
Perjalanan Callysta mempelajari dunia kosmetik dan kecantikan membuatnya semakin tertarik dan ingin mendalaminya. Ternyata banyak hal yang semakin membuatnya penasaran. Semakin dipelajari semakin terasa mengasyikan, namun Callysta menyadari bahwa dia masih minim ilmu.
Dukungan papinya pak Jaya sangat berpengaruh, apalagi maminya bu Sinta juga ikut mendukung. Sibuk beraktifitas, fokus pada karier lagi membuat Callysta sejenak melupakan bekas sakit hatinya. Seperti terapi baginya untuk kembali tumbuh dan pulih.
Namun, tentu yang membuat Callysta mengingat lukanya kembali karena kehadiran Felix yang masih saja mengirim pesan padanya. Sesekali Felix pun datang ke rumahnya. Kali ini dia tidak memaksa masuk. Hanya menitipkan langsung pada satpam bingkisan, terkadang bunga, makanan kesukaan Callysta sponge cake, atau sebuket bunga.
Dalam hatinya terkadang merasa goyah, mengapa Felix begitu gigih. Apakah dia benar-benar menyesal? Bagaimana hubungannya dengan Tara apakah sudah berakhir? Melihat bingkisan-bingkisan yang dikirim Felix hampir setiap hari membuat Callysta luluh sejenak. Sesekali dia membalas pesan Felix.
Felix: kamu udah terima bunganya?
Callysta: Ya
Felix: bunganya secantik kamu ☺🌼
aku sengaja mengirim bunga hyacinth.
Kamu tau kan artinya?
Callysta: Enggak
Felix: itu sebagai permintaan maaf dan rasa
penyesalanaku
~
Merasa ada respon dari Callysta, Felix berharap lebih.
Felix: kamu ada waktu?
Callysta: Ya
Felix: bisa kita ketemu hari ini?
Callysta tidak membalas. Felix menelpon. Namun, Callysta tidak menjawab. Sore harinya ternyata Felix sudah ada di depan pintu gerbang rumahnya.
"Pak bukain pintunya, saya ada janji sama Callysta."
"Nanti dulu pak, saya tanyakan sebentar." jawab satpam.
"Gak usah pake tanya segala. Nih buktinya." Felix menunjukkan pesan terakhir Callysta yang hanya menjawab "Ya".
Melihat nama Callysta dalam pesan, satpam akhirnya membukakan pintu gerbang. Batin Felix bahagia, karena berhasil masuk ke rumah Callysta.
" Callysta ada pak? Saya ada janji nih." tanya Felix pada pak Edo.
"Sebentar pak." pak Edo mencoba menahan Felix, namun dia sudah terlanjur masuk.
__ADS_1
"Non, ada pak Felix. Itu sudah masuk ke dalam." pak Edo menelpon Callysta.
"Lho pak? Kok dibolehin sih?" Callysta kaget.
"Dia nyelonong aja non, katanya udah ada janji sama non Lysta."
"Enggak pak. Suruh dia pergi. Bilang saya gak di rumah."
"Baik non."
Felix menyusuri lorong rumah, dia menuju lantai 2 karena tau kamar Callysta berada di lantai 2. Ruang tamu dengan design clasic elegan. Sofa-sofa besar dan lebar gaya eropa. Lukisan abstrak yang tertempel di dinding. Lampu gantung berwarna putih keemasan. Anak tangga dinaiki Felix satu demi satu. Sementara pak Edo mencari Felix di ruang tamu, dia menuju ruang samping yang ada kolam renang dan taman ternyata Felix tidak disitu.
Ketika Callysta membuka pintu kamar memastikan bahwa Felix sudah pulang, betapa kagetnya. Ternyata Felix sudah berada tepat di depannya. Callysta terperanjat, segera menutup pintu kamarnya namun Felix menahan pintunya.
"Tunggu Lysta!!!"
"Enggak!!!!"
Namun ternyata Felix lebih kuat. Callysta terjatuh, sementara Felix masuk ke kamar Callysta dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Felix berusaha meraih Callysta dan memeluknya. Sontak saja Callysta kaget dan berteriak minta tolong. Felix mencoba membekam mulut Callysta dengan tangannya. Kaki Callysta menendang kearah manapun, tangannya berusaha melepas bekaman Felix. Tendangan Callysta tepat mengenai area sensitif Felix.
"Aaaaaaaaaaaa......." teriak Felix kesakitan sambil memegang area sensitifnya.
Callysta berdiri dan lari membuka pintu yang terkunci.
"Non, kenapa non?" pak Edo berlari menuju arah Callysta.
Callysta berdiri di belakang pak Edo. Namun Felix mencoba meraih tangan Callysta sambil kesakitan. Tampak sekali wajahnya shock dengan kejadian ini.
"Bawa dia keluar pak!!! Aku gak mau ketemu kamu lagi ya. Denger baik-baik!!!!" teriak Callysta pada Felix.
"Maaf Lysta, aku gak ada maksud gitu."
"Cukupp!!!!! Pergi Sekarang!"
Felix pergi diantar pak Edo untuk memastikan tidak mengganggu Callyst lagi.
