
Beberapa hari berlalu di Soul Korea dengan cukup banyak aktifitas. Sesekali saat malam Callysta menikmati ramainya kota bersama Aaron. Melihat langsung pemandangan sungai Han saat sore menjelang petang. Menyusuri jalanan kota yang terasa menyilaukan, ramai orang berlalu lalang dengan jalan kaki. Semakin malam justru semakin ramai.
"Lysta, beberapa hari lagi urusan bisnis selesai. Kamu puas-puasin aja dulu di sini sebelum pulang ke Indonesia ya."
"Kalo aku disini lebih lama lagi, boleh kak?" tanya Callysta.
"Boleh, urusan kamu belum selesai?"
"Sebenernya, lusa aku ada janji buat ke perusahaannya Innisfree liat sampel produk dan prosesnya bagaimana. Karena kan yang buat janji Aaron tuh kak, jaga-jaga aja kali aja sehari gak cukup."
"Its oke, selama kamu yakin disini sendiri kakak dukung mau pulang kapan aja."
"Nanti aku telpon papi sama mami"
"Oke, good."
Bagi Callysta masih perlu didalami lagi tentang brand kosmetik yang akan dia buat. Tidak sedikit yang perlu dia persiapkan. Tentang tone warna kulit mayoritas orang Indonesia yang tentunya berbeda dengan orang Korea. Konsen Callyata saat ini memang di warna, karena kosmetik sangat sensitif dengan pemilihan warna. Tone warna yang sesuai akan memberikan kesan sempurna pada pemakainya.
Saat kunjungan ke perusahaan Innisfree, Callysta tidak ditemani Aaron. Karena Aaron sedang ada rapat. Tidak masalah bagi Callysta, disana dia bertemu dengan ahli dermatologi, dokter kecantikan dan ahli kimia yang memang ahli di bidang kosmetik dan kecantikan.
Saat berbincang dengan ahli kecantikan itulah menjadi renungan bagi Callysta. Karena dia mengatakan apabila ingin memiliki brand kecantikan maupun kosmetik dimulai dari pemiliknya terlebih dahulu. Saat sang pemilik memiliki kharisma dan daya tarik serta penampilan menarik maka mitra bisnis maupun konsumen akan tertarik dan melirik.
Masukan itu menjadi renungan bagi Callysta yang baru tersadar, melihat dirinya yang jauh dari kata cantik. Lamunan Callysta terhenti saat handphonenya berdering.
Aaron : Halo Ta, gimana tadi hasilnya?
Callysta : Kata ahli kecantikannya sih sebagai owner harus kharismatik, berpenampilan menarik. Itu jadi salah satu daya tarik buat mitra bisnis dan konsumennya. Emang aku sejelek itu ya?
Aaron : Emmm, kamu butuh dipoles dikit di beberapa bagian. Hehe
Callysta : Bilang aja aku jelek.
Aaron : Bukan begitu maksudku. Coba deh kamu renungin dulu ya saran dari ahli kecantikan itu. Dan, satu lagi. Kamu gak usah khawatir, kamu berada di tempat yang tepat buat mempercantik diri. Korea negara yang terkenal dengan kecantikannya.
Callysta : Iya, iya deh suhu.
Aaron : Suhu apa dulu nih? Di Korea emang dingin sekarang suhunya. Hehehe
Callysta : Ah, kamu...
__ADS_1
Aaron : Nanti deh kita bahas setelah nganter kak Jo ke bandara.
Callysta : Oke
***
Sampai di bandara Jonathan menitipkan Callysta pada Aaron. Dia menganggap Aaron sudah seperti adiknya sendiri yang bisa menjaga Callysta. Karena Callysta seorang diri tanpa siapapun yang dikenalnya di Korea selain Aaron.
"Titip adek gue ya bro."
"Tenang bro, aman." begitu jawab Aaron singkat.
"Kak, jangan lupa oleh-oleh buat Dante dan Celine dari aku dikasihkan lho ya."
"Oke. Kamu jaga diri baik-baik disini. Kalau butuh apa-apa bilang sama Aaron."
"Iya kak, siap."
Jonathan melambaikan tangan, untuk masuk. Callysta pulang diantar oleh Aaron menuju apartemennya. Di dalam mobil mereka berdua masih melanjutkan pembahasan tentang saran ahli kecantikan dari Innisfree.
"Kalo menurut kamu, apa aja yang harus aku perbaiki?"
