Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Hari Yang Dinanti


__ADS_3

Sepulang dari Bali Callysta dan Aaron sibuk dengan aktivitas masing-masing. Callysta kembali mempersiapkan peluncuran produk barunya dan Aaron bersiap untuk urusan bisnis ke Singapore.


Mengetahui callysta mengadakan prewedding di Bali, bu Sinta pun bertanya pada Callysta apakah mereka sudah memutuskan tanggal pernikahannya. Callystamengatakan pada bu Sinta, ia akan akan memutuskan tanggal pernikahannya setelah Aaron kembali dari Singapore.


"Aku maunya gak usah ramai-ramai Mi, seperti kemarin waktu tunangan. Cukup keluarga dan kerabat dekat saja." Callysta menjelaskan pada bu Sinta.


"Iya sih nak, tapi bagi keluarga Aaron mungkin punya pendapa lain. Karena ini bagi Aaron pernikahan pertamanya, terlebih dia juga anak pertama dari keluarga William. Ya coba kamu diskusikan dulu aja, lebih baik berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak keluarga."


Callysta diam sejenak, mencerna yang dikatakan oleh maminya.


Bagi Callysta meskipun ini pernikahan keduanya, namun ia tidak menginginkan kemewahan. Seperti pesta pernikahannya sebelumnya dengan Felix yang penuh dengan kemewahan. Baginya saat ini yang diinginkan kesakralan dalam suatu acara.


Ia berharap pernikahannya kali ini bersama Aaron adalah yang terakhir.


***


Sebuah pesan masuk dari Aaron yang mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di Singapore. Namun, ada pesan lain yang membuat Callysta mengedipkan mata berkali-kali.


"Ta, mama mau telpon kamu. Katanya mau ketemu kamu hari ini."


Callysta hanya menjawab "Iya, aku tunggu telpon dari mama kamu ya."


Tak berselang lama bu Anna menelpon Callysta, memintanya untuk datang ke rumahnya siang ini. Callysta dengan rasa penasaran, namun senang hati mengiyakan yang diminta bu Anna calon mertuanya.

__ADS_1


Ia bergegas menuju ke rumah Aaron menemui bu Anna. Setelah sampai di rumah yang mewah itu callysta disambut hangat oleh bu Anna. Seorang wanita paruh baya, berwajah oriental yang selalu berpenampilan rapi dan wangi. Meskipun usianya hampir setengah 50 tahun, namun kerutan diwajahnya tak terlihat. Senyum tipisnya selalu merekah di wajahnya yang meneduhkan.


Bu Anna mengajak Callysta berjalan-jalan di taman rumahnya yang banyak ditanami bunga. Di sampingnya ada kolam dan green house yang berisi tanaman bunga anggrek kesayangannya. Di bawah sebuah pohon, terdapat kursi pajang, di depannya ada kolam ikan koi.


"Ta, maaf ya kalau mama lancang memulai pembicaraan tentang pernikahan kalian kelak. Biar bagaimanapun, pernikahan kalian itu acara yang besar dan berarti bagi keluarga kami. Terlepas dari masa lalu kamu. Mama gak mempermasalahkan. Cuman, memang beberapa kali mama bilang ke Aaron minta disegerakan pernikahan kalian dan kalau bisa ya kita adakan selayaknya pesta pernikahan besar pada umumnya."


Callysta terdiam, dan tau arah pembicaraan bu Anna. Benar yang dikatakan oleh maminya. Keluarga Aaron memiliki harapan yang besar pada pesta pernikahannya.


"Iya tante, aku malah seneng kok. Pernikahanku sama Aaron tetap melibatkan dua keluarga besar. Jadi, emang lebih baik didiskusikan begini."


"Syukurlah, kalau kamu mau memahami. Mama berharap mami dan papi kamu juga sependapat ya, nerima permintaan dari mama ini."


"Iya tante, nanti aku diskusikan dengan mami papiku,"


"Emm, iya tante. Aku gak keberatan." jawab Callysta.


"Setelah Aaron pulang dari Singapore kalian persiapkan ya apapun yang perlu dipersiapkan untuk pernikahan kalian. Jangan sungkan-sungkan kalau butuh apa-apa bilang sama tante ya." bu Anna menawarkan.


