
Mobil melaju dengan pelan, ada rasa lega jauh dalam lubuk hati Callysta. Namun, ada juga yang masih mengganjal di relung hatinya. Pelaku yang utama belum juga ketahuan sebenarnya. Dalam lamunnya dia berharap agar bisnisnya kali ini berjalan dengan lancar. Akan tetapi dia juga ingat pesan Aaron.
"Kamu harus siap mental Ta, semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa. Begitu juga dengan bisnis, semakin besar bukan berati tanpa halangan. Akan ada tantangan yang kamu temui." Callysta mengingat wajah Aaron saat mengatakan kalimat itu.
Tanpa sadar, dia tersenyum. Bersyukurnya Callysta memiliki teman seperti Aaron yang selalu ada untuknya.
"Aaron Aaron." Gumam Callysta pelan.
"Apa bu?" Dinda menyahut memecahkan lamunan Callysta.
"Enggak. Gak papa Din."
"Bu, bu. Itu bukannya bu Tara ya bu?" Dinda menunjuk ke arah luar.
Terlihat seseorang berdiri di depan rumah sakit, seperti sedang menunggu taksi. Tangannya mendorong stroler, kakinya menjulur keluar namun wajahnya tidak terlihat jelas. Kira-kira anak itu berusia 3 tahunan.
"Sepertinya sih Tara. Tapi sama siapa itu?"
"Apa mungkin anaknya bu?" tanya Dinda penasaran.
"Ah, ngaco kamu. Dia belum nikah setauku." sebenarnya Callysta juga penasaran. Tapi dia membiarkan saja rasa penasaran itu berlalu.
Tara naik taksi yang sedari tadi ditunggunya, anak yang bersamanya digendong. Kemudian stroller dia lipat di taruh di bagasi mobil oleh sang supir.
***
Di kantor saat jam istirahat tiba, Felix mendapat telpon dari Tara.
"Kamu dari tadi kemana aja sih gak diangkat telponku." Tara mensnyakan pada Felix dengan nada kesal.
"Aku sibuk dari tadi, banyak yang harus kuurus. Tau sendiri kan sekarang aku karyawan biasa." jawab Felix ikut emosi.
"Aku sama Felicia jadinya naik taksi!"
"Maaf ya, sorry aku gak bisa jemput. Nanti malam aku mampir. Gimana keadaan Felicia?" tanya Felix.
"Oke, udah mendingan ini." Tara menjawab pelan.
"Syukurlah."
Felix merasa lega, setelah mengetahui keadaan Felicia baik-baik saja. Pagi tadi, Tara harus buru-buru membawanya ke IGD karena Felicia sesak nafas. Tanpa pikir panjang Tara langsung membawanya ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit barulah dia menghubungi Felix. Ternyata, tidak perlu rawat inap. Felicia hanya diberi penanganan oxigen sampai kondisinya membaik.
Anak perempuan usia 3 tahun itu, memang sering sesak nafas apabila alerginya kambuh. Apabila makan seafood alerginya bisa kambuh sewaktu-waktu.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah Tara disambut oleh ibunya yang sedari tadi sudah menunggu dengan rasa khawatir. Bu Rina langsung menyapa Tara.
"Ya ampun, gimana keadaan Felicia Ra?" tanya bu Rina sembari menggendong Felicia.
"Udah membaik Ma, syukurlah tadi aku langsung membanya ke rumah sakit."
"Besok lagi, lebih hati-hati. Bilang sama pihak sekolahnya. Jangan ngasih makan Felicia sembarangan."
"Duh, cucu oma yang cantik. Sini sayang, ayok masuk." bu Rina membawa Felicia masuk ke dalam.
***
Sampai di rumah, Callysta menghela nafas panjang. Handphone berdering, sebuah pesan masuk dari Aaron.
"Aku udah di depan rumah kamu."
Callysta tidak membalas pesan dari Aaron. Dia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Terlihat Aaron datang membawa sebuah bingkisan.
"Ini, aku bawa cake buat kamu. Katanya kalo makan manis bisa ngurangin sress." Aaron memberikan bingkisan itu pada Callysta.
"Thank you Ron. Aku buka ya, kita makan bareng aja. Kamu mau kopi?" Callysta menawarkan.
"Boleh deh."
"Gimana tadi Ta di kantor pak Leo?"
