
Udara pagi terasa hangat, angin meniup pelan. Membelai rambut Callysta yang berkibar-kibar. Di tepi kolam renang ia menunggu suaminya yang tengah mengarungi kolam renang yang di atasnya terdapat nampan yang mengapung berisi buah-buahan. Callysta duduk di atas kursi, mengenakan piama. Sesekali melempar senyum pada suaminya.
Hotel yang menjulang tinggi seperti pencakar langit itu sudah tersedia kolam renang yang berada di sisi kamar. Diujung kolam renang terlihat pemandangan bawah kota Jakarta. Sepasang pengantin baru itu menikmati momen kebersamaan yang sedang mereka rajut bersama. Seolah dunia dalam genggaman mereka, hanya bahagia bertabur senyum dan cumbu yang membara.
"Ta, kamu tahu hal bahagia apa yang aku dapatkan setelah bersamamu?" tanya Aaron sembari mengenakan handuk dan duduk meraih gelas yang berisi jus buah naga. Callysta hanya menggeleng dan tersenyum.
"Aku dapat teman hidup yang setara." jawab Aaron sembari meletakkan gelas di atas meja.
"Setara? Maksudnya?" Callysta mengernyitkan dahi.
"Iya, bagiku kita itu pasangan yang setara. Aku gak mempermasalahkan nanti kamu mau tetap berkarir atau di rumah. Kamu pun gak boleh sungkan, kalau butuh bantuanku. Butuh aku jagain anak kita kelak, dan momen-momen penting kita aku bakal selalu ada. Kamu juga boleh ikut aku kemanapun kapanpun kamu mau."
"Serius? Aku boleh ikut kamu kemanapun? Emang kamu bisa jagain anak kita? Sesibuk apapun kamu?"
"Iya, aku serius. Aku bakal usaha, belajar buat jaga anak gimana. Walaupun gak selalu, tapi aku pasti nyempetin di sela-sela kesibukanku."
"Memang, kita ini udah bukan orang asing lagi. Harapanku, kalau aku salah atau ada hal yang gak kamu suka dari aku. Bilang pelan-pelan ya. Aku gak suka kalau kamu langsung negur apalagi marah-marah gak jelas."
"Iya sayang. Aku juga pesen satu hal sama kamu, apapun yang terjadi dalan rumah tangga kita. Kalau ada kesulitan yang kita hadapi, jangan ceritakan ke orang tuamu ya. Tegur aku dulu, kalau memang kekurangan itu berasal dari aku. Biar bagaimanapun mereka pasti ingin anaknya selalu bahagia, gak mau liat anaknya sedih. Dan aku berjanji bakal berusaha buat kamu bahagia. Walaupun bahagia itu kamu sendiri sih yang menciptakan." Aaron tersenyum di akhir kalimatnya.
Callysta lega, Aaron mau terbuka membicarakan hal sensitif semacam itu padanya. Ia merasa bahwa sikap Aaron dewasa dan mampu membimbingnya. Komunikasi dalam rumah tangga memang hal yang sangat penting, itulah yang Aaron tanamkan pada dirinya untuk menjaga rumah tangganya bersama Callysta.
__ADS_1
Hanya sampai siang ini mereka berada di hotel, selepas itu mereka kembali ke rumah Callysta untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawanya untuk terbang ke Bali.
Tujuan mereka untuk berbulan madu ke pulau Bali. Hanya seminggu saja mereka berdua bulan madu. Hitung-hitung seminggu itu mereka gunakan untuk mengenal lebih jauh karakter masing-masing. Meskipun mereka mengenal cukup lama, namun tentu ketika sudah menikah ada banyak hal baru yang perlu mereka sesuaikan. Seperti kebiasaan makan, tidur yang sehari-hari akan mereka lakukan bersama dalan jangka waktu yang panjang.
***
Keduanya memutuskan akan bulan madu di pulau dewata Bali. Jadwalnya sore ini mereka akan berangkat, bulan madu selama seminggu bagi mereka sudah lebih dari cukup. Apalagi bagi Aaron, jarang sekali ia libur panjang hingga berhari-hari.
