
Tidak terasa putusan sidang telah keluar, Callysta mendapat surat dari pengadilan bahwa besok sidang pertama akan dilaksanakan. Bersama pak Handoyo, pengacara keluarganya yang menangani kasusnya kali ini. Ia sebagai penggugat berharap menang bersama pak Leo dalam persidangan ini.
Cuti Araron pun telah usai, ia kembali bekerja seperti semula. Kunjungan keluar negri pun mulai ia lakukan. Namun, di hari persidangan itu ia menyempatkan waktu untuk menemani Callysta.
Saat tengah duduk di ruang kerjanya, Dinda tiba-tiba datang dengan wajah yang serius.
"Bu, ada tamu. Katanya mertua ibu yang dulu."
Degg....
Hati Callysta berdegup. "Pasti masalah Felix!" gumam Callysta.
Seorang wanita paruh baya, dengan wajahnya yang lusuh penuh resah memegang tangannya berkali-kali. Saat melihat Callysta datang, ia langsung terperanjat berdiri dan meraih tangan Callysta.
"Nak, nak... Kamu pasti udah tau kedatangan ibu kesini, tolong ya nak. Jangan tuntut Felix. Kasian kalau dia harus di ditahan nak. Udah cukup hukuman dia dipecat dari perusahaan. Jangan lebih dari itu nak, tolong ya. Ibu mohon." pinta bu Ajeng dengan suara memelas menahan tangis.
"Saya gak banyak menuntut bu, saya cuman ngikuti proses hukum aja. Biar bagaimanapun tindakan Felix sudah merugikan benyak pihak!" Callyst mencoba menjelaskan sembari meminta bu Ajeng untuk duduk.
Wanita paruh baya itu hanya mengandalkan anak semata wayangnya. Anak yang ia bangga-banggakan dengan pekerjaannya yang dibilang sukses. Namun, kini ia harus menelan pil pahit saat mengetahui anaknya ditahan karena tindakannya.
Ia merendahkan harga dirinya di depan Callysta, agar anaknya itu bisa diringankan dalam proses persidangannya.
"Nak, biar bagaimanapun ibu ini bukan orang lain bagi kamu. Ibu pernah jadi mertua kamu, dan Felix pernah jadi suami kamu. Jadi ibu mohon, pertimbangkan lagi nak. Tolong ya nak.." bu Ajeng terisak, tak kuasa air matanya menetes. Tangannya terus meraih tangan Callysta untuk ia genggam dan memohon.
Callysta tak bergeming, tidak ada satu katah patapun yang ia ucapkan dari mulutnya. Hanya lembaran tisu yang ia berikan pada bu Ajeng untuk mengusap air matanya. Ia menenangkan bu Ajeng, sembari berkata agar ia bersabar dan menerima apapun putusan yang akan terjadi nantinya.
Hati seorang ibu, tentu tidak kuasa jika melihat anaknya kesusahan. Apapun bisa ia lakukan untuk menyelamatkan anaknya. Begitu pengorbanan seorang.
__ADS_1
Sejenak Callysta teringat akan perlakuan bu Ajeng padanya saat ia menjadi menantunya. Betapa ia merendahkan dan selalu memojokkan Callysta. Ia sadar, saat itu tidak menjadi menantu idaman bu Ajeng. Bahkan bu Ajeng cenderung tidak menyukainya. Sungguh, ia tidak menyangka jika bu Ajeng akan sampai ke tempat ini dan memohon padanya sedemikian rupa.
Bukan maksud Callysta untuk mengungkit luka lama, namun tentu hatinya yang terluka belum seutuhknya kembali seperti semula. Bayangan perlakuan buruk dari bu Ajeng masih teringat betul di ingatannya.
"Kamu kayaknya mandul, udah bertahun-tahun belum juga hamil!!!" Callysta teringat kalimat itu pernah terucap dari mulut bu Ajeng, bahkan saat tau hasil pemeriksaan kandungan Callysta sehat, seolah bu Ajeng tidak memercayainya.
Barangkali bu Ajeng pun tidak tahu jika Felix telah memiliki anak, dan telah memberikannya cucu. Apakah momen ini tepat untuknya mengungkapkan itu?
