
Callysta bertanya dan penasaran siapa sebenarnya Olivia, karena sebelumnya Aaron tidak pernah bercerita tentang Olivia. Dengan memberanikan diri, Callysta meminta Aaron menceritakan siapa sebenarnya Olivia dan mengapa ia sapai hati hampir saja mengacauka pertunangan Aaron.
Dengan perlahan Aaron mengatakan alasannya tidak menceritakan tentang Olivia sebelumnya pada Callysta. Karena bagi Aaron Olivia bukanlah siapa-siapa hanya sebatas rekan kerja saja. ia pun tidak menyangka jika Olivia ternyata menaruh hati pada Aaron. Padahal bisa dikatakan, pertemuan Aaron dan Olivia sangat jarang sekali. Terlebih Aaron sering kali keluar negri untuk memantau cabang perusahaan.
Callysta mencoba mengerti dan memahami, dari sudut pandang wanita memnag Aaron merupakan laki-laki yang menarik. Parasnya yang rupawan, tubuhnya yang tinggi dan bidang terlebih profesionalitasnya dalam pekerjaan. Wanita mana yang tidak tertarik pada Aaron. Tentu akan banyak wanita yang meliriknya hingga berharap akan memilikinya.
Namun tindakan Olivia memang sudah terlampau jauh. Bagi Aron tindakan itu sama halnya seperti prank penipuan. Ituah sebabnya Aron akan menemuinya dan memberikan peringatan agar dia tidak bertindak merugikan orang lain lagi.
Keputusan Aaron untuk menindak Olivia tentu tidak mudah, karena dia salah satu orang penting diperusahaannya. Namun, apabila tidak diperingati mungkin dilain waktu akan terulang lagi.
Aaron memanggil Olivia ke ruangannya.
"Ada yang mau pak Aaron bicarakan dengan saya?" tanya Olivia.
"Tentu! Silakan duduk." pinta Aaron kemudian ia memulai pembicaraan dengan memperlihatkan beberapa foto kebakaran pabrik yang dikirimnya.
"Ini ulah kamu bukan?" sergap Aaron dengan tatapan tajam.
"I..itu. Bukan saya pak!" jawab Olivia terbata.
"Kalau kamu jujur, aku bakal merahasiakan ini pada sisapapun dengan catatan kamu harus mau buat perjanjian dan tidak terpengaruh ke pekerjaan. Tapi kalau kamu mengelak dan aku bisa membuktikan bahwa ini perbuatanmu, tentu kamu harus keluar dari perusahaan ini. Tidak ada tempat bagi pembohong disini!" gertak Aaron.
Olivia diam sejenak, dalam hatinya bimbang antara ingin mengaku. Namun, jika dia mengaku harga dirinya malu pada Aaron. Tetapi jika dia dipecat dengan cara tidak hormat pun dia akan sama malunya.
"Gimana? Kamu perlu waktu buat mikir? Mau minta berapa lama? Berapa hari?" desak aron.
Dengan berat hati Olivia mengakui, dia masih ingin melihat Aaron sesekali. hatinya masih ada tempat untuk Aaron, dan baginya selama Aaron belum menikah artinya belum milik siapaun.
__ADS_1
"I...iya pak. Saya mengaku. Maafkan perbuatan saya pak. Sungguh, saya tidak ada niatan untuk mencelakakan pak Aaron. Saya...."
Belum selesai Olivia berbicara Aaron sudah menyodorkan sebuah kertas untuk ditulis tangan oleh Olivia sebagai perjanjian bahwa tidak akan mengulangi lagi. Dan apabila mengulangi lagi, Olivia siap dipecat tanpa ampun.
***
Setelah permasalahan itu usai, Aaron dan Callysta masih berlanjut untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Meskipun tanggal pernikahan belum ditentukan namun layaknya pasangan lainnya mereka mempersiapkan pernikahan dengan sedetail mungkin.
Bagi kedua belah pihak keluarga, apalagi keluarga Aaron yang baru pertama kali akan melangsungkan pernikahan butuh banyak persiapan yang harus dilakukan.
