
Susah payah Tara membesarkan Felicia seorang diri, sesekali Felix menyempatkan diri untuk bersua bersama Felicia hingga kini usia Felicia menginjak 3 tahun. Namun, secara hukum Felix tidak memiliki ikatan apapun pada Felicia seringkali membuat Tara resah. Meskipun kini Felicia bisa memanggilnya Papa.
"Cantik ya Felicia, dia mirip sekali sama kamu. Selera makannya juga sama, kamu suka banget apapun olahan makanan kalau itu dari ayam begitu juga dia. Kamu gak bisa makan seafood begitu juga dia."
"Hmmm, iya Felicia emang cantik."
"Kasihan, dia bisa manggil ayah kandungnya Papa. Tapi kalau di sekolah temen-temennya sering ngejek dia dikira gak punya Papa." tambah Tara berharap Felix paham.
Felix terdiam, seolah-olah tidak peduli.
"Felicia, alasan aku pengen segera nikah sama kamu. Paham kan alasanku apa?"
"Iya, tapi aku belum siap."
"Karena apalagi?"
"Kamu yakin kalau dia anakku?" kata Felix sedikit ragu-ragu.
"Hey, Felix!!! Kurang bukti apalagi? Kemiripan kalian itu banyak! Dan kamu pikir aku cewe apaan hah??" jawab Tara dengan penuh amarah.
Tara tidak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulut Felix.
"Gimana kalau tes DNA dulu?" tanya Felix.
"Oh, kamu mau tes DNA sama Felicia??? Baik! Kalau hasilnya akurat kamu mau nikahin aku bulan ini?"
Felix terdiam sembari berfikir dalam. Jauh dalam hatinya ada keraguan, apakah tepat keputusannya menikahi Tara?
"Iya, baik." Felix mencoba meyakinkan diri, bahwa hasil tes DNA nya akan negatif.
***
Felix menentukan sendiri tempatnya melakukan tes DNA. Tara menyetujui, karena Tara begitu yakin bahwa hasilnya akan akurat kemiripannya.
"Halo, Felicia papa datang." sapa Felix pada Felicia.
"Papaaaa....," seru Felicia sembari berlari memeluj Felix.
__ADS_1
"Kita mau kemana papa?" tanya Felicia.
"Jalan-jalan yuk. Felicia mau? Tapi sebelumnya mampir dulu ke rumah sakit sebentra ya. Papa sama Felicia mau diambil darahnya, dikit aja." bujuk Felix.
"Ah, gak mau. Felicia takut. Mama, Felicia gak mau ketemu dokter!"
"Enggak sayang, gak ketemu dokter. Gak sakit kok nanti, cuma kaya digigit semut."
"Serius ma?" tanya Felicia dengan ragu-ragu.
"Iya sayang, setelah itu kita jalan-jalan ke mall mau?" bujuk Tara.
"Mau ma.."
Mereka berangkat ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian tes DNA. Beberapa helai rambut Felicia dan Felix pun ikut diambil.
***
Keadaan Callysta mulai stabil, dia mulai menjalani hari-harinya dengan nyaman bersama Aaron. Terkadang hatinya bergetar melihat perlakuan Aaron yang begitu baik padanya. Namun, Callysta cukup tau diri. Meyakinkan hatinya bahwa diantara dia dan Aaron tidak ada hubungan apapun yang spesial.
Perasaan Callysta pada Aaron tumbuh sejak saat mereka bersama di Korea. Namun, Callysta menyembunyikannya, urung baginya untuk menyatakan lebih dulu.
Sesekali hatinya berdebar kencang saat bertemu dengan Aaron, ada perasaan bahagia yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Callysta menyembunyikan persaan itu rapat-rapat.
"Ta, hari ini sibuk?" tanya Aaron menelfon.
"Gak begitu padat. Ada apa Ron?" Callysta balik bertanya.
"Mau temenin aku gak? Hari ini mau jenguk client bisnis di rumah sakit. Tapi, sebelum itu kita cari bingkisan buat dia ya."
"Oh, gitu. Boleh, jam berapa Ron?" tanya Callysta.
"Satu jam lagi aku jemput ya?"
"Oke, aku siap-siap dulu."