Mereka menginap di hotel yang dekat dengan pemandangan pantai, hari-hari mereka di Bali dihabiskan di hotel, pantai dan restoran. Obyek wisata yang dekat dengan hotel pun mereka jejali. Tak sungkan sesekali mereka berjalan kaki di waktu sore hari hanya sekedar untuk menikmati sunset di pinggir pantai.
Sebagai pasangan baru, tentu orang tua mereka memahami dan cukup membatasi berkabar jika tidak begitu penting. Namun, bagi Aaron urusan pekerjaan tetap ia pantau. Begitu juga Callysta yang memercayakan pada Dinda pekerjaannya.
Sore itu, hari ke tiga mereka berada di Bali. Dinda menelpon berkali-kali namun tidak sempat diangkat oleh Callysta. Akhirnya, dia menelpon balik Dinda.
"Ini bu. Ada kabar baik dari pak Leo." jawab Dinda.
"Oh ya? Ceritain Din, detailnya gimana." pinta Callysta tidak sabar.
"Gini bu, tadi siang pak Leo telpon bukti udah ditemukan katanya. Siapa sebenernya pelakunya, saya mau menemui beliau sendiri tapi rasanya kurang sopan kalau mendahului bu Callysta."
"Jadi kamu belum tau siapa pelakunya Din?"
__ADS_1
"Belum bu. Bagaimana menurut ibu? Saya langsung menemui pak Leo gak papa?" tanya Dinda.
"Gak papa Din. Segera ya, aku tunggu kabar baiknya."
Callysta menceritakan kabar barusan pada Aaron. Antara penasaran dan antusias, bisa dikatakan kabar bahagia. Ia menunggu pertemuan Dinda dengan pak Leo. Jika memungkinkan harus pulang pun bagi Callysta tidak masalah.
Aaron menyetujui keputusan Callysta jika harus pulang lebih awal dari rencana. Biar bagaimanapun, kasus ini sudah lama ditunggu oleh mereka berdua kejelasannya bagaimana.
Sementara itu, sembari menunggu kabar dari Dinda. Callysta kembali ke hotel dan menikmati makan malam bersama Aaron di restoran yang ada di hotel. Untuk berjaga-jaga, ia segera kembali ke kamar setelah menyantap makan malam. Untuk mengemas barang-barang yang kiranya ia akan pulang lebih cepat.
Handpone Callysta berdering.
Sebuah pesan masuk dari Dinda. Rekaman cctv dikirimkan olehnya yang didapatkan dari pak Leo. Dalam rekaman yang totalnya ada 3 video yang dikirim oleh Dinda. Samar-samar terlihat sesosok seorang pria yang mengenakan masker.
Dalam video yang pertama pria itu memasuki ruang produksi. Ia membawa sebuah bungkusan yang diduga merkuri. Ia membuka bungkusan itu kemudian menyuruh seseorang untuk mencampurkan pada bahan produksi.
Potongan video yang kedua, dengan laki-laki yang sama. Masih mengenakan masker, keluar ruang produksi maskernya masih terpakai. Ia melepaskan baju produksi yang berwarna putih serta sarung tangan. Sebuah wadah bungkusan kecil ia keluarkan dari kantong. Terlihat, itu hanya bungkus bekas pakai yang isinya sudah di keluarkan.
Potongan video yang ketiga, laki-laki itu membuang bungkusan di tempat sampah yang berada di belakang pabrik. Tak lama berselang, maskernya juga ikut dia lepas.
Dannn..........
__ADS_1
Semakin jelas terlihat laki-laki itu, ia mencoba zoom beberapa kali ketika sosok laki-laki itu melepas maskernya dan wajahnya terlihat. Video ia lanjutkan, dan terlihat makin jelas wajah laki-laki itu. Callysta dan Aaron saling tatap, ada amarah dalam hati Callysta yang tidak bisa di jelaskan. Aaron paham betul yang dirasakan Callysta. Ia pun ikut merasakan amarah yang berkecamuk di hati Callysta.
Tanpa pikir panjang, Callysta meminta Aaron untuk memesan tiket malam itu juga. Namun, malam sudah cukup larut. Aaron meminta Callysta bersabar sejenak, untuk menunggu semalam saja. Agar mereka pulang besok pagi saja, Callysta meng iyakan.