Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik

Pengasuh Cantik Tuan Muda Cerdik
Bab 10 - Sangat Kecil


__ADS_3

"Kok diem aja, ayo dimakan. Nanti keburu dingin lo," ucap Anya, dia pun menarik salah satu kursi yang ada di sana dan duduk di samping Steven.


Anya ambil 1 bakso tusuk itu dan menyerahkannya pada sang anak asuh.


"Aku sudah gosok gigi, tidak mau makan lagi," balas Steven akhirnya, dia bahkan langsung memalingkan wajah dan kembali ke arah meja, disana bukan buku dongeng yang sedang dia lihat, Steven sedang memainkan sebuah rubik. Kedua tangannya bergerak dengan asal, memang tidak berniat membuat rubik itu jadi 1 warna.


Steven itu pun tidak membahas tentang kejadian siang tadi saat dia meninggalkan Anya. Tidak pula ada kata permintaan maaf.


"Benar tidak mau?" tanya Anya.


Steven hanya diam. Fokusnya hanya pada Rubik.


"Benar tidak mau?" tanya Anya sekali lagi, dan mendapati Steven yang betah diam, dia jadi bicara sendiri terus.


"Ya sudah, berarti mbak Anya yang makan ya? kan mubazir kalau di buang, nanti bisa kualat. Jadi nggak bisa beli makanan dan kelaparan seumur hidup, hii, mengerikan," tutur Anya panjang lebar. Dia bahkan bergidik ngeri, ingat buku tentang siksa kubur yang pernah dia baca saat kecil.


Macam-macam pembalasan untuk orang-orang yang berbuat Zalim di bumi.


Anya lantas mengambil piring bakso itu dan di pangkunya, dia ambil 1 tusuk dan mulai dimakan.


"Emm enak ya, pantesan harganya mahal. Masa 1 tusuk 5 ribu, isinya saja cuma 3,"


"Kalau di desa mbak Anya bakso tusuk gini cuma seribuan, isinya 4 bakso,"

__ADS_1


"Emm, tapi ini enak banget lo Stev, kamu beneran nggak mau?"


Steven akhirnya menoleh ke arah mbak Anya, air liurnya sudah terlalu penuh di mulut.


"Nih," Anya kembali menyerahkan bakso tusuk itu, tapi bukan di tangan Steven melainkan langsung ke arah mulutnya.


"A," akhirnya Steven pun memakan bakso tusuk itu.


Awalnya canggung, namun kemudian mereka berdua sama-sama menikmati.


Sampai tidak sadar jika Reza memperhatikan di ambang pintu.


Anya dan Steven memunggungi arah pintu itu, sementara Anya tadi tidak menutup pintunya.


Dia adalah pria dingin yang tak pandai mengungkapkan isi hati, sulit untuk memilih kata yang tepat dan menjelaskan pada sang anak tentang perceraian ini. Dia bingung bagaimana mengatakannya. Karena itulah selalu berakhir diam.


Reza tahu jika Steven marah kepadanya, lalu melampiaskan semua itu pada orang sekitar.


Tapi mau bagaimana lagi, hubungannya dengan Monalisa memang tak bisa lagi di pertahankan.


Sebelum Steven atau pun Anya menyadari keberadaannya, Reza pergi dari sana, mundur perlahan lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


Pagi datang.

__ADS_1


Apa yang terjadi kemarin seperti mimpi saja, saat pagi ini Anya membuka matanya tak ada lagi yang dia ingat tentang kemarin. Anya hanya ingat tentang semua tugas-tugasnya yang harus di kerjakan.


Membuat bekal untuk Steven, menyusunnya rapi di dalam kotak bekal, bahkan sampai membuat gambar animasi.


Lalu berjalan cepat naik ke lantai 2 dan membangunkan sang anak asuh. Menunggu Steven mandi di depan pintu sambil terus bicara memberi instruksi.


"Gosok gigi yang benar! buka mulut mu A, lalu ii. Kumur yang kuat, lepeh,"


"Jangan cuma perut yang di gosok! kaki, ketiak, paha, semuanya harus rata!"


"Berisik Mbak!" balas Steven akhirnya, cukup lama dia menahan diri dalam kesal.


"Salah siapa mbak Anya nggak boleh masuk!" "Sudah! jangan lama, pakai handuk dan keluar!!"


"Ya ampun Anya, suara mu sampai terdengar ke kamar ku," ucap Reza, dia datang karena suara berisik Anya. Kamar Reza memang yang paling dekat dengan milik Steven.


Dan suara keras Anya itu sangat menganggunya.


"Maaf Pa, aku tidak sengaja," Anya memelas, merasa bersalah, dia bahkan langsung menunduk tidak berani menatap.


Tapi panggilan Pa yang keluar dari mulut Anya entah kenapa seperti mengganggu pendengaran Reza.


Seolah di hadapannya ini bukanlah pengasuh Steven, melainkan anak perempuannya.

__ADS_1


Huh! kenapa pula gadis ini begitu kecil. Gerutu Reza.


__ADS_2