
Steven masih menunggu beberapa saat, mungkin saja ibunya akan segera menyelesaikan urusannya dan kembali menghampiri dia.
Tapi sekitar 15 menit Steven menunggu, nyatanya sang ibu tetap sibuk pada urusannya sendiri.
Mana Mona hilir mudik dengan sambungan telepon yang masih terhubung. Membicarakan beberapa sketsa yang sudah dikirim pada penjahit.
Semalam mereka tidur saling memeluk erat, mama Mona juga mengatakan bahwa hari ini mereka akan banyak menghabiskan waktu bersama.
Tapi kenapa? pagi ini Steven seperti melihat sisi lain dari sang ibu.
Mama Mona yang malah terlihat lebih mirip dengan sang ayah, yang selalu sibuk sendiri dengan pekerjaannya.
Lagi, Steven melihat jam dinding di kamar itu, waktu sudah menunjukkan jam 6 lewat 20 menit. Dia yang tak suka tubuhnya kotor pun langsung beranjak keluar dan mencari sang pengasuh.
"Mbak Anya!" panggil Steven dengan suara yang cukup tinggi. Anya yang berada di dapur pun langsung berlari menghampiri.
"Kenapa Stev?" tanya Anya, dia sudah berada di hadapan Steven, bahkan berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka. Padahal tidak perlu seperti itu, karena tubuh Anya pun pendek.
"Mandi."
"Mbak Anya kira mandi sama mama."
"Mama sedang telepon rekan kerjanya."
"Oh, jadi mau mandi dimana?"
__ADS_1
"Kamar mbak Anya saja, aku ambil baju dulu."
"Oke."
Jam 7 lewat Steven baru terlihat rapi, padahal biasanya di jam seperti ini Steven sudah duduk di meja makan dan menyantap sarapannya.
Dan saat Anya sedang menyisir rambut sang anak asuh, terdengar jelas suara perut Steven yang krucuk-krucuk.
Anya tersenyum lebar, sementara Steven yang malu langsung mencubit pipi mbak Anya kiri dan kanan.
"Eh.. ada yang laper," goda Anya.
"Cepet sisir rambutnya!!"
Bentakan papa Reza, perlakuan kasar, dan tatapan dingin itu memang begitu sulit untuk Anya lupakan.
Tapi dengan adanya Steven, dia seperti bisa melewati semuanya.
Lagi pula yang aku asuh kan Steven, bukan papa Reza. Jadi jangan takut lagi. Selalu itu yang Anya ucapkan di dalam hatinya.
Meski selalu takut juga dengan ucapan papa Reza semalam, tentang Mama Mona yang mungkin saja bisa menyakiti Steven.
Ingat kalimat itu Anya seperti tidak percaya, apalagi sejak pertama kali bertemu dengan Mama Mona Anya sudah bisa merasakan jika wanita tersebut memiliki hati yang sangat baik, mama Mona juga sangat menyayangi Steven.
"Udah kok, tapi sebelum ke meja makan panggil Mama Mona dulu ya?" pinta Anya dan Steven mengangguk.
__ADS_1
Bocah kecil itu lantas berlari menuju kamar mamanya.
masuk begitu saja ke dalam kamar itu karena pintunya tidak dikunci.
Namun sungguh, sikap Steven yang seperti itu berhasil membuat Mona terkejut. Apalagi selama ini dia tidak pernah terbiasa dengan adanya anak-anak di dalam apartemennya.
Alat make up yang sedang dipegang oleh Mona sampai jatuh ke lantai dan pecah.
Pyar!!
"Astaga Steven!! kamu membuat Mama terkejut!" pekik Mona tanpa sadar. dia malah sibuk sendiri untuk mengambil alat make up-nya yang jatuh, tidak melihat wajah keterkejutan sang anak yang terkejut mendengar suara tingginya.
Steven membeku, bagaimana bisa mamanya lebih peduli pada alat make up itu dibanding dirinya sendiri.
"Ma," panggil Steven lirih.
Mona menoleh dan melihat sang anak yang wajahnya nampak pias. Seketika Mona baru sadar jika dia telah salah.
Buru-buru Mona bangkit dari duduknya dan menghampiri sang anak.
"Maafkan mama Steven, mama tidak bermaksud membentakmu. Mama hanya terkejut, lain kali, jangan berlari-lari seperti itu lagi ya?" pinta mama Mona pula. Dan Steven hanya bisa mengangguk.
Namun apa yang selama ini dia yakini, perlahan mulai memudar. ternyata Mama Mona sama saja seperti papa Reza, di antara mereka berdua tidak ada yang menginginkan dia.
Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
__ADS_1