
Hari ini menjadi hari yang panjang bagi Callysta. Semenjak permasalahan itu muncul hari-hari Callysta semakin disibukkan dengan mengurus banyak hal. Meskipun kali ini masyarakat sudah mulai berpihak padanya. Justru karena video yang diposting melalui Lambe Lurah menjadikan Callysta semakin sibuk.
Banyak media yang menghubunginya, untuk mengundang di channel youtube maupun siaran di televisi. Namun Callysta menolak semuanya.
"Bu, hari ini ada yang menghubungi. Tawaran untuk podcast." Dinda memberi tahu Callysta.
"Youtuber? Tema nya apa?" tanya Callysta.
"Klarifikasi penganiayaan bu, seputar tentang itu."
"Tolak aja. Kalau temanya bukan seputar tentang bisnis aku gak mau nerima." tegas Callysta.
"Baik bu."
Bagi Callysta tidak perlu menjelaskan secara detail pada orang lain. Asalkan orang terdekatnya mempercayainya dan memihaknya itu sudah cukup.
***
Hari sebelum Tara dipanggil pak Leo.
"Pokoknya kalau terjadi apa-apa sama aku di tempat kerja kamu harus membela." desak Tara pada Felix.
"Kenapa jadi aku?" Felix terperanjat.
"Kamu harus bantu aku mempertahankan karirku. Kamu kan punya pengaruh karna kamu direktur. Ya seenggaknya membela aku."
"Iya, aku usahain."
"Jangan usahain. Emang udah tanggung jawab kamu." Tara memaksa.
"Iya, Ra. Aku bakal bela kamu. Pertimbangin kamu." jawab Felix terpaksa.
Tara memaksa Felix agar kariernya tetap dipertahankan sebagai sekretarisnya. Meskipun yang menentukan segalanya pak Leo direktur utama perusahaannya.
Berita cepat menyebar ke perusahaan, banyak karyawan yang membicarakan hubungan Tara dan Felix. Banyak juga keluhan dan aduan dari karyawan yang tembus sampai pada pak Leo, itu yang menjadikan pak Leo akhirnya memanggil Tara.
***
Hari saat Tara dipanggil pak Leo.
Tok..tok...tok....
"Permisi pak, boleh saya masuk." Tara mengetuk pintu ruangan pak Leo.
"Iya, silakan."
Pak Leo mempersilakan Tara duduk.
__ADS_1
"Anda pasti sudah tahu, kenapa saya memanggil anda kesini."
"Maaf pak, untuk urusan apa ya?" tanya Tara pura-pura tidak paham.
"Dengan pemberitaan yang beredar, jelas membuat perusahaan disorot buruk oleh masyarakat. Nama perusahaanpun ikut dipertaruhkan." pak Leo menjelaskan.
"Sudah saya sampaikan. Barangsiapa yang merugikan nama perusahaan tidak layak di sekolahan ini. Paham kan?" lanjut pak Leo.
"Maaf pak, apakah saya sudah merugikan perusahaan ini?" tanya Tara.
"Kenapa kamu bertanya. Apa kamu tidak merasa?!!" pak Leo berdiri.
"Tapi pak, dibandingkan kerugian sekarang. Perjalanan saya di perusahaan ini tidak sebentar, banyak keuntungan yang sudah saya berikan. Tolong pertimbangkan lagi pak." Tara menitikkan air mata, menangis dan memohon pada pak Leo.
"Saya mohon pak, terakhir kali ini saja pak. Saya akan menebus dan membersihkan nama baik perusahaan ini. Beri waktu untuk saya pak." pinta Tara memelas.
Pak Leo sejenak berfikir, mempertimbangkan keputusannya lagi.
"Ya, sampai akhir bulan ini. Saya kasih waktu, sampai rapat bulanan perusaan." tegas pak Leo.
"Terima kasih pak. Terima kasih banyak pak." jawab Tara.
***
Angin berhembus pelan, menerpa wajah Callysta. Pasir pantai yang hangat menutupi sebagian jari jemari kakinya. Deburan ombak yang bersautan membuat suasana terasa nyaman. Kelapa muda yang terspaji di sebelahnya beberapa kali dia seruput. Sembari melihat matahari terbit diujung barat sana. Kacamata yang terpasang dlikepalanya menyisihkan beberapa helai rambutnya yang kecoklatan. Tak terdengar langkah kaki, namun ada seseorang yang menyapanya membuat lamunannya terhenti sejenak.
"Emm, baru setengah jam kayaknya." jawab Callysta.
"Sorry ya, aku kelarin kerjaan dulu tadi. Bagus juga ya liat sunset disini. Kayaknya kamu menikmati banget suasananya."
