
Rumah terasa hangat semenjak Callysta pulang dari Korea. Pak Jaya dan bu Sinta bahagia, karna kini rumah mereka kembali hangat. Meskipun disibukkan dengan urusan masing-masing.
Pagi ini ketiganya cukup senggang, mereka menyantap sarapan bersama di ruang makan. Hidangan pagi ini menu yang simpel tapi mengenyangkan. Segelas smoties dan sepotong roti croisant. Pak Jaya memecah suasana dengan memulai percakapan.
"Gimana nak bisnis kamu?" tanya pak Jaya.
"Sejauh ini lancar Pi, walaupun ada beberapa kendala." ucap Callysta.
"Syukurlah. Kamu bisa mengatasinya?" lanjut pak Jaya.
"Semoga bisa ya Pi, kadang aku dapet saran dari Aaron juga sih. Cukup banyak ngebantu aku dia Pi." Callysta menjelaskan.
"Wah, kamu makin akrab sama Aaron ya?" bu Sinta menggoda.
"Ya gitulah Mi, tuntutan kerja juga. Dia udah kayak konsultan aku. Mulai dari ngerintis bisnis di Korea sampai sekarang, dia banyak tau gimana harus ngatasinnya. Kalau dibilang gak butuh saran dia sih, bohong. Hehe..." Callysta terkekeh.
"Tuh Pi, sekarang dia udah punya konsultan pribadi." bu Sinta makin menggoda Callysta dengan menyenggol lengan pak Jaya.
"Papi selalu dukung, apapun keputusan kamu. Jangan lupa, kamu punya Papi dan kakak-kakakmu yang siap bantu kapanpun kamu butuh."
"Baik Pi. Aku juga mau belajar mandiri pelan-pelan. Papi percaya deh, aku juga bakal bisa jadi owner yang baik buat perusahaanku." Callysta meyakinkan pak Jaya.
Callysta, si perempuan bungsu dari tiga bersaudara. Yang sejak kecil selalu terpenuhi apapun keinginannya. Kedua kakaknya laki-laki semua, selalu siap siaga berdiri paling depan untuk Callysta. Apalagi sejak kecil Callysta memang sudah terlahir dari keluarga kaya raya.
Itu sebabnya semenjak lulus kuliah S1 seharusnya dia lanjut S2 di luar negri, namun saat magang bertemu dengan Felix di tempat kerjanya. Yang berujung setelah lulus dia malah meminta Papinya untuk bekerja di perusahaan pak Leo. Dengan menyembunyikan identitasnya, akhirnya Callysta menjadi karyawan biasa.
__ADS_1
Callysta yang saat itu menjadi karyawan biasa berada satu tim dengan Felix dan Tara. Karena Callysta tipikal penurut dan rajin, dia cukup dimanfaatkan oleh Felix untuk mengerjakan berbagai target kerjaan kantor. Hingga saat diadakan promosi kenaikan jabatan, Felix memanfaatkan Callysta. Kedekatan mereka yang berawal dari Felix yang sering meminta bantuan berujung Callysta terbawa suasana. Mengetahui hal itu, akhirnya Felix menyatakan perasaan pada Callysta. Tidak lain karena tujuan Felix, agar dia bisa naik jabatan.
Benar, saat Felix naik jabatan keduanya sudah menjalin hubungan. Callysta semakin bucin dengan Felix. Apalagi penampilan Felix yang meanawan. Berbeda dengan Callysta yang tidak menarik apalagi cantik. Terjebak hubungan dengan Callysta, Felix mencari tahu siapa sebenarnya Callysta.
Setelah mengetahui kebenaran bahwa Callysta putri dari pemilik PT. Atmajaya, akhirnya Felix mulai memperkenalkan Callysta pada bu Ajeng ibunya. Tentu, bu Ajeng menolak mentah-mentah Callysta. Dia mengira Callysta memanfaatkan Felix, karena melihat penampilan dan paras Callysta yang tidak cantik. Sampai Felix memberi tahu tentang siapa sebenarnya Callysta, bu Ajeng pun memberikan restu.
Tidak sampai di situ, pak Jaya dan keluarga besar Callysta tidak merestui. Selain latar belakang Felix, juga mereka menginginkan Callysta untuk berkarir lebih dulu. Atas desakan Felix dan bujuk rayunya membuat Callysta terlena dan ingin segera menikah dengan Felix.
