
Semalaman cincin berlian yang terpasang di jari manis Callysta dipandangi tidak henti-hentinya, hingga dia terlelap tidur begitu saja.
Meskipun tidak ada kata jadian seperti anak muda pada umumnya, namun hubungna Callysta dan Aaron sudah jelas serius. Bahkan Aaron mengutarakan untuk meminta callysta menerima permintaan menikahinya.
Bunga krisan yang diberikan Aaron diletakkan Callysta di kamarnya, ditaruhnya pada vas yang berisikan air agar tidak cepat layu.
***
Pagi ini terasa sangat cerah bagi Callysta, seakan-akan mthari di atas sana selalu tersenyum padanya. Dinda yang tidak mengetahui bahwa Callysta semalam telah dilamar oleh Aaron pun sampai terheran-heran melihat wajah Callysta yang berseri-seri.
"Mobil sudah siap bu, mau berangkat sekarang?" tanya Dinda.
"Kita ketemu di kantor ya Din, aku berangkat sama Aaron. Mau sarapan bareng dulu." jawab Callysta dengan senyum tipis di wajahnya.
"Oh, sama pak Aaron. Ehm, iya deh bu." Dinda berdehem menggoda Callysta.
Tak berselang lama, Aaron datang menjemput Callysta. Aaron menanyakan ingin sarapan dimana pagi ini, Callysta meminta agar mereka sarapan di warung pinggir jalan saja. Dia ingin menikmati suasana yang berbeda. Keduanya memutuskan untuk sarapan bubur ayam yang mereka temui di pinggir jalan sebelum menuju kantor Callysta.
Setelah seleesai menyantap sarapan, Aaron meminta Callysta untuk mempertemukan kedua keluarga mereka.
"Akhir pekan ini gimana Ta? Aku kabarin Mama Papa buat ketemu keluarga kamu ya?" tanya Aaron.
"Secepat itu Ron?" tanya Callysta.
"Iya, semakin cepat semakin baik kan. Aku mau hubungan kita diketahui keluarga besar. Dan secepatnya diresmikan pertunangan kita dulu."
Callysta kaget mendengar pernyataan Aaron. Ada rasa bahagia, namun tidakkah Mami Papinya kan kaget jika secepat ini hubungannya diresmikan. Ditambah kedua keluarga mereka sudah saling kenal sejak lama.
"Emm, boleh deh. Nanti aku bicarain sama Mami ya mau ketemu dimana keluarga kita."
"Iya, aku tunggu kabar baiknya Ta. Mama ku pasti seneng bnaget, karna sebentar lagi bakal punya mantu sebaik kamu." puji Aaron sembari mnatap Callysta.
__ADS_1
"Ah, kamu terlalu memuji deh. Terakhir ketemu mama kamu udah beberapa tahun yang lalu. Mungkin bakal kaet liat aku sekarang."
"Enggak juga, aku udah ceritain kamu sebelumnya ke mama. Liatin juga foto kamu ke mama." jawab Aaron menggoda.
"Ah, kamu curang nih. Makin malu kan aku jadinya." pipi Callysta memerah, matanya mengecil senyum di bibirnya merekah.
Hari-hari Callysta terasa berbunga-bunga, kehadiran Aaron dan lamarannya membuatnya merasa dicintai dan menjadikannya prioritas.
Sampai di kantor harinya terasa makin bersemangat.
***
Callysta pulang ke rumah orang tuanya uuntuk memberi mereka kabar akan adanya pertemuan dengan keluaga Aaron.
"Mi, Callysta mau cerita penting banget Mi."
"Iya cerita aja, sepenting apa sih?"
Sontak membuat bu Sinta kaget dan bahagia.
"Oh, jadi selama ini kalian pacaran dan tiba-iba kamu di lamar? Duh duh, selamat ya sayang. Mami bahagia banget dengernya." jawab bu Sinta antusias.
"Enggak mi, kita gak pacaran. Dia langsung ngelama aku dan minta keluarga kita buatsaling ketemu bahas pertunangan."
"Waduh duh, gercep banget ya si Aaron. Wait, Mami setuju nanti kita ketemu makan mlam keluarga di restoran chinnes aja. Biar mami sampaikan ke Papi ya."
