Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Somasi


__ADS_3

Pemberitaan tentang Callysta rupanya belum berakhir. Dampak dari viralnya video yang bertebaran di sosial media menjadikan nama Callysta buruk dan brand LYS pun kena imbasnya.


Sejenak Callysta sempat down dengan pemberitaan dan awal karirnya yang mendapat masalah. Setiap hari ada saja telepon masuk, entah dari media maupun perusahaannya yang mendapat komplain.


Dengan bantuan dan arahan dari Aaron akhirnya perlahan Callysta bangkit. Satu persatu masalah dia coba selesaikan.


"Dinda, hari ini kamu contact orang media. Akun gosip Lambe Lurah, bukti-bukti kekerasan Tara sewaktu nampar aku kamu kirim semuanya ke dia dan bukti perselingkuhannya dengan Felix kamu up semuanya." Callysta menegaskan.


"Baik bu. Sudah saya hubungi, sore ini saya agendakan buat ketemu mereka dan up beritanya."


"Bagus. Terus hubungi saya perkembangannya gimana ya?"


Dalam perjalanan menuju kantor LYS bersama Dinda, Callysta memikirkan langkah selanjutnya yang akan dia ambil untuk menanggapi keluhan-keluhan tidak berdasar dari customer yang termakan berita.


Setelah sampai di kantor, Callysta langslung menemui bagian customer service dan menanyakan bagaimana perkembangan masalahnya.


"Gimana mbak? Ada komplain lagi hari ini? Total udah ada berapa banyak hate review dari mereka?" tanya Callysta pada bagian customer service yang dominan perempuan.


"Total semenjak ada pemberitaan sudah ada 125 review buruk bu. Sebagian sudah kami urus dan kami kirim produk penggantinya. Sebagian lagi, sepertinya akun bodong sekali pakai."


"Yasudah, tidak apa-apa. Tetap balas dan layani mereka dengan baik, dengan bahasa yang sopan. Jangan sampai tersulut dengan hate komen mereka. Entah itu di review atau di konten produk sosial media."


"Baik bu."


"Terima kasih ya. Tetap semangat buat kalian." tutur Callysta menyemangati karyawannya.


"Selanjutnya ke bagian pemasaran Din, suruh kumpul di ruang rapat ya."


"Baik bu, biar saya sampaikan ke mereka dulu. Ibu mau minum apa?"


"Gak usah Din, nanti sekalian aja pas rapat pesen buat makan siang sama anak kantor."


"Oke bu." jawab Dinda sembari bergegas.


Sebuah pesan masuk.


Aaron : "Kamu dimana Ta?"


Callysta: "Aku di kantor ini."


Aaron : "Gimana perkembangannya? Mau aku temani ke tempat pengacara?"


Callysta: "Doain ya, biar kelar hari ini. Besok ya ke tempat pengacara. Hari ini aku selesein urusan kantor dulu."

__ADS_1


Aaron: "Oke. Kabarin aja mau jam berapa."


Callysta: "Thank you Ron."


Rapat dengan tim pemasaran berlangsung cukup lama. Diantaranya Callysta meminta agar tim pemasaran melakukan endorsement dengan artis maupun selebgram. Ketika rapat berlangsung salah seorang karyawan bidang pemasaran bertanya.


"Bu, apa sebaiknya kita lakukan banting harga aja? Istilahnya kayak bakar uang dulu gitu?"


"Emmm, kayaknya jangan sejauh itu dulu deh. Kita yakinkan aja masyarakat dari endorse. Sasaran endorse para KOL (Key Opinion Leader) atau selebgram maupun influencer mikro tapi punya followers yang loyal sama mereka."


Karyawan lain mengangguk, menyetujui apa yang sudah diputuskan oleh Callysta. Tinggal melakukan promosi secara berkala.


***


Hari yang ditunggu pun tiba, Callysta ditemani Aaron menemui pengacara keluarganya pak Handoko untuk mengajukan somasi pada Tara. Semua berkas telah disiapkan, dan surat somasi akan segera diterbitkan. Namun, pak Handoko kembali menanyakan pada Callysta.


"Kamu yakin, cuma somasi aja nih? Gak langsung gugatan aja?"


Callysta termenung sejenak. Sebelumnya pak Handoko sudah menjelaskan perihal somasi maupun gugatan. Somasi hanya berupa teguran, sedangkan gugatan jika Callysta menang tergugat akan menanggung denda pembayaran atau masuk sel tahanan jika terbukti bersalah sesuai pasal.


"Gak papa pak, somasi aja dulu."