"Iya Ron. Terasa tenang aja, setelah seharian penat kerja. Mampir kesini bikin relax juga. Denger suara ombaknya itu lho, bikin hati tenang." Callysta tersenyum simpul.
Aaron duduk disampingnya, juga memesan kelapa muda utuh yang ujungnya dilubangi. Keduanya menikmati pemandangan sore dipinggir pantai. Tidak ada bahasan tentang pekerjaan maupun permasalahan. Hanya sekedar menikmati pemandangan saja. Tiba-tiba telepon Callysta berdering. Callysta memandang Aaron dan agak menggeleng.
"Angkat aja Ta." Aaron menyarankan.
"Halo," jawab Callysta.
"Ta, bisa ketemu? *Tara mau minta maaf sama kamu." pinta Felix.
"Boleh. Kapan?" tanya Callysta.
"Malam ini bisa?"
"Aku masih di luar, pulang agak larut kayaknya. Kesini aja kalau mau."
"Oh gitu. Gak papa?"
__ADS_1
"Iya, nanti aku kirim alamatnya." jawab Callysta*.
Callysta menjelaskan pada Aaron bahwa Felix dan Tara akan menyusul mereka kesini. Aaron tidak keberatan, di pantai ini juga ada restoran indoor jadi mereka bisa berbincang di dalam restoran saja.
Tidak lama setelah mereka menunggu Tara dan Felix pun datang. Ternyata mereka tidak sendirian, ada seseorang yang ikut mereka. Callysta tidak mengenal orang itu, kemudian dijelaskan oleh Tara wanita itu sepupu Tara. Callysta tidak keberatan, toh hanya pembahasan ringan.
Dalam penbahasan itu Tara menangis tersedu dan meminta maaf pada Callysta, dia juga meminta agar momen itu diabadikan dengan foto bersama. Keduanya berpelukan. Callysta hanya mengiyakan.
"Aku minta maaf banget Ta, sungguh aku nyesel. Gak tau kenapa aku sekalut itu." Tara memelas sambil memegang erat tangan Callysta.
"Iya, aku maafin kamu Ra."
Felix pun ikut meminta maaf pada Callysta, mereka berjabat tangan. Aaron hanya memandang dan mengamati dari samping Callysta.
Setelah momen maaf-maafan itu selesai, mereka makan bersama dan berbincang seolah-olah sangat akrab.
***
Pagi hari setelah mereka bertemu, Callysta mendapat pesan dari Dinda.
"Bu, coba lihat berita ini." Dinda mengirim tautan berita.
Tertulis headline berita.
"AKHIRNYA PERSETERUAN BERUJUNG DAMAI, CALLYSTA OWNER LYS BERDAMAI DENGAN TUNANGAN MANTAN SUAMINYA"
Foto Callysta dan Tara saat berpelukan terpampang, terlihat pula foto lain Callysta yang sedang berjabat tangan dengan Felix.
Sontak membuat Callysta kaget, pesan serupa pun datang dari Aaron.
"Kayaknya wanita yang datang tempo hari, bukan sepupu deh. Tapi admin akun gosip."
Ada rasa kecewa dari Callysta, dia merasa dimanipulasi oleh Tara dan Felix demi keuntungan mereka.
"Kamu gak usah berhubungan lagi sama mereka, saranku kalau mereka ngajak ketemu jangan mau." pinta Aaron pada Callysta.
"Aku kecewa Ron, ternyata mereka gak tulus. Manfaatin aku buat kepentingan mereka."
Bukan tanpa tujuan, tentu itu dilakukan oleh Tara dan Felix demi karir mereka dan membersihkan nama baik mereka. Meyakinkan pak Leo bahwa Tara sudah berhubungan baik dengan Callysta. Bukan tanpa alasan, Callysta merepukan salah satu mita bisnis PT. Leonade.
Sebelum rapat akhir bulan Tara melakukan segala cara, agar tidak dipecat oleh pak Leo. Karena keputusan belum ditentukan sampai rapat akhir bulan. Sementara Callysta sudah tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh mereka berdua.
Dia berpikir, apa yang harus dilakukan untuk memberi peringatan pada Tara. Agar tidak merugikannya lagi. Meskipun tindakan ini tidak merugikan, namun tidak ada pembahasan sebelumnya bahwa pertemuan mereka akan dimasukkan sebagai berita di media.
Callysta mengirim pesan pada pak Leo.
"Pak, bisa bertemu hari ini? Ada urusan bisnis yang mau saya bahas."
__ADS_1
...****************...