Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Pertunangan


__ADS_3

Ia membuka lembar demi lembar katalog dress yang akan dikenakan hari pertunangannya tiba. Katalog yang berisi gambar contoh dress dan jenis kain yang akan di buat. Di depannya ada sosok laki-laki yang ia cintai tengah diukur oleh designer tempatnya membuat baju.


Sesekali ia menatapnya dengan penuh cinta, senyum yang merekah tak lepas dari wajahnya. Betapa kebahagiaan menyelimuti hari dan hatinya. Kali ini dunia tengah berpihak padanya. Terlepas dari masa lalunya Aaron menerimanya dengan sepenuh hati.


Betapa beruntungnya ia mendapat pasangan sesempurna Aaron. Parasnya tidak diragukan lagi, semua orang yang melihatnnya akan sepakat bahwa Aaron berwajah ganteng dan maskulin. Soal pekerjaan dan tanggung jawab juga tidak perlu ada keraguan sedikitpun padanya. Banyak pengusaha berlomba-lomba meraih hatinya untuk bisa bekerja sama dengan perusahaannya PT. Snowise.


Ah, kebahagiaannya lengkap suda. Tinggal beberapa langkah lagi laki-laki yang ada d depannya akan seutuhnya menjadi miliknya. Sebentar lagi, Callysta akan mendapat gelar nyonya Aaron.


Tentu perusahaan milik Papinya akan semakin kuat, saat kedua perusahaan besar di negara ini menjadi besa. PT. Atmajaya dengan PT. Snowise.


Di galeri milik designer ternama, di kota ini kembali di perdengarkan musik yang mengalun milik Elvis Prasley


Wise men say


Only fools rush in


But I can't help falling in love with you


Shall I stay?


Would it be a sin


If I can't help falling in love with you?


Senandung lagu itu terngiang-ngiang, serasa berada di sebuah gedung dalam sebuah pesta pernikahan.


Hingga sampai rumah, sebelum Callysta memejamkan mata dalam tidurnya pun terngian-ngiang kembali lagu yang berjudul Can't Help Falling in Love milik Elvis Prasley itu.

__ADS_1


Sebuah pesan masuk dari Aaron.


"Mimi indah ya Ta, aku bersyukur memiliki kamu sekarang. Thanks buat hari ini, semoga kedepannya impian kita berjalan lancar."


Sebuah pesan singkat yang menggugah semangat Callysta. Ia membalas : "Sama-sama Ron, akupun bahagia memiliki kamu disisiku."


***


Persiapan demi persiapan dilakukan oleh Callysta, mulai dari menghubungi EO (Event Organizer) yang akan mengurus pertunangannya. Mereka berdua sepakat memilih hotel sebagai tempat pertunangan.


Melaui EO pertunangan Callysta dan Aaron lebih mudah, mereka berdua tinggal memilih MUA (Make up artist) yang diinginkan sesuai dengan selera Callysta, fotografer & videografer, decor, hingga catering. Setelah cocok mereka rapat bersama dan menentukan hari yang senggang untuk tester MUA dan menu masakan oleh pihak catering.


Meskipun melelahkan namun, Callysta menjalaninya dengan rasa penuh kebahagiaan sehingga tidak terasa lelah itu sedikitpun.


Hari berikutnya, Callysta ditemani Dinda ada janji dengan pihak catering. Ia memasuki ruangan yang sudah disediakan berbagai macam menu makanan. Sesuai permintaan Callysta sebelumnya, ia ingin dipertunangannya di sediaka menu Western, Korea dan Indonesia. Dari menu pembuka, menu utama hingga menu penutup.


Satu ruangan penuh berisi berbagai macam makanan dengan berbagai jenis. Mata Dinda terbelalak, menyaksikan makanan yang begitu banyak. Meskipun setiap masakan disajikan dalam jumlah sedikit. Namun, bagi Dinda masakan yang tersaji begitu banyak jenisnya.


Setelah selesai mencicipi dan menentkan makanan mana yang akan disajikan di pesta pertunangannya Callysta berpamitan pada pihak catering dan mengucapkan terima kasih.


Keesokan harinya, bertepatan dengan gaun pertunangan yang sudah jadi. Sebuah kebaya modern yang dipenuhi dengan hiasan mutiara dan swaroski berwarna hijau sage. Ia ditemani oleh Aaron, sementara Aaron mengenakan kemeja batik tulis nan mewah berwarna senada dengan bawahan yang dikenakan oleh Callysta.


Matanya berbinar-binar ketika melihat Callysta mengenakan kebaya modern itu, tampak begitu anggun. Sementara Aaron terlihat gagah.


