
Pagi ini Callysta buru-buru berangkat. Kini setiap hari dia menyempatkan untuk mampir ke bagian pabrik bagian produksi. Sampai produknya yang ditangguhkan oleh BPOM dapat rilis kembali. Dia tidak mau kesalahan ini terjadi pada produknya yang lain.
Satu persatu bagian produksi dia amati selama beberapa hari. Terlihat tidak ada yang mengganjal, semuanya terlihat aman dan sesuai prosedur teknis. Tidak puas sampai disitu, akhirnya Callysta menyempatkan temu janji dengan pak Leo.
"Halo Pak, mungkin pak Leo sudah dengar tentang berita yang sudah beredar bukan?"
"Berita yang mana ya bu?" tanya pak Leo.
"Tentang merkuri pak. Nah, saya mau kroscek juga di perusahaan bapak hari ini apakah boleh?" Callysta menjelaskan.
"Tentu bu, pintu terbuka lebar untuk bu Callysta kapanpun kami persilakan."
"Terima kasih pak Leo."
"Sama-sama bu. Saya percaya dengan bu Callysta."
***
Saat sampai di bagian pengiriman dan produksi perusahaan PT. Leonade Callysta memeriksa seluruh produk yang dikirim ke pabriknya. Dia mengambil beberapa sempel untuk diteliti bahan-bahan apa saja. Walaupun jelas sudah ada nama barangnya apa saja.
"Pak, boleh minta tolong ambilkan beberapa sampel bahan baku yang akan dikirim ke pabrik LYS?" pinta Callysta pada seorang karyawan.
"Baik bu." jawab seseorang yang sedang mengurus pengepakan bahan.
Callysta tidak menyebutkan siapa sebenarnya dirinya, dia mengatakan bahwa yang dilakukannya sudah mendapat izin dari pak Leo.
Seluruh sampel bahan baku yang dia ambil dibawanya ke lab untuk memastikan apa saja nama bahan baku itu. Apakah sesuai dengan lebelnya atau salah satu diantara itu ada merkurinya? Hasil lab, tidak langsung keluar. Callysta menunggu sampai sehari berikutnya.
***
"Bu, sampelnya udah bisa diambil hari ini. Saya baru dikabari pihak laboratorium." Dinda menyadarkan lamuman Callysta.
"Ayo, siap-siap. Kita ambil sekarang." Callysta langsung beranjak dari duduknya.
Sepanjang perjalanan menuju lab, hatinya penuh harap. Agar dimudahkan apa tujuannya, mendapat titik terang.
__ADS_1
"Agak cepet ya pak bawa mobilnya." pinta Callysta pada sopir.
Setelah sampai di lab, Callysta menuju ruang pengambilan hasil penelitiannya. Seseorang menyapanya dan tersenyum.
"Silakan bu." sapanya.
"Mau ambil data yang ini mbak."
"Oh ya, tunggu sebentar." wanita itu masuk ke dalam dan mengambil sempel serta hasil lab yang sudah tertulis pada selembar kertas.
"Ini ya bu hasilnya."
Setelah selesai, Dinda menyelesaikan pembayaran. Callysta langsung membuka lembaran amplop hasil dari uji sempel produk.
Deg....
Hatinya tertegun, tertulis jelas ada sebuah sempel yang mengandung merkuri. Jelas sudah, memang dari bagian produksi di pihak pak Leo lah yang bermasalah.
"Langsung ke kantor PT. Leonade pak." pinta Callysta pada sopirnya.
"Baik bu."
"Permisi, pak Leo. Boleh saya masuk?" sembari tangan Callysta mengetuk pintu beberapa kali.
"Ya silakan." terdengar dari dalam ruangan seseorang mempersilakan dia masuk.
"Ini pak. Lihat!!! Pak Leo harus menindak ini segera."
Pak Leo membuka berkas yang diberikan Callysta. Dia terlihat membolak balikkan kertas, memastikan apakah yang dia lihat memang benar adanya.
"Kurang ajar, ada yang diam-diam mau mnghancurkan aku."
Tangan pak Leo mengepal, dihantamkan ke meja. Gagang telepon dia ambil, terlihat dia seperti menelpon seseorang.