Mendadak, Aaron mengajak Callysta untuk menjenguk client bisnisnya. Callysta bergegas cepat untuk siap-siap. Dia bingung baju apa yang akan dia kenakan.
__ADS_1
"Pake yang mana ya? Biar keliatan berkelas. Simpel tapi gak to much gitu ini atau ini?" tanya Callysta pada dirinya sendiri sembari bercermin.
Dress keluaran Gucci berwarna biru muda dipilihnya. Tidak lama berselang tiba-tiba terdengar suara klakson mobil Aaron. Callysta semakin bersiap lebih cepat, waktu satu jam tidak terasa cepat berlalu. Karena dia bingung ingin menentukan baju yang mana.
Aaron turun dari mobil, baju yang dipakainya semi formal. Rasanya jarang sekali Aaron mengenakan baju casual, entah karena saking sibuknya dia atau terlalu padatnya urusan bisnisnya. Dengan wajah yang berbinar-binar Aaron menyambut kedatangan Callysta dan membukakakan pintu untuknya. Bara asisten pribadinya yang menyetir mobil di depan, Callysta dan Aaron duduk bersebelahan di kursi belakang.
"Mampir dulu buat beli bingkisan ya Bar." pinta Aaron pada Bara.
"Siap pak!" Bara sigap menjawab.
"Mau beli cake atau buah aja Ta menurut kamu?" tanya Aaron memberi pilihan pada Callysta.
"Buah aja Ron. Di dekat sini ada kok buah langgananku."
Callysta dan Aaron berhenti sejenak di toko buah untuk membeli parcel buah. Mereka melanjutkan perjalanan kembali hingga sampai ke sebuah rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Aaron membawa bingkisan buah itu. Callysta berjalan disampingnya dengan menenteng tas kecil di tangan kirinya. Dari kejauhan Aaron tidak sengaja melihat seseorang yang mirip Felix yang berjalan bersama seorang wanita yang rasanya Aaron juga mengenalnya. Namun, Aaron tidak yakin bahwa itu Felix. Pasalnya mereka bersama seorang anak kecil. Urung bagi Aaron untuk memberi tahu Callysta.
Mereka melanjutkan masuk ke ruang besuk client bisnis Aaron. Tidak begitu lama, hanya berbincang sebentar dan mendoakan agar segera pulih. Callysta pun tidak banyak bicara, sesekali senyum merekah diwajahnya bila diperlukan untuk menyapa orang yang tentu tidak dikenalnya.
Tiba waktu saat mereka keluar ruang besuk. Callysta bersama Aaron menelusuri lorong rumah sakit untuk menuju pintu keluar. Sebelumnya mereka menaiki lift menuju ke lantai 1.
Setiba di lantai 1, dari dekat Callysta melihat Felix berjalan seorang diri. Dia hanya melihat saja, tanpa menyapa. Namun, Callysta terhenyak sesaat. Ketika melihat dari kejauhan Tara yang menggandeng anak kecil berjalan menuju ke Arah Felix. Jelas terlihat, Felix melambaikan tangan ke arah mereka. Kemudian saat Tara mendekat, anak kecil itu di gendong oleh Felix. Melihat Callysta terdiam memperhatikan ke arah Felix, Aaron pun ikut melihat ke arah yang sama.
"Ayo Ta," ajak Aaron.
"Aayoo... Itu anak siapa ya Ron? Kok mirip Felix." tanya Callysta pada Aaron.
"Entahlah Ta. Kamu penasaran?"
"Iya Ron. Itu anak yang tempo hari diajak Tara ke rumah sakit ini. Apa mungkin anak mereka? Tapi kenapa udah sebesar itu?" Callysta sedikit bingung dengan baru saja yang dilihatnya.
"Perlukah kita cari tau? Atau biar waktu yang menjawab?"
"Entahlah, cuman kalau itu anak mereka. Artinya anak itu lahir saat Felix masih jadi suamiku. Disatu sisi aku bersyukur cerai dari dia, tapi disisi lain sakit hati juga sih. Walaupun udah gak berlaku."
Aaron terdiam, membayangkan apa yang baru saja dikatan Callysta. Jika memang itu yang terjadi, betapa busuknya tindakan Felix.
__ADS_1