhirnya kedua belah pihak keluarga sudah sepakat dan menentukan tanggal pertunangan dan tempatnya.
"Aku minta, kamu fokus buat persiapan tunangan. Kita cuma punya waktu satu minggu." desak Tara pada Felix.
"Iya, aku ngerti. Aku percayakan sama kamu semuanya. Tinggal bilang aja jadwalnya mau kemana dulu kita urus." Felix menjawab untuk menenangkan Tara.
"Hari ini, kita ketempat vendor acara."
"What?? Hari ini langsung?" Felix kaget.
"Kenapa kamu keberatan? Besok aku mau perawatan. Jadi kita hari ini ke tempat vendor. Malam aja."
"Enggak, aku gak keberatan. Cuman capek aja. Tapi yaudahlah, oke. Kalau itu mau kamu." Felix mengikuti kemauan Tara.
__ADS_1
"Wah, besok berarti aku bisa ketemu Callysta. Aku mau ajak dia ke restoran langganan kita dulu aja. Itung-itung nostalgia." Felix bergumam di dalam hati.
***
Sebuah pesan masuk dari Felix, mengirim lokasi tempat bertemu dengannya. Callysta menghubungi Dinda dan supir pribadinya untuk bersiap-siap. Dinda sebagai sekretaris pribadinya, membawa berkas-berkas yang diperlukan. Pasalnya, Felix beralasan menemuinya urusan bisnis membahas tentang pekerjaan.
Callysta bersiap, kemudian bergegas masuk mobil. Celana panjang, sepatu hight heels warna hitam dan atasan blouse polos warna putih lengan panjang kerahnya berpita ditambah outer warna cream gold dikenakannya. Penampilan yang terlihat berkelas, tas kecil tertenteng dintangannya. Kali ini.Callysta tidak memakai kacamata.
Callysta masuk ke dalam sebuah restoran, diikuti Dinda di belakangnya.
"Reservasi atas nama Felix Giovani." Dinda menanyakan pada bagian resepsionist.
"Silakan kak, nanti akan diantarkan ke tempatnya." seorang wanita resepsionist menjawab dan mengarahkan pada resepsionist lain untuk mengantarkan mereka.
"Baik. Terima kasih kak."
Terlihat sebuah ruangan eksklusif seperti ruang rapat, tidak cukup besar namun pas jika untuk makan sekitar 8 orang. Restoran Jepang ini, memang menyediakan ruangan-ruangan khusus untuk tamu eksklusif yang akan makan bersama anggota keluarganya, atau untuk merayakan ulang tahun dan semacamnya.
Dari dalam terlihat sosok Felix, berpenampilan necis seperti biasanya membawa sebuah bucket bunga. Tersenyum melihat Callysta datang.
"Silakan, duduk disini Ta." pinta Felix.
"Iya, thanks." Callysta menjawab singkat.
"Lho ini siapa? Kok ikut masuk?" tanya Felix sambil menunjuk Dinda.
"Dia sekretaris pribadiku. Jadi ikut kemanapun aku pergi." Callysta menegaskan.
"Oh, gitu. Yaudah deh, gak papa. Ada dia juga gak papa.
" Udah, langsung aja intinya tentang apa?"
"Kita ngobrol-ngobrol dulu lah, sambil nunggu menunya datang."
"Aku gak ada waktu ya, langsung ke intinya aja. Kamu gak usah buang-buang waktuku. Kalo emang tujuanmu lain, bukan pekerjaan. Aku permisi dulu." Callysta mulai meragukan Felix.
"Emmm, gini. Ini tu gini Ta. Jadi, gini..., emmm.. Oh, iya. Ini bunga buat kamu ya Ta."
"Ayo Dinda." Callysta mengajak Dinda untuk bergegas.
"Tunggu Ta, kok malah pergi." Felix mengejar Callysta.
Saat baru saja keluar dari restoran. Terlihat dari kejauhan Tara berjalan bersama 2 orang temannya. Keget melihat Felix mengejar Callysta dan sedang bercakap-cakap.
Ada rasa cemburu dan marah dalam hati Tara. Melihat Felix bersama Callysta, keduanya nampak sedang membicaran sesuatu. Tersulut api cemburu Tara beralari menuju tempat Felix berada.
__ADS_1
...****************...