Callysta merasa lega, maminya menyetujui hubungannya dan ikut bahagia. Selanjutnya Callysta menemui Jonathan dan Natasha untuk mengundang mereka ikut makan malam pertemuan dua keluarga.
Jonathan masih dalam perjalanan bisnis, sementara Natasha di rumah bersama kedua anaknya Dante dan Celine. Setelah Callysta selesai bercerita Nathasa berkomentar bahwa dia sudah menduganya sebelumnya.
"Keliatan banget, kalian itu emang cocok satu sama lain. Orang lain aja tau, syukurlah kalau hubungan kalian langsung serius. Aku ikut seneng Ta. Nanti kusampaikan Papanya anak-anak, kami pasti datang." ucap Natasha memberikan selamat.
__ADS_1
Callysta masih melanjutkan untuk menemui kakaknya yang kedua, Andrew. Kali ini dia datang ke showroomnya Andrew, karena memang Andrew memiliki bisnis otomotif. Diapun sudah memiliki seorang istri bernama Vanes dan seorang anak laki-laki Ben yang masih seumuran dengan Celine. Callysta bertemu dengan Andrew dan anak istrinya.
"Nah, gitulah. Aku seneng dengernya, aku sama Vanes bakal dateng."
"Congrats ya Ta. Aku ikut seneng dengernya." ucap Vanes sembari memegang tangan Callysta.
Seluruh keluarga Callysta akhirnya tau dan merestui hubungannya dengan Aaron. Hatinya terasa bahagia dan lega memberikan kabar baik untuk keluarga besarnya.
***
Hari yang dinanti pun tiba, semua keluarga Callysta sudah berkumpul menunggu kedatangan keluarga Aaron. Callysta menggunakan pakain terbaiknya, dress berwarna dusty pink keluaran designer ternama dipakainya memberikan kesan anggun.
Hatinya berdebar, saat keluarga Aaron datang. Aaron merupakan anak pertama yang memiliki satu adik perempuan yang usianya lebih muda dari Callysta. Papanya pak Hendry William mengenakan setelan jas yang membuatnya terlihat gagah meskipun usianya sudah tua, istrinya bu Anna terlihat anggun mengenakan dress berwarna maroon. Sedangkan adiknya Thalia terlihat menawan mengenakan dress berwarna silver.
Kedua keluarga saling berjabat tangan, pak Jaya dan pak Hendry saling berpelukan diikuti oleh bu Sinta dan bu Anna.
"Gak nyangka jadi besan juga kita ya." bisik bu Sinta pada bu Anna.
Aaron memulai pembicaraan, mengungkapkan keseriusannya pada Callysta di depan kedua keluarga. Tidak banyak yang dia katakan, hanya saja Aaron berharap direstui oleh orang tuanya dan orang tua Callysta memberikan restu untuk segera melangsungkan pertunangan.
Pak Jaya, sebagai seorang ayah dari anak gadisnya yang pernah gagal berumah tangga tentu terharu dengan pernyataan Aaron yang sangan gentleman. Dia berharap bersama Aaron, Callysta akan lebih bahagia dan berpesan agar jangan menyakiti Callysta.
"Mungkin, keluarga pak Hendry tau bahwa Callysta anak saya pernah gagal sebelumnya. Oleh karena itu saya berpesan pada Aaron tolong bahagiakan Callysta, jaga dia baik-baik. Jujur, sebagai seorang ayah saya lebih hat-hati dan tidak gegabah seperti sebelumnya. Tapi, dengan Aaron Papi percaya kamu laki-laki baik dan bertanggung jawab. Semoga, kalian berdua bahagia bersama."
"Makasih pak, udah percaya sama saya. Semoga kedepannya saya bisa terus membersamai Callysta dan membahagiakan dia sampai diujung usia kami."
Kalimat yang diucapkan oleh pak Jaya membuat Callysta terharu. Akhirnya melalui pembicaraan itu, tanggal pertunangan Aaron dan Callysta ditentukan oleh kedua belah pihak keluarga.
Aaron merasa lega, satu per satu impiannya bersama Callysta tercapai. Sebaliknya, Callysta pun merasa kebahagiaan menyelimuti hatinya. Dia berharap bisa mewujudkan impiannya bersama Aaron kelak.
********************************
__ADS_1