"Panggil direktur bagian produksi! Suruh dia ke ruangan saya sekarang!" dengan penuh emosi pak Leo menelpon seseorang.
__ADS_1
Tidak lama berselang, datang direktur produksi. Pak Leo marah-marah padanya, dia segera bergegas memanggil karyawan yang bekerja di bagian pengemasan dan pengiriman barang untuk LYS. Semua dipanggil oleh direktur produksi. Di selidiki satu persatu, ada kejanggalan pada karyawan bagian pengemasan. Mereka dipanggil untuk menghadap pak Leo.
Beberapa karyawan itu masuk ke ruangan pak Leo, di depan Callysta langsung pak Leo mengintrogasi mereka bersama direktur produksi. Awalnya tidak ada yang mengaku, namun salah seorang dari mereka akhirnya ketahuan. Setelah pak Leo mengancam akan memasukkan mereka semua ke penjara. Saking takutnya, akhirnya dia mengaku bahwa kelalaiannya lah yang membuat ada campuran merkuri masuk pada pengiriman.
Karyawan itu didesak oleh pak Leo, ditanya siapa yang menyuruhnya namun tidak mengaku. Dia juga tidak tau bahwa yang dia campurkan adalah merkuri. Dia hanya mendapat intruksi bahwa pengiriman untuk LYS ada tambahan bahan yang harus dimasukkan.
"Siapa yang nyuruh kamu??" tanya pak Leo.
"Sungguh pak, saya tidak tahu. Saya cuma dimintai untuk menambahkan ini ke dalam satu bahan baku yang akan dikirim. Saya tidak tahu kalau itu merkuri." jelasnya dengan penuh rasa takut.
"Bawa kesini bahan itu sekarang!" pinta pak Leo.
"Kita juga harus ke ruang informasi, buat liat rekaman cctv. Siapa dalang dibalik ini." Callysta menambahkan.
"Iya bu, kita kesana setelah ini selesai dan bawa juga karyawan itu untuk memastikan siapa yang memberinya ini."
Tak berselang lama, karyawan itu datang dan membawa barang bukti. Dia ditanya ciri-ciri orang yang memberinya merkuri. Namun, dia tidak bisa menjelaskan secara detail. Dia hanya mengatakan, orang itu seperti karyawan lain memakai masker putih menggunakan pakaian seperti karyawan pabrik lainnya lengkap. Dia mengira orang itu juga berasal dari bagian yang sama rekan kerjanya.
Setelah selesai mengintrogasi karyawan itu Callysta, pak Leo dan direktur produksi menuju ruang informasi untuk melihat beberapa rekaman cctv. Butuh waktu cukup lama untuk memeriksa rekaman beberapa hari yang sudah lampau.
"Stop. Itu pak, saat itu saya dikasihnya. Itu yang menerima saya. Dan itu orang yang ngasih." karyawan itu menjelaskan.
"Simpan rekaman itu, kirim ke saya." pinta direktur produksi.
"Biar saya pelajari dan selidiki lagi pak, siapa sebenarnya orang itu. Apakah dari bidang kami atau dari bidang lain atau justru orang luar yang menyusup." direktur produksi menambahkan penjelasan pada pak Leo.
"Saya percayakan pada kamu sepenuhnya." jawab pak Leo.
"Saya terus mengikuti perkembangannya pak. Semoga segera akan ada kabar baik." jelas Callysta.
"Baik bu. Apabila ada perkembangan, saya akan kabari bu Callysta dan kita tindak melalui jalur hukum."
"Terima kasih pak atas kerjasamanya." Callysta berpamitan.
"Saya mohon maaf ya bu. Atas kelalaian karyawan kami sehingga menimbulkan kerugian yang ibu alami. Saya berjanji, menangani kasus ini dengan serius." tambah pak Leo.
__ADS_1
"Iya pak. Saya mengerti, semoga tidak terulang kembali. Ini kasus yang serius bagi saya, mempertaruhkan masa depan perusahaan saya. Kalau gitu saya pamit dulu pak, selalu saya tunggu kelanjutannya. Semoga ada titik terang siapa pelakunya." Callysta menjabat tangan pak Leo dan direktur produksi kemudian pamit pergi bersama Dinda.
...****************...