***
Pak Edo menceritakan kejadian hari ini pada pak Jaya. Sontak membuat pak Jaya kaget dan marah besar. Karena kejadian itu membuat pak Jaya memperkuat pengamanan rumahnya. Dia berdiskusi pada Callysta dan bu Sinta bagaimana baiknya. Pak Edo menyarankan agar Callysta tinggal di Appartement pribadi milik keluarganya. Namun bu Sinta tidak sependapat, bu Sinta menyarankan agar Callysta sementara ke luar negri saja. Jonathan kakaknya akan ada perjalanan bisnis di Korea selama beberapa hari untuk berkunjung ke mitra perusahaan yang diekspor produk dari PT Atmajaya.
"Gimana nak, kamu mau ikut kakakmu ke Korea?" tanya pak Jaya.
"Emmm, aku pikir-pikir dulu ya pi. Lagian disini aku lagi fokus buat bikin brand kosmetik."
"Nah, malah bagus nak. Korea pilihan yang tepat buat kamu ngembangin bisnis kosmetik yang bakal kamu rintis itu. Biar kak Jonathan yang ngenalin kamu sama mitra bisnis di bidang kosmetik yang ada di Korea, nanti kamu bisa rebranding."
"Boleh juga itu mi." jawab Callysta sambil tersenyum.
__ADS_1
Seperti ada titik terang bagi Callysta, sejenak dia akan menghirup udara baru, mengukir kenangan baru. Dalam angan-angannya yang sekarang dia pikirkan adalah merintis bisnis barunya. Memulai karirnya yang sempat terhenti.
Berbagai persiapan dilakukan oleh Callysta. Pak Jaya dan bu Sinta turut membantu apa saja yang dibutuhkan Callysta. Menjadi anak bungsu dari Pak Jaya dan bu Sinta menjadi berkat tersendiri bagi Callysta. Kedua orang tuanya begitu peduli dan perhatian padanya sesibuk apapun. Kedua kakaknya pun tak sungkan mengulurkan bantuan. Jika sesuatu terjadi pada Callysta, ayahnya maju yang paling pertama. Kedua kakaknya siap melindunginya.
***
Hari yang ditunggu pun tiba. Keberangkatan ke Korea. Jadwal keberangkatan menggunakan Korean Air di bandara Soekarno Hatta pukul 21.45 kira-kira 7 jam perjalanan udara. Sekitar jam 7.05 pagi akan sampai di Soul bandara Inchoen.
Pukul 20.00 Callysta bersama Jonathan sudah sampai di Bandara. Diantar oleh pak Jaya dan bu Sinta. Istri dan anak Jonathan pun turut serta, Natasha istri Jonathan yang berparas cantik, berpenampilan menarik. Anak laki-lakinya Dante yang berusia 5 tahun dan Celine anak perempuannya yang baru saja berusia 2 tahun.
"Bye Papa, hati-hati di jalan." ucap Dante sambil melampaikan tangan pada Jonathan.
"Iya sayang, sini peluk papa dulu. Dante jaga baik-baik Mama dan Celine di rumah ya." Jonathan mencium pipi satu persatu anaknya. Istrinya tersenyum, kemudian di peluknya. Celine yang sedang duduk di stroler ikut memanggil-manggil Papanya dengan gemasnya.
"Papa, Papa Lin mmuah..."
"Mami sama Papi titip Callysta ya Jo." bu Sinta mengusap punggung Jonathan.
"Tenang aja mi, Callysta udah gedhe gitu kok. Betah pasti dia di Korea. Mau ketemu oppa Korea disana katanya. Hehe." Jonathan menjawab sambil terkekeh.
"Lysta, kalo kamu ketemu Lee Min Ho, kirimin ke aku ya fotonya." Natasha ikut menimpali.
"Siap kak, di Korea ntar aku mau main ke appartemen Lee Min Ho tiap hari."
Semua terkekeh tertawa mendengar jawaban dari Callysta.
***
"Hmmmmm....." Callysta turun dari pesawat dengan berbinar-binar. Melihat bandara Incheon yang begitu megah. Sebenarnya ini bukan kali pertama Callysta datang ke Korea. Tapi kali ini dia berharap lebih di Korea. Menyembuhkan lukanya dan merintis bisnis barunya.
Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki bertubuh tegap dengan senyum tipis diwajahnya melambaikan tangan. Tingginya kira-kira 185cm, rambutnya rapi klimis, matanya berkharisma, kulitnya terlihat sehat. Jika dimiripkan dengan artis Korea auranya mirip seperti Park Soe Joon.
Namun, yang membuat Callysta tertarik melihatnya cukup lama adalah, wajah itu tidak asing. Callysta seperti pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Wellcome to Korea, Jo." laki-laki itu langsung menjabat tangan Jonathan dengan erat.
"Hai, Aaron. Thanks ya udah mau jemput kita."
"Your Wellcome bro, barang-barangmu biar dibawa sama supirku Jo."
"Oh ya, aku sama Callysta ini Ron. Masih ingat gak kamu?" tanya Jonathan.
"Callysta??? Tentu aku ingat. Dulu yang pernah nangis, gara-gara kuenya aku makan. Haha..."
Jonathan dan Aaroon saling tertawa mengingat masa kecil mereka. Aaron menjabat tangan Callysta dan tersenyum padanya. Sementara Callysta membuka ingatannya tentang Aaron. Bagaimana bisa Aaron memakan kue miliknya, saat kapankah itu.
Ya, Aaron Wiliam. Callysta mengingatnya, senyumnya merekah bercampur tersipu malu.
__ADS_1
...****************...