Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Musim dingin telah tiba, salju pertama turun saat usainya festival bunga krisan. Suhu di Korea menujukkan 6 derajat celcius. Itu tidak menghalangi Callysta untuk beraktifitas menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum puncak musim dingin Callysta berencana pulang ke Indonesia. Bertepatan dengan akhir tahun, sebelum tahun baru tiba. Karena dia sudah sangat rindu dengan mami papinya.


Sore ini Callysta berencana bertemu dengan Aaron di sebuah Cafe. Tentu mereka akan membahas tentang bisnis Callysta. Aaron bersiap untuk menjemput Callysta ke apartemennya.


"Aku udah di bawah, turun ya?" Aaron menelpon Callysta.


"Oke, tunggu ya."


Callysta turun menaiki lift yang ada di apartemennya. Setelah sampai di parkiran, dia menaiki mobil yang dibawa oleh supir Aaron. Supir sewaan orang Korea yang mengantarkan kemanapun Aaron pergi.


"Gimana kamu udah siap pulang ke Indonesia?"


"Iya, aku udah kangen banget sama mami papi. Udah hampir setahun aku di Korea, rasanya baru kemarin kesini."


"Kamu udah cocok jadi orang Korea, penampilan kamu udah kayak eonnie korea."


"Oppa, ulineun eodilo gago issseubnikka? "


(Mas, kita mau kemana nih?)


"Ulineun kapee galgeoya"


(Kita mau ke cafe)


Keduanya saling tertawa, Callysta yang sudah nyaman dengan suasana Korea namun tetap merindukan tanah airnya. Sementara Aaron, baginya Korea seperti rumah kedua. Beberapa tahun belakangan ini, dia memang sering bolak balik Indonesia-Korea.


Saat sudah tiba di Cafe keduanya membahas bisnis Callysta yang segera launching saat ia kembali ke Indonesia. Mulai dari design, logo dan nama brandnya. Callysta mendiskusikan bersama Aaron. Baginya kini Aaron tidak hanya sebagai teman masa kecilnya saja, juga sebagai konsultan bisnisnya. Betapa bahagianya Callysta mendapat saran bisnis dari Aaron yang memang sudah expert di bidangnya.


"Gimana kalo LYS aja nama brand kosmetik kamu. Kelihatan lebih menjual aja. Kalau Lysta bagus juga sih, tapi aku lebih feel ke LYS." Aaron memberi saran.


"Emmm, bagus juga sih. Hurufnya kapital semua ya? Tapi tetap membacanya lis. Boleh, deal. Aku setuju. Aku percaya saran kamu." Callyslta menjawab dengan penuh keyakinan.


"Yakin nih? Gak ragu? Kalau aku saranin kamu tinggal di Korea selamanya juga mau?" Aaron menggoda.

__ADS_1


"Duh, kalau itu enggak dulu deh. Biar gimanapun aku masih cinta tanah airku dan belum bisa move on buat hijrah kesini selamanya."


"Belum move on nih ceritanya." Aaron makin menggoda dengan tersenyum genit.


"Gak gitu juga ih, maksudku di Indonesia tuh aku nyaman aja sama semuanya. Masakannya, suasananya dan tentunya disana ada orang-orang yang aku sayang. Mami, papi, kak Jo, Kak Andrew, ponakanku yang gemoy-gemoy. Duuuhh, jadi kangen mereka kan." Callysta menjelaskan dengan detail.


"Iyaah, aku paham maksud kamu. Yang udah kangen berat sama Indonesia nih. Kamu yakin pulang slendiri? Gak nunggu bareng sama aku aja? Diundur sehari, nunggu kerjaanku beres." Aaron menawarkan.


"Emmm, gimana ya? Aku kira kamu bakal lama seminggguan gitu. Btw, aku belum beli tiketnya sih. Rencana hari ini."


"Nah, tuh sekalian aja bareng sama aku, lusa. Gimana?"


"Emmm, boleh deh. Lusa ya."


"Kita berangkat malam, setelah kerjaanku beres. Oke?" sambung Aaron.


Callysta tersenyum tanda setuju dengan pendapat Aaron.


***


Meskipun Callysta kembali ke Indonesia, sebagian pengerjaan sampel kosmetiknya berjalan di Korea. Setelah selesai sempel itu akan dikirimkan ke Indonesia dan dilanjutkan proses produksinya. Tentu itu bukan hal yang instan, Callysta bersama Aaron sudah membuat itu berbulan-bulan lamanya.


Karena cukup banyak jenis dan warnanya produk itu lebih aman apabila dikirimkan melalui ekspedisi karena packagingnya akan lebih terjaga. Callysta mempercayakan urusan itu pada Aaron, dia menerima saran Aaron dan melakukan sesuai yang dikatakan olehnya.