Ah, Callysta menepis sejenak perasaan itu. Ia membiarkan bu Ajeng pulang dengan rasa hampa, tanpa sepatah katapun. Ia hanya menenangkan dengan kalimat. "Sabar bu. Semua akan baik-baik saja."
***
Saat sampai rumah, handphone Callysta berbunyi. Sebuah pesan masuk, ternyata dari bu Ajeng.
Nak, ibu ada di jalan menuju rumah kamu. Tolong kirimi alamat lengkapnya.
"Nak, ibu sudah ada di taksi. Tolong kirimin alamat kamu ya." ucap bu Ajeng pelan.
Callysta terdiam.
"Tolong nak, ibu mau minta maaf ke kamu. Tolong ya, kirimin alamat rumah kamu."
"Iya bu." Callysta menjawab singkat.
Ia mengirimkan alamat rumahnya pada bu Ajeng. Tak berselang lama sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. Seseorang memencet bel rumahnya. Ya, orang itu bu Ajeng.
Ia tersenyum hangat pada Callysta, membawa sebuah bungkusan kemudian bungkusan itu ia berikan pada Callysta.
__ADS_1
"Ini nak, ada madu buat kamu bukan apa-apa. Bagus buat menjaga kesehatan kamu. Sebelumnya ibu minta maaf ya sama kamu, atas sikap ibu dan Felix. Ibu sadar, kita belum sempat minta maaf kamu sebelumnya."
"Iya bu. Aku udah maafin, toh itu udah lama juga."
"Kalau kamu udah maafin ibu dan Felix, ibu minta tolong. Saat persidangan nanti jangan ringankan tuduhan untuk Felix ya?" pinta bu Ajeng sembari memohon pada Callysta.
"Itu dua hal berbeda bu. Jangan campur adukkan. Aku hargai usaha ibu, aku juga apresiasi tindakan ibu. Tapi bukan berarti aku bisa mentoleransi semuanya bu."
"Kamu jangan egois seperti itu ya Callysta. Dari dulu ibu gak nuntut kamu apa-apa selama jadi mantu ibu. Sekarang, ibu cuma minta keringanan buat Felix aja. Kasian, dia itu sebenernya baik orangnya. Apa itu terlalu berat buat kamu?" tanya bu Ajeng semakin meninggi nada suaranya.
"Bu cukup ya. Udah bu, anak ibu itu gak sebaik perkiraan ibu!" tegas Callysta.
"Apa maksud kamu? Oh ya, ibu inget terakhir kali kamu bilang sama ibu ngucapin selamat. Apa maksudnya? Jelaskan Callysta!!!"
Callysta terdiam sejenak kemudian teringat, kali terakhir ia menghibungi bu Ajeng saat ia sedang tersulut emosi.
Waktu itu Aaron baru saja berpapasan dengan Felix dan tidak sengjaa mengetahui fakta, bahwa Felix baru saja tes DNA dan ia memiliki anak bersama Tara.
Saat itu Callysta tidak pikir panjang, langsung menghubungi bu Ajeng. Karena ia berpikir bahwa bu Ajeng belum mengetahui fakta itu. Benar! Dugaan Callysta, memang bu Ajeng belum mengetahui hubungan Felix dan Tara hingga lahir Felicia.
Bu Ajeng hanya tahu bahwa anak semata wayangnya adalah pekerja keras dan fokus bekerja saja. Ia tidak tahu jika, anaknya menyimpan rahasia yang begitu besar.
Callysta menatap bu Ajeng, ia memikirkan harus mulai dari mana untuk menceritakan tentang Felicia. Ia sendiri belum pernah secara langsung bertemu dengan Felicia. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi bu Ajeng jika mengetahui fakta itu.
"Ta, kenapa diam? Jelaskan sama ibu. Apa maksud kamu ibu punya cucu? Jelaskan maksud kamu apa? Siapa cucu yang kamu maksud?"
Callysta mulai menyusun kata demi kata yang akan ia katakan pada bu Ajeng, tanpa menambahi kekurang tahuannya. Ia menceritakan dari awal kecurigaannya saat ia melihat Tara yang membawa anak kecil di depan rumah sakit.
__ADS_1
...****************...