"Udah ketemu sih pelakunya, tapi bukan pelaku utama." jawab Callysta dengan nada sedikit kecewa.
"Respon pak Leo gimana?" tanya Aaron.
"Pak Leo masih nyari tau dan mantau perkembangan kasus ini gimana."
"Semoga secepatnya ketahuan. Kalo ketahuan siapa orangnya aku mau liat dia. Bakal kuhabisi dia!" Aaron tersulut emosi membayangkannya.
"Jangan ah. Buat apa kamu kotori tangan cuma buat orang semacam itu."
"Bener juga. Yang jelas harus diadili orang macam itu."
"Harus kalau itu."
Keduanya menikmati cake dan secangkir kopi hangat sembari berbincang membicarakan rencana untuk perusahaan Callysta dan aktivitas sehari-hari Aaron.
***
__ADS_1
Felix pulang kerja sore hari, sebagai karyawan biasa dia bekerja sesuai jadwal. Tidak ada meeting atau temu klien lagi. Jadwalnya memang tidak sepadat dulu, tapi itu justru membuatnya resah dan tidak tahan dengan ativitas yang sekarang.
Sifatnya ke Tara pun makin cuek, yang ada dipikirannya adalah pekerjaan dan bagaimana caranya agar jabatannya senagai direktur dapat diraihnya kembali.
Mobil melaju perlahan, Felix memasuki komplek perumahan Tara. Perumahan yang tidak semewah milik Callysta ataupun orangnya. Rumahnya pun tidak memiliki gerbang, namun cukup luas dan termasuk perumahan elit. Diparkirkannya mobil di depan rumah Tara. Terlihat Tara membuka pintu rumah dan menyambut Felix tanpa tersenyum.
"Dimana Felicia? Udah tidur?" tanya Felix.
"Masih main sama mama tuh." Tara mempersilakan Felix masuk.
"Halo, Felicia liat nih Papa bawa apa?" Felix tersenyum melihat Felicia.
"Papaaa,....." Felicia antusias melihat kedatangan Felix kemudian memeluknya.
"Duh, cantik sekali sih kamu sayang. Maaf ya tadi papa gak bisa jemput kamu sama mama. Papa janji weekend nanti kita main ke mall mau?" tanya Felix merayu Felicia.
"Mau mau mau Pa."
Tara tidak sanggup menahan hatinya ketika melihat kedekatan Felix dan Felicia. Baginya begitu indah pemandangan saat melihat Felix dan Felicia tertawa bersama.
Felicia, anak yang dikandungnya selama sembilan bulan lebih. Tara harus menyembunyikan kehamilannya dibalik baju yang dipakainya saat bekerja. Bukan perjuangan yang mudah baginya saat memperjuangkan Felicia bertahan di rahimnya.
Tara ingat betul, saat itu Felix berkali-kali meminta untuk menggugurkan kandungannya. Namun, dia bersikeras untuk mempertahankan janin yang terberdosa itu. Siapa sangka, yang dulunya begitu dibenci Felix saat ini sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang berusia 3 tahun. Matanya yang berbinar-binar saat tersenyum meruntuhkan hatinya. Betapa Tara menyayangi Felicia.
Meskipun saat ini Tara tidak bekerja, menjadi kesempatannya untuk membersamai perkembangan Felicia. Fokus Tara saat ini agar Felix tetap memberi nafkah untuk Felicia dan mau menikahinya secepatnya.
"Jadi, kapan Felicia mau kamu kenalin ke Ibu?"
"Tunggu waktu yang tepat ya."
"Kapan??? Mau sampai kapan Felix?? Kita udah prewed. Oke, gak usah tunangan langsung nikah aja aku gak masalah."
"Kamu gak tau keadaan lagi kayak gini? Jabatanku hilang, kamu tau kan? Aku lagi stress berat. Bisa gak jangan bahas ini dulu?"
"Kamu gak kasian sama Felicia? Semakin hari dia semakin besar. Dia butuh sosok Papa!!!"
"Apa peran aku kurang? Aku selalu nyempetin waktu buat dia."
"Oke, aku masih sabar. Aku bakal bersabar. Tapi kalau kamu ingkar. Tunggu aja, semua orang bakal tau siapa kamu sebenarnya."
Felix terdiam, hatinya masih terasa berat untuk segera menikahi Tara. Namun sebaliknya, Tara yang penuh harap semakin terasa hampa.
...****************...
__ADS_1