Pembalasan Elegan Istri Dari Korea

Pembalasan Elegan Istri Dari Korea
Pertunangan II


__ADS_3

Dengan terengah-engah sedikit berlari Aaron menuju lobby hotel. Di belakangnya diikuti oleh kedua orang tuanya pak Hendry dan bu Anna yang mengenakan kebaya modern sepatu berhak agak kuwalahan mengikuti langkah Aaron.


Begitu pintu lift terbuka mereka bertiga dan Bara asisten pribadi Aaron langsung masuk ke lift. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka. Kecuali berharap acaranya belum selesai dan keluarga pak Jaya tidak kecewa pada mereka.


Pintu lift terbuka di lantai 17, mereka berjalan ke ruang VVIP tidak jauh dari lift. Degggg..... Ketika masuk ruangan sudah ramai tamu undangan yang sedang menikmati acara hiburan dan hidangan yang disediakan dengan konsep standing party.


Semua mata ttertuju pada mereka, seolah-olah mereka semua melontarkan pertanyaan yang sama. "Darimana saja kalian?" mereka tetap berusaha menenangkan diri menyapa tamu undangan senyuman. Dan menuju ke arah depan menemui pak Jaya dan bu Sinta yang dari raut wajahnya terlihat khawatir. Ketika melihat kedatangan mereka, keduanya langsung tersenyum lega.


"Maaf pak Jaya, atas keterlambatan kami. Sebenarnya baru saja ........." belum usai pak Hendry akan menjelaskan yang terjadi namun pak Jaya memotong pembicarannya.


"Sudah pak. Yang terpenting sekarang kita fokus pada acara anak-anak. Bisa dijelaskan nanti setelah acara selesai." ucap pak Jaya sembari menenangka pak Hendry yang terlihat kalut.


Callysta yang di dalam menunggu sedari tadi tidak tahu bahwa Aaron dan keluarganya sudah datang. Tidak lama kemudian, Dinda mengabarkan bahwa Aaron sudah datang. Callysta menyeka air matanya yang tidak sengaja keluar mendengar Aaron sudah datang.


MC pun memulai acara, mulai dari sambutan dari kedua belah pihak keluarga hingga pada acara inti tukar cincin oleh Aaron dan Callysta. Dalam kesempatan itu, Aaron menyempatkan diri untuk meminta maaf pada tamu undangan karena kehadirannya beserta keluarga sudah terlambat dan membuat keluarga Callysta dan tamu undangan menunggu cukup lama.


***


"Jadi gini pak, tadi saat kami sudah mau berangkat tiba-tiba Aaron mendapat telpon dari nomor yang tidak dikenal. Orang itu mendesak dan mengatakan bahwa pabrik kami kebakaran dan ada banyak karyawan yang menjadi korban jiwa. Tanpa pikir panjang Aaron menuju pabrik itu. Kami pun ikut panik akhirnya kami menuju pabrik dan saat sampai lokasi ternyata pabrik baik-baik saja." pak Hendry menjelaskan keterlambatan mereka pada keluarga pak Jaya.


"Apa gak dicek dulu pak? Dengan orang kepercayaan bapak gitu?" tanya pak Jaya.


"Nomor tak dikenal itu juga mnegirimkan bukti foto kebakaran pabrik kami. Persis sekali dengan pabrik kami, ini gambarnya." Aaron memperlihatkan gambar yang dimaksud pada pak Jaya.


"Nyaris tidak ada bedanya dengan editan. Memang saat ini tekhnologi semakin canggih. Penipuan seperti itu pun bisa terjadi pada siapapun." pak Jaya menggut-manggut setelah melihat gambar yang ditunjukkan oleh Aaron.

__ADS_1


"Bro, diusut aja. Selidiki itu nomor siapa biar ketahuan maksud dia apa." usul Jonathan.


"Iya Jo. Tapi yang gua heran kenapa orang ini gak mintat tebusan uang atau semacamnya. Umumnya kalau penipuan gini ujung-ujungnya duit kan?"


"Syukurlah kamu datang tepat waktu. Walaupun memang sudah telat satu jam lebih. Dan yang terpenting kalian baik-baik saja." Callysta mencoba menenangkan.


Mereka msih heran dengan penipuan yang baru saja menimpanya. Entah siap yang jahil atau punya dendam pribadi terhadap Aaron sehingga melakukan tindakan yang mempermalukan keluarga Aaron.


Bara, menyelidiki nomor yang menipu Aaron. Dia mencoba melacak dan bertanya pada kenalannya ahli IT. Tidak butuh waktu lama, ternyata nomor itu sudah tidak aktif dan nomor sekali pakai.