"Emm, aku gak berhak komen sih. Kalo itu serahkan sama ahlinya aja. Besok, aku anter kamu ke klinik kecantikan yang ada di korea. Konsul langsung sama dokter kulit dan kecantikan. Gimana?"
***
Keesokan harinya, Aaron mengantar Callysta untuk berkonsultasi dengan dokter kecantikan. Melihat kondisi Callysta, dokter menyarankan 2 pilihan. Treatmen yang memakan waktu cukup lama dan harus rutin. Atau operasi plastik. Operasi plastik pun ditawarkan kembali, akan diet terlebih dahulu atau sedot lemak atau dietnya setelah usai proses operasinya.
Betapa kagetnya Callysta karena disarankan untuk operasi plastik di wajahnya. Dia tidak bisa langsung memutuskan. Aaron pun menyarankan hal semacam itu alangkah baiknya didiakusikan dengan mami dan papi. Karena saat sebelum tindakan sampai pemulihan, tidak bisa sendirian harus ada wali. Segera setelah itu, Callysta menelpon orang tuanya.
"Mi, bisa ke Korea?"
"Ada apa nak?" tanya bu Sinta kaget.
"Aku mau operasi plastik mi."
"Apa nak? Operasi plastik? Kenapa mendadak?"
"Ini juga demi masa depan aku mi, buat menunjang karierku kelak."
__ADS_1
"Wait, wait. Kenapa semendadak ini?"
"Mami, ke Korea. Aku tunggu secepatnya nanti aku ceritain detailnya."
"Oke, mami pesen tiket buat malam ini."
Karena mendadak, pak Jaya tidak bisa ikut bu Sinta ke Korea. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh pak Jaya.
Setelah bu Sinta sampai di Korea, Callysta menjelaskan alasannya memutuskan untuk operasi plastik. Bu Sinta menerima alasannya, dan akhirnya hari operasi ditentukan. Bu Sinta sebagai wali bertanda tangan.
***
Hari operasi plastik pun tiba. Di Mina Plastic Surgery yang ada di Gangnam. Ada seseorang yang membantu Callysta berkomunikasi dengan pihak rumah sakit. Orang itu memang disediakan oleh pihak rumah sakit, untuk memudahkan pasien dan keluarga berkomunikasi dengan dokter dan pihak rumah sakit.
Tindakan yang akan dilakukan oleh Callysta cukup banyak, pembentukan kembali dagu, pipi, dan rahang, dermabrasi, pengencangan kelopak mata (blepharoplasty), facelift angkat kening penggantian rambut, Sedot lemak (lipoplasti), angkat tubuh bagian bawah, angkat paha, pengencangan perut (abdominoplasty), angkat lengan atas, suntikan botox, perawatan selulit kulit kimia, suntikan plumping/kolagen atau lemak (peremajaan wajah).
Semua itu dia lakukan atas rekomendasi dari dokter dan konsultasi sebelumnya. Hanya hidung saja yang tidak di operasi, karena Callysta sudah memiliki hidung yang cukup mancung. Bibirnya juga masih utuh, sengaja dia ingin mempertahankan bentuk bibirnya.
Dengan perasaan berdebar ditemani oleh bu Sinta dan Aaron, Callysta masuk ruang operasi.
"Kamu udah siap nak?" tanya bu Sinta
Callysta menarik nafas panjang. Sementara bu Sinta menggenggam tangannya.
"Semua akan lebih baik setelah ini, kamu hanya perlu percaya." Aaron meyakinkan.
"Iya, doain aku ya."
"Mami bakal nemenin kamu disini."
Perawat dan dokter masuk ke ruangan mbawa Callysta. Sebelum melakukan tindakan pada Callysta, dokter menandai wajahnya dengan spidol. Arah mana saja yang harus diperbaiki. Mulai dari kening, pipi dagu dan rahang. Dilanjutkan pada bagian perut, paha dan lengan dilakukan oleh dokter yang berbeda.
"Fighting, hal su isseo"
(Semangat, kamu bisa melakukannya)
Begitulah yang dikatakan oleh dokter.
"I'am sorry miss, I will inject you. Please calm down."
__ADS_1
Callysta mengangguk, dan tersenyum. Tidak lama setelah suntikan dilakukan. Callysta tidak sadarkan diri. Proses operasi pun berlangsung beberapa jam lamanya.
...****************...