Aaron tersenyum mendengar keputusan Callysta. Dia menepuk pelan bahu Callysta tanda menenangkan. Meskipun begitu, Aaron tidak ikut campur dengan keputusan Callysta. Karena sepenuhnya yang akan menjalani dan menghadapi permasalahan ini adalah Callysta.


"Makasih ya pak. Saya percaya sepenuhnya sama pak Han."


"Oke, oke."


"Kamu udah ngambil keputusan yang tepat Ta." Aaron meyakinkan Callysta.


"Thank you ya Ron. Kamu udah membersamai aku saat-saat sulit kaya gini."


"Lho lho, kamu gak tau ya? Gak gratis lho ini." canda Aaron menggoda.


"Iyaa deh, paham. Pulang kita mampir beli kopi. Setoko-tokonya aku beli deh. Ntar aku buka kedai kopi khusus buat gratisin kamu selamanya."


"Serius? Wah, aku tunggu lho. Enak tuh kayaknya digratisin terus. Hehehe." Aaron terkekeh. Memecah suasana yang terasa serius.


Dalam perjalanan pulang di mobil, keduanya kembali teringat momen saat di Korea. Saat itupun, masa-masa sulit bagi Callysta. Tidak disangka, setelah kembali ke Indonesiapun Aaron selalu ada untuk Callysta.


"Kalau di Indonesia ada taman bunga krisan kayak di Korea gitu kayaknya aku bakal kesana deh." Callysta mengingat momen saat di festival bunga krisan bersama Aaron.


"Ada, tapi gak seluas kaya di Korea. Mau kamu kesana?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Oh iya? Dimana Ron? Ayok, kesana. Mau gak?"


"Cianjur tuh ada taman bunga Nusantara. Gak semuanya krisan tapi ya. Hehe., kalo kamu mau yang semuanya krisan ada di Semarang. Tapi kecil, cuma sepetak di green house gitu."


"Ke Korea lagi aja yuk. Akhir tahun nanti."


"Bulan depan aku ke Korea. Kamu mau juga kesana?" tanya Aaron.


"Kalau dalam waktu dekat, belum dulu deh. Aku mau urus kerjaanku dulu."


"Oke, akhir tahun pas ada festival kita kesana lagi." ucap Aaron.


"Asiikk." Callysta merasa senang.


***


Sementara itu, Dinda mengbarkan pada Callysta tentang perkembangan berita yang di rilisnya di akun gosip. Tidak disangka dengan respon netizen yang bereaksi sangat cepat. Sampai akun sosial media Tara di privat dan banyak akun-akun baru yang mengatasnamakan Tara. Begitupun dengan akun Callysta yang mendadak ramai dan penuh dengan notifikasi, followersnya pun meningkat drastis. Banyak yang simpati pada Callysta dan menghujat habis-habisan Tara.


Tara semakin menahan malu, di kantor orang-orang membicarakannya. Bahkan media tidak sungkan untuk menelpon kantor. Direktur utama mengetahui kejadian itu, beberapa kali telepon masuk dalam sehari untuk menanyakan berita tentang Tara dan Felix.


"Ini semua gara-gara kamu! Apa sih gunanya videoin dan salah sangka gitu? Kalau udah kayak gini kamu mau gimana? Apa yang kamu dapetin!!"


Tara terdiam tidak membalas satu patah kata pun. Seseorang mengetuk pintu ruangan Felix.


"Maaf pak, mengganggu. Ini ada surat buat bu Tara."


"Oh, ya. Thank you ya." Felix mengucapkan terima kasih.


Tertulis jelas pada surat itu tertera nama Tara Adrista dari pengadilan. Setelah dibuka ternyata surat teguran atau somasi tentang video yang diunggahnya viral dan menyebabkan kerugian bagi pihak Callysta.


"Surat dari siapa?" tanya Felix.


"Nih." Tara menyodorkan pada Felix untuk membaca sendiri.


Felix melemparkan surat itu.


"Dah, kamu selesein sendiri. Aku gak mau tau. Kejadian ini jangan sampe berimbas ke karirku!!"


Tara terdiam, semakin dalam berpikir. Dari raut wajahnya jelas terlihat kebingungan dengan situasi ini. Tidak tau harus berbuat apa. Pintu kembali diketuk, seorang karyawan masuk dan meminta Tara untuk menemui pak Leo di ruangannya.


Hati Tara semakin berdebar, kenapa tumben sekali pak Leo datang ke kantor dan langsung memanggilnya. Felix pun ikut kaget, matanya memerah.


Langkah kaki Tara terasa berat saat memasuki ruangan pak Leo.

__ADS_1


......................


__ADS_2