Berbagai cara dilakukan Callysta, hingga tidak pulang ke rumah dan memutus komunikasi dengan keluarganya. Bu Sinta yang tidak pernah jauh dari Callysta merasa kasihan, membujuk pak Jaya. Akhirnya restu pun dia berikan.
***
Di sebuah cafe, Callysta sedang bersama Aaron untuk melmbahas tentang perusahaannya. Langkah-langkah yang harus dia lakukan dan rencana pengembangan kedepannya.
"Ta, kamu udah hubungin pengacara lagi?" tanya Aaron.
"Somasi tempo hari. Harus ada feedbacknya dong, apa yang udah kamu dapet dari dia? Ada perubahan gak? Atau sebaliknya."
"Terakhir malah dia bikin berita tentang damai, padahal saat itu enggak ada dia bilang mau dibikin berita." Callysta menjelaskan.
"Nah, harusnya kamu ambil tindakan Ta. Sekarang gini deh, yang kamu pikirkan bukan lagi diri kamu sendiri ya. Tapi perusahaan kamu. Nama baik kamu, image kamu akan ngaruh semua ke perusahaan. Cara pandang orang ke kamu akan berpengruh ke cara pndang mereka juga ke perusahaan dan produk kamu."
Callysta mengangguk, kemudian menyeruput kopi yang ada di gelasnya.
"Kalau aku nih, bakal pertaruhkan apapun demi kebaikan perusahaanku. Siapapun yang jadi penghalang gak segan-segan aku hilangkan." Aaron semakin meyakinkan Callysta.
__ADS_1
"Kamu baru merintis, dan baru memulai. Jadi harus punya pondasi yang kuat. Saat kamu mulai merangkak ke atas akan semakin banyak terjangan angin yang menghantam. Kalau pondasimu kurang kuat, sedikit saja. Kena terpa angin kecil pun bisa roboh semuanya. Jadi udah tau kan, harus gimana nyikapinnya?" lanjut Aaron.
"Iya Ron. Thanks ya, may be pelan-pelan aku bakal ngerti kudu gimana-gimananya. Makasih udah nguatin aku." ucap Callysta pelan sembari berfikir keras.
Callysta mengeluarkan handphonya, di mengirim pesan pada pak Leo untuk bertemu.
***
Callysta meminta Dinda untuk reservasi di restoran Chinnes hari ini bersama pak Leo untuk makan Siang. Di temani oleh Dinda, Callysta makan siang bersama pak Leo.
"Begini pak, saya berharap kerja sama kita tidak merugikan salah satu pihak. Perusahaan bapak udah lama menjalin relasi dengan Papi saya. Sekarang saya pun ikut terjun bekerja sama dengan prusahaan bapak. Jadi, saya tidak mau kalau ada yang merugikan perusahaan saya. Itu pasti akan berdampak dengan kerja sama kita juga." Callysta menjelaskan.
"Iya bu, saya paham maksud bu Callysta. Kejadian akhir-akhir ini memang sangat disayangkan. Itu semua di luar kendali saya bu." jawab pak Leo.
"Setidaknya, pak Leo bisa mengambil keputusan yang bijak. Agar kita tidak sam-sama dirugikan oleh kepentingan mereka. Tidak rugi kehilangan satu atau dua orang yang tidak kompeten, ketimbang kehilangan mitra bisnis." Callysta menekankan.
"Saya akan pertimbangkan bu. Kita cari jalan tengahnya untuk kebaikan kerja sama kita bersama."
"Tentu pak."
"Saya harap kerja sama kita akan berlangsung lama." pinta pak Leo pada Callysta.
Callysta tersenyum dan mngangguk sembari mempersilkan pak Leo untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan oleh pihak restoran.
Tindakan Callysta meminta secara halus untuk memecat Tara menjadi renungan bagi pak Leo. Jika pak Leo tidak mengambil tindakan tentu hubungan kerja samanya yang akan dipertaruhkan. Mengingat Callysta berpengaruh pada 2 perusahaan besar yang bekerja sama dengannya, menjadi teguran yang memalukukan bagi pak Leo.
__ADS_1
"Gimana ceritanya sampai begini, salah satu atau dua-duanya nih yang harus aku cut." gumam pak Leo.
...****************...