Mencurigai orang lain pun rasanya sia-sia. Namun, hal semacam ini tentu merugikan bagi Aaron.


Sejenak, Callysta berpikir mungkinkah ini perbuatan Felix? Namun, pertunangan Callysta dan Aaron begitu cepat. Tamu undangan pun hanya kerabat dekat, bahkan pak Leo pun tidak mereka undang. Jika memang itu Felix tahu darimana kah dia? Callysta segera menepis rasa curiganya itu pada Felix. Dia tidak ingin meracuni hatinya dengan prasangka buruk terhadap orang lain.


Yang sudah berlalu mereka ikhlaskan, mereka menjalani hari seperti biasa. Terlebih Aaron dan Callysta yang menyandang status baru karena mereka sudah bertunangan. Sembari menunggu, ahli IT untuk menyelidiki lebih dalam kasus ini.


Siang itu, saat Callysta tengah makan siang bersama Aaron di restoran. Dari kejauhan Bara menghampiri mereka. Memang, kasus ini dipercayakan oleh Aaron pada Bara. Aaron tidak membiarkan begitu saja. Baginya itu sama halnya dengan penipuan dan harus diusut sampai tuntas.


"Pak, saya dihubungi oleh ahli IT. Beliau mengatakan dapat temuan dan titik terang terkait permasalahan ini." Bara menjelaskan.


"Oh, gitu. Bagus Bar. Setelah ini kita langsung kesana aja." ucap Aaron.


"Aku ikut ya Ron." pinta Callysta.


"Iya, ayok sekalian."

__ADS_1


Bara menyetir mobil menuju tempat pertemuan dengan ahli IT itu yang bernama Willy. Ia memang dikenal ahli IT bahkan hacker bayaran yang biasa memulihkan akun yang sudah hilang. Atau diapun terbiasa menerima permintaan client untuk meretas komputer atau handphone target dengan proses yang rapi dan bisa dibilang cepat.


Karena Aaron dan Bara merupakan client VVIP akhirnya Willy mau bertemu dengan mereka dengan catatan siap untuk merahasiakan identitas Willy. Semua sudah diatur oleh Bara, itulah sebabnya mereka bisa bertemu Willy sekarang.


"Bagaimana Willy, target dimana sekarang lokasinya?" tanya Aaron tidak sabar.


"Lokasi terakhir target saat mengirim pesan berada di Jakarta Pusat. Kalau dari identitas yang didaftarkan di nomor itu dia perempuan. Nomor itu sekali pakai, tapi handphonenya kemungkinan sama. Saya masih melacak keberadaan handphone itu ya. Hari ini jika sudah terlacak akan langsung saya kirimkan lokasinya." Willy menjelaskan.


Aaron berterima kasih pada Willy dan bergegas pulang bersama Callysta dan Bara. Saat di perjalanan Willy berhasil mengirim lokasi target yang sudah menipu Aaron.


"Ikuti lokasi ini Bar." pinta Aaron.


Dalam perjalanan Aaron merasa tidak asing dengan lokasi yang berada di Jakarta Pusat ini. Menuju sebuah perumahan besar. Rasanya tidak asing dengan perumahan Grand Mahardika ini. Aaron terhenyak sesaat, dan teringat oleh seseorang yang ia kenal.


Saat mobilnya berhenti tepat di depan perumahan, ada seorang satpam yang berdiri di depannya. Tentu Aaron memberhentikan Bara, dan tidak menyuruhnya masuk. Sejenak dia mengamati, dan membuka kembali ingatannya.


Sebuah mobil Alphard keluar, Aaron teringat akan seseorang. "Olivia" gumam Aaron pelan. Callysta yang duduk di sebelahnya mendengar dan menanyakan padanya.


"Kamu kenal Ron?" tanya Callysta.


"Olivia, dia rekan direktur di perusahaanku Ta. Kami kenal karna sekampus dulu, dan ayahnya juga kenal betul dengan keluarga kami. Bisa dibilang punya relasi bisnis dengan Papa."


"Lantas kenapa kira-kira dia melakukan ini sama kamu Ron?" tanya Callysta memastikan.


"Dia sempat menyatakan cinta sama aku. Tapi aku gak menghiraukan."

__ADS_1


Betapa kagetnya Aaron, apabila benar itu tindakan Olivia. Ia tidak menyangka, penolakan Aaron pada Olivia membuatnya sakit hati dan nekat melakukan tindakan itu. Sejak awal Aaron menggebu untuk memberi perhitungan pada target, namun setelah mengetahui orang itu adalah Olivia membuatnya ragu sejenak.


...****************...


__ADS_2