Callysta hanya mengangguk. Sebenarnya, tidak masalah baginya pernikahannya lebih cepat dari perkiraan. Namun, dia merasa sedikit canggung jika pernikahan mereka akan digelar dengan mewah dan besar. Statusnya yang pernah meikah sebelumnya membuatnya berkecil hati, meskipun keluarga Aaron tidak mempermasalahkan.


Bagaimanapun, Aaron adalah laki-laki yang baik dan sempurna baginya. Ia tidak bisa membayangkan, apabila tamu undangannya banyak. Dan mengetahui masa lalunya, tentu sebagian dari mereka akan membicarakan masa lalunya.


Callysta menghela nafas panjang, berharap pada Tuhan semoga dilancarkan dan kekhawatirannya tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Callysta menceritakan yang baru saja dia bicarakan dengan bu Anna pada mami dan ppinya. Keduanya menyetujui dan mulai ikut mempersiapkan tamu undangan dan keperluan pernikahan.


Sementara Aaron setelah mendengar cerita dari Callysta, ia justru bahagia dan antusias. "Syukurlah, kalau mama udah bilang ke kamu gitu."


"Kamu gak masalah Ron kalau banyak tamu undangan yang diundang? Gimana kalau mereka mencibir kamu karna masa laluku?" tanya Callysta memastikan.


"Ta, kamu fokus aja sama kita. Aku dan kamu. Keluarga aku dan keluarga kamu. Fokus sama kebahagiaan kita aja, udah cukup. Masalah orang lain yang mau bicarain kamu, yang mencibir. Itu belum kejadian kan? Kalaupun kejadian, biarin aja. Yang ngejalanin kita. Gak perlulah memikirkan omongan orang lain. Namanya mulut orang, pasti akan bicarain kekurangan orang lain kan. Udah, kamu ikhlaskan aja. Yang tepenting aku dan keluargaku tidak mempermasalahkan itu." Aaron mencoba menenangkan Callysta.


Mendengar Aaron berbicara seperti itu membuat Callyst sedikit lega. Meskipun, masih ada sedikit rasa khawatir jauh dalam hatinya.


***


Persiapan demi persiapan mulai ia lakukan sembari menunggu kepulangan Aaron dari Singapore. Raut bahagia jelas memenuhi wajahnya, dengan semangat ia mempersiapkan secara detail pesta pernikahannya kelak.


Meskipun ini kali kedua baginya, namun hatinya tersa berdebar. Bahkan jauh lebih berdebar dibandingkan sebelumnya. "Akhirnya, aku akan membina rumah tangga kembali." gumam Callysta di dalam hati.


Wanita itu, akan luluh hatinya jika sudah mengenal cinta. Memang kali ini beda, dia tidak terlihat sebodoh sebelumnya. Bukan karena, tidak jatuh cinta. Namun, Aaron calon suaminya sering kali menenangkan dirinya ketika merasa resah. Sikapnya yang dewasa mampu membuat Callysta tenang.


Tidak segan bagi Aaron menegur Callysta jika salah. Callysta pun, sedikit demi sedikit belajar banyak hal dari Aaron. Mulai bertindak dewasa dan biijaksana dalam bersikap. Tidak gegabah dan bodoh, tidak mementingkan keinginannya sendiri. Itulah Aaron, laki-laki yang kini akan dinikahinya. Yang kelak akan tinggal bersamanya seatap satu rumah, satu rasa berharap selamanya. Sosok yang mengajarkan banyak hal, bahwa cinta itu tidak melulu tentang "aku" dan "kamu" saja. Melainkan, cinta adalah penerimaan seutuhnya dan berproses bersama. Itu yang dirasakan Callysta saat ini.


Laki-laki yang enggan mengatakan "I Love you" atau kata-kata semacam itu. Namun, berani mengajaknya menikah. Menerimanya tanpa syarat, mau berproses bersama saat dia berada di situasi yang sulit. Entah kapan, Aaron meyakinkan keluarganya, sampai tidak sedikitpun terlihat keraguan dimata orang tuanya terhadapnya. Callysta tidak mengetahui itu, yang ia tau hanya hasilnya. Bahwa orang tuanya pun menerima Callysta dengan sepenuh hati sama halnya dengan Aaron.


"Aku layak mendapatkan ini dan aku memang layak bahagia bersama Aaron." gumam Callysta, saat rasa khawatir muncul dihatinya.

__ADS_1


*******************************************


__ADS_2