Mereka berdua melanjutkan ke tempat MUA yang terkenal di kalangan konglomerat. Jeslyn Wang, MUA yang dikenal riasannya flawless namun mangklingi. Callysta memakai kebayanya kemudian dirias untuk mengetahui seleranya.


Sentuhan magic tangan Jeslyn Wang merubah wajah Callysta seketika. Waktu hampir 2 jam terbaarkan dengan hasil yang menakjubkan. Garis wajah Callysta terlihat begitu tegas, make up dengan look Korea dan sentuhan flawless itu mampu membuat waja Callysta terlihat anggun.

__ADS_1


Beberapa kali Aaron berdecak kagum ketika memandang wajah Callysta. Ketika bercermin pun Callysta merasa bukan dirinya.


"Sungguh, tanganmu magic sekali kak. Aku dibuat secantik ini." puji Callysta pada kemampuan Jeslyn.


"Ah, bu Callysta terlalu memuji. Sudah tugasku membuat bu Callysta makin cantik di hari spesial bukan?"


Callysta tersenyum dan mengangguk tanda puas akan hasil yang ditunjukkan oleh Jeslyn. Kebahagiaannya kini sudah berada dipelupuk mata. Pedih hati dan kesusahan yang telah ia lewati sejauh ini akan berganti bahagia dengan momen yang sebentr lagi akan terjadi.


***


Sebuah ruangan VVIP hotel yang sudah di dekor dengan nuansa tema berwarna biru bertabur bunga yang didominasi oleh warna biru pula sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Yang hanya dihadiri oleh sekitar 100 orang tamu dari kedua belah pihak keluarga.


Itupun hanya keluarga besar dan kerabat dekat saja yang menghadiri acara mereka. Keluarga Callysta sudah siap menyambut tamu yang datang. Khususnya pak Jaya dan bu Sinta yang mengenakan baju senada dengan kedua ank laki-laki mereka bersama istrinya. Pak Jaya, mengenakan kemeja batik yang sama dengan Jonathan dan Andrew. Sementara bu Sinta mengenakan kebaya berwarna merah muda sama dengan kedua menantunya.


Senyum merekah di wajah mereka menyambut kedatanngan para tamu. Sementara Callysta masih bersiap berada di ruangan ditemani oleh Dinda. Namun, keluarga Aaron tak kunjung datang juga. Hingga hampir satu jam berlalu.


Wajah pak Jaya dan bu Sinta yang tadinya tersenyum. Kini berubah menjadi khawatir. Jonathan yang merasa denkat dengan Aaron bolak-balik menghubunginya namun tidak ada jawaban. Pikiran neegatif mulai menghantui mereka. Callysta yang ada di dalam ruangan pun ikut merasakan khawatir. Keringat mulai bercucuran, tangannya dingin. Hampir rasanya dia menitikkan air mata. Namun, Dinda terus menguatkannya bahwa Aaron dan keluarganya pasti akan datang.


"Gimana ini Pi? Harusnya acara udah mulai sejam yang lalu. Tapi keluarga Aaron belum ada kabar dan tak satupun dari mereka yang datang. Hanya tamu undangan dari pihak Aaron saja yang sudah datang. Apa terjadi sesuatu sama mereka Pi?" tanya bu Sinta dengan gelisah.


"Hmmmm, Aaron pasti datang Mi. Tunggu sebentar lagi. Mungkin mereka terjebak macet." pak Jaya mencoba menenangkan.


MC yang seharusnya memandu untuk memulai acara akhirnya mengalihkan acara hiburan terlebih dahulu. Sebab, para tamu undangan sudah mulai terlihat resah. Callysta meminta Dinda untuk memanggilkan Jonathan.


"Kak Jo. Kakak gak tau Aaron dimana dan kenapa belum sampai juga? Dia pasti akan datang kan kak? Kakak udah hubungin dia?" cecar Callysta pada Jonthan.


"Aku udah coba hubungin dari tadi Ta. Tapi gak ada jawaban. Tunggu ya, kamu yang tenang. Aku bakal nyuruh orang buat nyamperin mereka. Percaya deh, Aaron gak bakal ingkar."

__ADS_1


Entah terjadi sesuatu pada mereka atau tidak. Namun Callysta pun tidak bisa menghubungi Aaron. Ingin rasanya ia menitikkan air mata dan berlari untuk mencari keberadaan Aaron. Namun, tentu itu tidak mungkin. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya berharap dan berdoa agar Aaron dan keluarganya segera tiba dengan keadaan baik-baik saja.


...****************...


__ADS_2