Malam hari terasa lebih dingin dari biasanya, di balik jendela pesawat Callysta melihat pemandangan Korea dari atas. Terlihat kerlap-kerlip lampu dan bangunan yang menjulang tinggi. Cahaya kota Soul terlihat dari atas begitu indah. Ada rasa haru saat Callysta meninggalkan Korea, entah kapan lagi dia akan menginjakkan kakinya disini. Tentu banyak yang akan dirindukannya.


"Bye Soul, Bye Korea. I will miss this place so much." gumam Callysta sambil melambaikan tangannya pelan dari kaca jendela pesawat.


"Kamu boleh kesini kapan aja kamu mau. Aku bisa temenin." Aaron seolah tahu apa yang dirasakan oleh Callysta.


"Janji ya, kalau aku pengen kesini kamu harus mau temenin lho ya?" Callysta menunjukkan jari kelingkingnya.


"Tentu." Aaron menjawab dengan meraih jari kelingking untuk diikatkan pada kelingkingnya pula.

__ADS_1


"Aku udah jatuh cinta sama Korea, disini terasa begitu indah." Callysta mengenang.


"Syukurlah, hatimu pulih disini." Aaron bergumam.


"Apa?" tanya Callysta.


"Enggak, maksudku kamu bahagia selama disini. Jadi aku juga ikut bahagia."


"Thank u ya Ron. Karena kamu hidup aku banyak perubahan lebih baiknya. Aku berutang budi banyak banget sama kamu. Gak tau lagi harus bilang makasih pakai cara apa." Callysta menatap Aaron dalam.


Tidak sengaja Aaron membalas tatapan Callysta, namun tidak sanggup untuk menatap matanya terlalu lama. Seperti ada sesuatu yang menghanyutkan, terasa dalam dan menenangkan.


"Semua ini udah takdir. Bersyukurlah sama Tuhan, berkat campur tanganNya yang udah mempertemukan kita." Aaron menjawab dengan bijak.


"Terima kasih ya Tuhan. Aku bersyukur dipertemukan dengan Aaron. Udah ganteng, baik, cakep, pinter. Tapi sayang, kadang suka ngejek aku. Jail banget Aaron, kalau boleh aku mau sentil dia ya Tuhan." sontak kalimat yang diucapkan Callysta membuat Aaron tertawa sekaligus kaget. Keduanya tertawa bersama seperti dua sahabat yang sudah saling nyamn satu sama lain. Sampai datang seorang pramugari untuk mengingtakan mereka memkai pengaman dan tetap tenang di pesawat. Karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.


Callysta sengaja tidak memberi kabar pada keluarganya bahwa pulang ke Indonesia hari ini. Paginya saat sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, Callysta menelpon pak Edo untuk menjemputnya. Sementara Aaron sudah ditunggu oleh supir pribadinya. Barang bawaan Aaron tidak banyak. Karena sebagian dia tinggal di apartemen Korea toh sewaktu-waktu dia kembali ke Korea.


***


Udara Jakarta pagi itu terasa hangat di tubuh Callysta, coat dan syal yang dipakainya telah dilepas. Ada senyum yang tersirat diwajahnya. Wanita yang kini memiliki tubuh ramping, berambut lurus panjang, wajahnya yang berbentuk V line sempurna. Kulitnya yang putih cerah membutnya tampil percaya diri. Kaca mata hitam dipakainya, setelan rok yang panjangnya selutut dan atasan semi blazer berlengan panjang berwarna soft pink senada dengan rok yang dikenakannya membuat dirinya terlihat menawan dan bercahaya.


Siapa yang mengira dirinya yang seakarang tampil percaya diri, saat kakinya melangkah terlihat jenjang. Semua mata tertuju padanya. Bak artis Korea yang menawan dari rupa hingga busananya. Nyaris tidak terlihat kalau dirinya telah melakukab operasi plastik karena, bibirnya terlihat masih utuh.


Callysta memasuki lingkungan rumahnya, hatinya penuh dengan rasa lega. Setelah turun dari mobil segera dia menuju ke ruang kelurga, dicari maminya. Pak Edo juga tidak mengatakan pada pak Jaya ataupun bu Sinta bahwa anak bungsunya pulang hari ini.


"Mami...." Callysta datang menemui maminya dan memeluknya.


"Loh, kapan kamu datang? Kenapa gak ngabari?" bu Sinta kaget melihat kedatangan Callysta.


"Siapa ini? Artis Korea ya" Pak Jaya mengucek-ngucek matanya dengan ekspresinya yang cukup serius. Tidak percaya melihat penampilan Callysta saat ini.


"Ah, papi. Ini aku pi." Callysta memeluk pak Jaya.

__ADS_1


Ketiganya menikmati momen pertemuan yang sudah lama dinantikan. Sejenak Callysta menanyakan bagaimana sejauh ini kabar Felix apakah masih menanyakannya atau bahkan datang ke rumah untuk mencarinya.


...****************...


__ADS_2