Keduanya memang masih saling memanggil dengan nama satu sama lain, belum memiliki panggilan sayang. Bagi mereka rasanya masih canggung. Calysta mengajak Aaron untuk melakukan foto sebelum pernikahan beberapa kali. Salah satunya di studio, itupun harus mempersiapkan memilih gaun dan baju setelan yang cocok untuk mereka berdua.
Fotografer terkenal di negara ini dipilih untuk memotret preweeding mereka dengan konsep indoor. Konsep indoor ini tidak memakan waktu yang cukup lama, karena hanya berada di satu lokasi yaitu di studio milik sang fotografer.
di lain kesempatan dengan fotografer yang sama, mereka meminta konsep outdoor. Inilah yang memakan banyak persiapan dan waktu. Aaron menyarankan agar foto preweeding untuk konsep outdoor di Singapore saja, sekalian kunjungan bisnis Aaron akhir bulan ini untuk ke Singapore. Namun, Callysta menolak, ia ingin foto outdoor dilakukan di Indonesia saja. Callysta memilih di Bali, di pinggir pantai saat ada sunset.
***
Mereka pun berangkat ke Bali, ditemani Dinda dan Bara asisten pribadi mereka. Sudah lama sekali bagi Callysta tidak ke pantai, entah kapan kali terakhir ke pantai samapi lupa.
Sesampainya di Bandara Ngurah Rai Bali Callysa sangat antusias. Bersama Dinda mereka menuju hotel tempat menginap. Callysta berada satu kamar bersama Dinda sementara Aaron berada satu kamar bersama Bara.
Dinda mempersiapkan segala keperluan Callysta untuk foto preeweding yang pertama yang berlokasi di pantai Kutha. Dari make up dan gaun disediakan satu paket oleh sang fotografer. Dua hari saja mereka akan berada di Bali. Selain karena foto yang merekalakukan tidak banyak, ada tenggat pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Aaron maupun Callysta.
Matahari yang terik menyengat kulit Callysta yang putih, ia tak menghiraukan seengatan matahari itu. Ia lebih menikmati momen foto yang diarahkan oleh fotografer. Hingga menjelang petang baru selesai sesi foto pertama yang mereka lakukan, sesi yang kedua akan mereka lanjutkan keesokan paginya.
Setelah selesai, Callysta dan Aaron menikmati makan malam di sebuah restoran yang ada di pinggir pantai.
__ADS_1
"Kamu seneng Ta?" tanya Aaron.
"Iya aku seneng Ron. Gak nyangka akhirnya sampai di tahap ini sama kamu."
"Gak terasa capek kah?" Aaron kembali bertanya,
"Capek. Tapi aku seneng, apalagi di Bali ternyata pemandangannya seindah ini ya. Gak heran sih kalau banyak yang bilang surganya dunia tu ada di sini."
"Kamu mau nanti kita bulan madu kesini lagi?" Aaron menawarkan.
"Boleh, asik kali ya bulan madu di sini.'
"Atau mau ke Korea juga?" tanya Aaron embai tersenyum.
"Boleh deh, dua-duanya." Callysta tertawa bahagia.
"Setelah aku pulang dari Singapore kita tentukan tanggal pernikahan kita ya Ta. Kalau sudah dapat tanggalnya kita sampaikan ke orang tua kita juga."
"Iya Ron. Tapi aku pnngen pernikahan kita seperti tunangan kemaren. Cukup keluarga dan kerabat dekat aja yang diundang sepertinya lebih sakral kalau seperti itu."
"Boleh. Aku setuju aja. Biar bagaimanapun nanti harus kita bicarakan sama orang tua juga kan. Barangkali mereka punya pendapat lain."
"Aku setuju."
Bagi Callysta, ini merupakan pernikahannya yang kedua itulah alasan ia ingin menikah dengan sederhana. Namun, bagi Aaron dan keluarganya ini merupakan pernikahan pertama. Tentu ia berharap lebih, apalagi orang tuanya yang memiliki banyak relasi dan kenalan. Tentu banyak sekali yang menantikan momen pernikahan pertama keluarga besar William.
...****************...
__ADS_1